
Bab 144
Supir yang melihat kericuhan yang ditimbulkan oleh Shania dan Aleena di jok belakang mobil pun jadi terganggu konsentrasinya. Berkali-kali dia melirik lewat kaca spion tengah apa yang sedang terjadi antara 3 orang remaja yang tersisa di mobilnya, yaitu Son, Shania, dan Aleena.
Sebenarnya supir ingin melerai pertengkaran antara Son dengan Aleena dan Shania. Tapi bukan pertengkaran juga karena Son hanya diam saja diserang dari arah kiri kanan oleh Aleena dan Shania. Tapi supir tidak melakukannya karena merasa kedua gadis yang duduk di samping kiri kanan Son hanya melampiaskan kekesalan saja. Bukan marah benaran.
"Kenapa diam saja?" tanya Aleena kurang puas karena Son tidak membalas serangannya. Dia seolah menerima saja pukulan-pukulan Aleena di lengannya.
Shania juga kesal. Walau dia tidak berkata apa-apa lagi setelah menjewer telinga dan mencubit lengan Son, namun dari raut wajahnya terlihat kesal. Entah kesal karena Son yang menimpa dadanya ataukah kesal karena tingkah laku Aleena.
Kedua gadis belia yang duduk di samping kiri kanan Son itu menatap Son dengan mata jengkel. Aleena seolah meminta pertanggungjawaban Son yang menginjak kakinya. Sedangkan Shania seolah meminta pertanggungjawaban Son yang menimpa dadanya
Son tak menjawab pertanyaan Aleena. Dia hanya mengatupkan bibir rapat-rapat seolah menahan supaya tidak sampai memarahi Aleena maupun Shania yang menyakiti dirinya.
"Iya, kenapa tidak melawan?" kali ini Shania ikut bicara. Dia seolah-olah setuju dengan pendapat Aleena untuk sama-sama menyudutkan Son yang telah membuat keduanya kesal.
Son tetap mengatupkan bibir. Dia tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan. Hanya menundukkan wajahnya yang kelihatan galau segalau hatinya.
Membalas serangan Aleena dan Shania? Jangan-jangan kedua gadis belia itu bakal terpental keluar dari pintu mobil jika Son mengerahkan tenaganya untuk membalas. Sedangkan dengan sedikit tenaga saja sudah cukup membuat mereka tersakiti karena tenaga Son sangat kuat. Dia memiliki energi yang besar untuk melakukan tindakan yang membutuhkan tenaga. Karena itulah Son berusaha menahan dirinya supaya tidak terpancing.
"Kalau orang memukulmu atau menyakitimu, balaslah," kata Aleena sambil tubuhnya yang duduk di jok belakang mobil menghadap Son.
Son mengernyitkan alis. Dia menoleh sekilas pada Aleena yang duduk di samping kirinya. Lalu menggeleng.
"Tidak usah," jawab Son.
"Kenapa tidak usah?" tanya Aleena lagi.
"Sebentar lagi kita sampai," kata Son mengalihkan pembicaraan.
Aleena melirik sekilas ke depan. Jalanan yang ditempuh supir sudah mengarah ke kompleks pervilaan yang dihuni Tom Simon bersama anaknya, Wilson Simon.
Dia menoleh kembali pada Son yang duduk di samping kanannya. "Jawab dulu pertanyaanku, Son," kata Aleena.
"Aku tak bisa melakukannya," kata Son. "Tak mungkin aku membalas memukulmu," Son menggeleng.
"Oh, begitukah?" tanya Aleena.
"Laki-laki sejati tidak memukul perempuan," kata Son lagi
"Oh... hebat kamu!" seru Aleena bernada menyindir. "Kupikir bukan karena kamu tidak mau membalas seranganku, Son. Melainkan karena kamu tak mau Shania melihatmu menyakiti perempuan. Padahal sebelumnya waktu di kafe malam tadi kamu menepis tanganku dengan kasar dan memarahiku waktu aku mengambil hp-mu dari saku celana ponggolmu. Kenapa sekarang diam saja? Karena ada Shania bukan? Padahal aku sudah memukulmu dengan keras dan bertubi-tubi," kata Aleena.
* * *