Substitute Mom

Substitute Mom
Kepergian Kathy



Bab 34


Tom, Kathy, dan Son sudah selesai makan malam. Ketiganya duduk sebentar sambil saling menatap sebelum akhirnya Kathy berkata, "Ayo, kita kembali ke kamar kita sekarang."


"Ayo, Kath," Tom bangkit dari kursinya diikuti Kathy dan Son. Mereka mencuci tangan di bak cuci piring dulu sebelum balik ke kamar.


Kathy menggandeng tangan Son berjalan meninggalkan ruang makan menuju ruang tamu lalu menuju tangga lebar yang melingkar.


Sesampainya di atas tangga, Kathy berkata pada Son. "Son, kamu kembali ke kamarmu sendiri ya, mama harus masuk ke kamar bersama papa. Esok lusa kamu harus jadi anak yang baik dan patuh. Ingat, kamu harus mendengar kata-kata dan nasihat papamu. Semua yang dikatakannya pasti untuk kebaikanmu."


Son menatap mamanya. Lalu beralih menatap papanya.


Tom juga balik menatap Son.


"Iya, Son?" ucap Kathy meminta jawaban Son ketika melihat anaknya diam saja.


Tatapan Son dan Tom masih beradu. Son menggigit bibir. Dia bisa merasakan kalau sejak kecil papanya dan mamanya selalu tak sesuai pendapatnya dan caranya dalam mendidik anak. Mamanya mendidik Son dengan cara lembut dan manja sedangkan papanya lebih ke cara keras dan tegas.


Tom menatap Son seperti mendelik karena Son belum juga menjawab.


"Son, jawablah. Jangan diam saja. Ini permintaan mama," kata Kathy.


Son mengalihkan tatapannya pada mamanya lalu mengangguk. "Iya, Ma."


Kathy pun tersenyum lega. "Ayo balik ke kamarmu, Sayang," kata Kathy.


Son segera membalikkan badan dan berjalan menuju kamarnya sendiri yang ada di bagian belakang dari lantai 2 villa. Sedangkan kamar Kathy dan Tom ada di bagian depan dari lantai 2.


"Ayo, Kath, kita kembali ke kamar," kata Tom pada Kathy saat melihat Son sudah masuk ke kamarnya sendiri.


"Ayo, Tom," Kathy mengikuti ajakan Tom masuk ke kamar sendiri.


"Aku mau tidur cepat," kata Kathy saat mereka sudah di dalam kamar.


"Iya, tidurlah, Kath. Aku bersandar di sampingmu sambil melihat-lihat hp," jawab Tom.


Karhy mengangguk. Dia berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri di situ.


Tom menyusulnya dan mengambil tempat di sampingnya tapi bukan dengan cara berbaring melainkan dengan cara bersandar pada sandaran ranjang.


"Aku tidur dulu ya, Tom," kata Kathy sambil menatap wajah Tom.yang bersandar di sandaran ranjang.


"Iya, tidurlah, Kath. Aku belum mau tidur karena masih jam 8," jawab Tom.


Kathy memejamkan mata. Tom melihatnya tidur telentang dengan selimut menyelimuti tubuhnya.


Sebelum Kathy terlelap, Tom menekuk pinggangnya ke bawah dan menundukkan wajahnya untuk mengecup kening Kathy. "Bobok yang nyenyak ya, Sayang," katanya.


Kathy membuka matanya sebentar dan tersenyum tipis. Lalu dia kembali memejamkan matanya dan terlelap.


Tom meliriik ke samping. Dilihatnya Kathy sudah terlelap ke alam mimpi dengan dada bergerak teratur naik turun. Dia bernafas dengan normal dan tenang. Wajahnya tampak lembut dan damai.


Tom pun meletakkan hp-nya ke atas meja kecil yang ada di samping ranjang. Dia menurunkan punggungnya hingga menyentuh atas ranjang. Sekarang dia dalam posisi berbaring di samping Kathy.


Tom menarik selimutnya menutupi hingga bagian dadanya seperti Kathy. Lalu dia menguap dan mulai memejamkan mata juga di tengah-tengah dingin dan sejuknya embusan AC dalam kamar.


Jam dinding terus berdetak dalam ruang kamar Tom dan Kathy. Suami istri itu tidur terlelap dibuai mimpi-mimpi. Kelelahan seharian terpancar lewat helaan nafas yang terdengar lembut dan tenang bersama mata yang terpejam.


Malam itu waktu berlalu tanpa suara apapun kecuali suara helaan nafas Tom dan Kathy di kamar utama. Juga suara helaan nafas Elen, Jessica, dan Son di kamar masing-masing.


Demikianlah hingga pagi menjelang dan matahari terbit dengan sinarnya yang lembut menerobos lewat tirai jendela mengenai ranjang yang ditiduri Tom dan Kathy.


Tom membuka matanya. Dia baru terjaga dari mimpi. Dia mimpi menuruni tangga bersama Kathy lalu menggandeng tangan Kathy melewati sebuah titi. Di bawah titi itu adalah selokan dengan air. Setelah dia mengantarkan Kathy ke seberang titi, Tom berbalik kembali ke tempat semula dan terbangun.


Tom melihat jam dinding yang tergantung di depannya, yaitu di dinding yang di seberang dari ranjangnya. Pukul 06.15 pagi. Tom menguap dan menoleh ke samping.


Kathy belum bangun. Tumben, jam segini Kathy belum bangun. Biasanya dia bangun lebih cepat daripada Tom. Sekitar pukul 05.45 pagi. Ini sudah telat setengah jam, pikir Tom.


Tom bangkit dari baringnya hingga berada dalam posisi duduk menyamping sedikit menghadap Kathy. Diperhatikannya wajah Kathy yang tenang dan damai. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Kathy ikut terbangun juga bersama Tom. Dia masih tidur dengan lelap. Apakah dia sangat lelah? pikir Tom.


Tom memperhatikan Kathy. Hatinya berdesir. Srrr... ada yang aneh dari raut wajah Kathy. Begitu juga dengan dadanya. Tom bergidik. Dia memperhatikan wajah Kathy dengan lebih teliti.


Kathy tidur diam tapi bukan tidur diam yang biasa melainkan tidur diam yang sangat diam. Tidak ada suara helaan nafas terdengar dari hidungnya. Tidak ada gerakan dada naik turun yang menandakan paru-paru mengambil dan membuang nafas. Kathy benar-benar diam tanpa suara helaan nafas dan gerakan apapun dari anggota tubuhnya.


Kepala.Tom tiba-tiba pusing. Jantungnya berdetak keras. Dia merasa ada ribuan godam yang tiba-tiba menghantam dirinya. Tengkuknya terasa dingin.


"Kath...," dia mencoba menyentuh lengan Kathy. "Kath, bangun, Kath," katanya lalu menggoyang-goyangkan lengan Kathy.


Kathy tak bergerak.


Tom menggoyang-goyangkannya lagi. "Kath, bangun, Kath! Kath! Bangun! Sudah pagi!" panggilnya.


Tapi Kathy sama sekali tak bereaksi. Apalagi bergerak dan bangun dari tidurnya. Bagaimanapun Tom menggoyang-goyangkan tangan dan tubuhnya atau menepuk-nepuk wajahnya tidak berhasil membuat Kathy terbangun dari tidur panjangnya.


Tom bukan saja kaget dan takut hingga keringat dingin mengucur di tubuhnya. Namun dia juga frustasi dan putus asa saat dia tak merasakan denyut nadi dan detak jantung Kathy lagi lewat rabaan tangan di urat nadi dan pendengaran telinga di dada kiri.


Tom berteriak sekuat-kuatnya, "Kathy...! Kathy...!" seperti orang yang lagi histeris hingga suaranya membahana sampai ke seluruh ruang kamar dan ke seluruh ruangan dalam villa. Terutama ke dalam kamar Son yang baru bangun dari tidur dan ke ruang tamu di mana Elen sedang membukakan pintu untuk para pelayan rumah yang datang. Juga ke kamar Jessica yang baru selesai mandi.


Dengan rasa kaget, ketiganya segera memburu ke kamar Tom yang sedang berteriak histeris. Dan saat mereka sampai, mereka melihat Tom sedang memeluk tubuh Kathy dalam tangis panjang yang berderai.


Elen terpana. Jessica ternganga. Son terdiam.


Kathy telah pergi. Untuk selamanya.


* * * TAMAT SEASON 1 ***


Sampai di sini kisah Son kecil di season 1. Selanjutnya di season 2 kisah Son remaja (SMP/SMA) di mana Son akan bertemu dengan 2 tokoh baru, yaitu: Shania dan Rose.