
Bab 51
Setelah duduk-duduk di tepi kolam sambil berbincang-bincang, Elen dan Son beranjak menuju ayunan yang ada di taman. Mereka duduk di ayunan dengan posisi saling berhadapan. Ayunan besar itu bisa memuat 8 orang. Son sering menaikinya saat menikmati angin sore yang berembus bersama matahari senja yang tenggelam.
"Sebentar lagi papamu pulang," kata Elen.
"Iya," jawab Son.
Sudah hampirĀ 1 jam dari saat Son bangun tidur. Berarti sekarang sudah pukul 5 sore lewat.
Elen sering meluangkan waktunya untuk menemani Son saat Son ada di rumah. Sekadar bertanya mengenai kegiatan di sekolah hari itu atau berbincang-bincang mengenai hal lain.
Elen tahu, sebagai remaja yang mulai tumbuh, Son butuh perhatian lebih. Tidak cukup kebutuhan fisikal saja yang harus dipenuhi, melainkan juga kebutuhan batiniah. Tidak cukup pemberian segala sesuatu yang berbentuk materi, tapi juga berupa perhatian, kasih sayang, waktu, hiburan, dan obrolan/komunikasi.
Son adalah orang kedua yang paling disayangi Elen setelah Tom. Di usianya yang sudah makin matang, Elen masih memilih untuk tetap tinggal di rumah Tom yang sudah ditempatinya selama 20 tahun lebih.
Elen dan Son hanya belasan menit duduk di ayunan saat Tom pulang dari kantor.
Tukang kebun membukakan pintu gerbang untuk mobil Tom yang meluncur masuk. Mobil itu melewati ayunan di taman sebelum berhenti dan parkir di halaman.
"Papamu pulang," kata Elen. "Ayo kita temui papamu," Elen bangkit dari duduknya di kursi ayunan yang terbuat dari besi.
Son juga bangkit dari duduknya dan turun dari ayunan. Dia mengikuti langkah kaki Elen yang berjalan cepat menghampiri Tom.
Tom yang barusan keluar dan menutup pintu mobil menoleh ke arah Elen dan Son yang berjalan menghampirinya.
"Sudah pulang, Tom," kata Elen.
"Iya," Tom mengangguk.
"Mau kubawakan tasmu?" tanya Elen sambil melirik tas kerja yang lumayan berat sedang dipegang Tom.
Tas itu berisi berkas-berkas kantor yang ikut dibawa pulang Tom ke rumah. Maksud Tom, akan dilihatnya kembali saat malam menjelang tidur.
"Tidak usah, Elen," jawab Tom sambil melirik Son. Dilihatnya Son sedang berdiri di samping Elen sambil menatapnya dengan ekspresi datar.
"Sini, Son," kata Tom. Diangkatnya tas kerjanya yang lumayan berat itu seperti sedang memberi isyarat kepada Son.
Tom memberi isyarat kepada Son untuk membantunya. Dia mengajari Son untuk tidak berpangku tangan saja saat melihat orangtua tengah memikul beban berat.
Elen yang mengerti isyarat Tom segera menepuk pundak Son 2 kali dan menunjuk dengan wajahnya saat Son menoleh kepadanya.
"Kenapa kamu ajari, Elen? Dia harusnya mengerti sendiri isyarat yang kuberikan," kata Tom.
"Iya, Tom," jawab Elen.
Tom pun berbalik ke arah pintu masuk dan berjalan memasuki villa.
"Ikut papamu," bisik Elen di samping Son. "Bawa tasnya sampai ke kamar papamu dan taruh dengan benar di atas meja kerja."
Son mengangguk.
Mereka berdua berjalan di belakang Tom yang berhenti sebentar membuka sepatunya sebelum melangkah mendekati tangga.
Son mengikut di belakang Tom sedangkan Elen meneruskan langkahnya ke ruang dapur untuk melihat hasil masakan makan malam untuk penghuni rumah yang barusan siap dimasak tukang masak.
Tom dan Son sampai di depan kamar Tom di lantai 2. Tom membuka dan menguakkan pintunya supaya dia dan Son bisa masuk ke dalam.
Tom berjalan mendekati meja kerjanya dan duduk di kursi yang ada di situ, sementara Son menaruh tas kerja Tom yang sedang dipegangnya ke atas meja.
Son berbalik dengan maksud hendak meninggalkan kamar Tom tapi Tom segera mencegahnya.
"Kenapa buru-buru pergi, Son? Sini dulu!" seru Tom.
Son pun batal pergi dan berbalik kembali ke arah Tom. Dia berdiri di samping kursi yang diduduki Tom seperti sedang menunggu perintah.
"Ambilkan baju kaos dan celana ponggol papa di lemari. Papa mau mandi," kata Tom.
Mendapat perintah seperti itu, Son pun segera mendekati lemari baju besar yang ada di samping meja kerja Tom dan membukanya.
Di sana banyak baju Tom baik yang berbentuk kaos, kemeja, jas, juga celana ponggol, celana jeans, dan celana panjang. Lalu ada juga piyama atau baju tidur yang sering dikenakan Tom saat Kathy masih hidup.
Sesuai perintah papanya, Son pun mengeluarkan baju kaos dan celana ponggol. Dia tak tahu papanya mau pakai yang mana, karena itu dia mengambil baju kaos dan celana ponggol yang paling sesuai feeling-nya saja. Semoga ini yang dikehendaki papa, bisik hati Son.
"Ini, Pa," kata Son setelah mengambil 1 stel pakaian rumah untuk Tom.
"Taruh di ranjang," kata Tom.
Son melakukan apa yang disuruh papanya. Setelah itu dia berbalik kembali menghampiri Tom.
"Lain kali, hal-hal seperti ini kamu yang melakukannya untuk papa, Son. Setelah mamamu tiada, seharusnya bukan Elen yang melakukan ini untuk papa, tapi kamu sebagai anak," kritik Tom sambil menatap tajam Son.
Son menunduk. Dia merasa, papanya mungkin sedang kesal karena tadi dia lupa memberi tahu papanya kalau sudah sampai di rumah bahkan ponselnya pun tidak aktif.
Tom tidak mengungkit itu lagi karena Elen sudah berusaha membela Son. Namun inilah yang dilakukan Tom pada Son sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
* * *