Substitute Mom

Substitute Mom
Kathy dan Son di Kamar



Bab 31


Langkah Tom sampai di depan kamar utama. Dia segera membuka pintu kamar dan menguakkannya namun Kathy tak ada di dalam. Oh, apakah dia ada di kamar Son? pikir Tom.


Tom pun berbalik dan berjalan menuju kamar Son yang terletak di bagian belakang dari lantai 2. Kamar Son berada di samping kamar Elen dan di seberang kamar Jessica.


Begitu langkahnya sampai, Tom segera menguakkan pintu dan masuk ke dalam. Kathy memang ada di dalam. Dia sedang duduk di tepi ranjang menunggui Son yang sedang mandi.


"Kath!" Tom segera berseru saat melihat Kathy. Dengan tergesa Tom berjalan mendekati istrinya itu yang menyambut kehadirannya dengan pandangan mata sayu.


"Tom, kamu sudah pulang," kata Kathy.


"Iya. Kamu tak apa-apa, Kath? Kudengar dari Elen kamu tadi kurang enak badan sewaktu di pantai. Iyakah? Sekarang gimana keadaanmu?" berondong Tom cemas.


Tom duduk di samping Kathy di tepi ranjang. Tangannya terangkat menyentuh dahi Kathy untuk merasakan apakah istrinya itu memang demam. Dan ternyata memang agak hangat.


"Kamu kenapa, Kath? Demammu belum sembuhkah? Kamu belum makan obat lagi? Atau kubawa kamu ke dokter sekarang?" Tom benar-benar khawatir melihat wajah istrinya yang pucat dan matanya yang lelah. Dia bisa melihat tubuh Kathy dalam keadaan lemah tak bertenaga. Sepertinya Kathy terlalu memforsir dirinya selama 2 minggu ini semenjak Son libur sekolah.


Kathy menggeleng. "Nggak apa-apa, Tom. Aku akan baik-baik saja setelah tidur nanti. Aku cuma kurang istirahat."


"Oh, jadi kenapa kamu masih di sini? Pergilah ke kamar kita dan istirahat sekarang. Tidur yang cukup dan besok jangan ke mana-mana lagi supaya kesehatanmu lekas pulih," kata Tom.


"Iya, sebentar lagi, Tom," jawab Kathy. "Aku tunggu Son selesai mandi dulu. Aku masih ingin melihatnya sebentar."


"Kenapa?" tanya Tom. "Dia sudah besar. Umurnya sudah 8 tahun. Sudah kelas III SD. Kamu tidak harus terus mengkhawatirkannya."


"Iya, justru gara-gara aku kurang memperhatikannya selama beberapa tahun ini makanya dia jadi begitu. Selalu diam dan tak mau banyak bicara. Padahal anak-anak yang lain bermain dengan riang gembira dan bicara tiada henti dengan teman-teman mereka," kata Kathy dengan wajah tak berdaya.


"Itu karena memang sifatnya, Kath. Kamu jangan terlalu khawatir. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Itu bukan sesuatu yang aneh karena ada sebagian anak juga yang memiliki sifat pendiam seperti anak kita. Itu namanya introvert," jelas Tom.


Kathy menggeleng. "Bukan itu maksudku, Tom. Tidak masalah jika dia memiliki sifat intovert. Cuma karena diamnya itu aku jadi merasa bersalah. Aku jadi merasa gagal menjadi ibu yang baik baginya karena sama sekali tidak tahu apa yang diinginkannya. Tidak tahu apa yang dipikirkannya. Bukankah itu sangat menyedihkan, Tom? Sebagai seorang ibu tapi tak tahu apa yang dipikirkan anaknya? Ibu yang tidak mengerti. Ibu yang tidak memahami. Ibu yang..."


"Sudahlah, Kath. Sudah, jangan kauteruskan," potong Tom. "Kamu sudah lelah. Jangan banyak bicara. Ayolah, sekarang balik ke kamar kita untuk tidur. Biarkan Son mengurus dirinya sendiri."


Tom merasa kecewa. Dia bangkit dari duduknya dan menatap Kathy dengan sorot mata lelah. "Kalau begitu, kamu tunggu dia selesai mandi. Aku mau mandi juga," katanya lalu berbalik dan berjalan meninggalkan kamar.


Tinggallah Kathy sendirian menunggui Son selesai mandi.


Lima menit kemudian Son keluar dari kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia sudah berpakaian baju kaos dan celana ponggol selutut. Pakaiannya yang tadi dari pantai terkena air laut dan pasir putih sudah ditaruhnya di ember untuk dikumpulkan dan dicuci oleh pelayan rumah keesokan paginya.


Son berjalan mendekati mamanya. Dia menatap Kathy dengan sorot mata polos namun heran karena mamanya masih menungguinya di kamar. Dikiranya mamanya setelah mengambilkannya satu stel pakaian bersih maka akan keluar dari kamar dan beristirahat di kamarnya sendiri. Ternyata masih ada dan duduk di tepi ranjang.


Langkah Son sudah sampai di depan Kathy Dia menatap mamanya tanpa berkata apa-apa. Hanya berdiri tepekur seperti tak tahu harus berkata apa.


Kathy yang berkata padanya. "Sudah selesai mandi, Sayang? Rambutmu masih basah. Sini, mama bantu keringkan," katanya lalu bangkit dari duduknya dan meraih handuk Son yang melilit di lehernya. Memang rambut Son sudah dilap sendiri oleh Son dengan handuk itu tadi, namun masih terlihat tetes-tetes air berjatuhan dari bagian dahi dan pelipis.


Kathy melap tetes-tetes air yang berjatuhan di permukaan wajah Son dengan handuk di tangannya. Dia juga mengeringkan rambut Son dengan melapnya berulang kali. Setelah dirasanya sudah cukup kering, Kathy pun menghentikan gerakannya dan menaruh handuk itu ke atas ranjang.


"Mama akan menyisiri rambutmu, Son," kata Kathy lalu mengambil sisir yang ada di atas meja bercermin yang terletak di dekat lemari baju. Digunakannya sisir itu menyisiri rambut Son dan membuat poni panjangnya ke belakang. Setelah dirasanya sudah rapi, diletakkannya kembali sisir itu di tempatnya semula.


"Sini, Son," Kathy meraih pergelangan tangan Son dan menuntunnya duduk di tepi ranjang. "Mama ingin memperhatikan wajahmu lebih lekat, Sayang."


Kathy duduk menyamping memandang wajah Son yang juga tengah menatapnya.


"Ganteng sekali anak mama," kata Kathy sambil tersenyum puas.


Di usianya yang masih 8 tahun memang sudah nampak kelebihan yang dimiliki Son. Wajahnya sangat tampan seperti lukisan yang tegas. Bentuk wajahnya lebar dengan rahang yang tegas dan dagu yang tegas juga. Alis matanya tebal dan pekat, hidungnya sangat mancung dan indah, matanya meskipun menyorotkan tatapan yang dingin namun mampu menghangatkan hati orang. Son juga memiliki lesung pipi dan gigi gingsul yang akan nampak saat dia tersenyum atau tertawa.


Dengan semua kelebihan yang dimiliki putra semata wayangnya itu, Kathy merasa bangga. Dia juga sangat bahagia bisa melahirkan Son ke dunia dan menjadi ibunya. Rasanya tak ada lagi yang kurang dari hidupnya ini karena selain memiliki suami yang sangat menyayanginya yang selalu mengalah untuknya, dia juga memiliki anak yang sangat tampan yang kelak pasti akan menjadi incaran cewek-cewek.


"Mama sudah sembuhkah?" tanya Son sambil menatap Kathy yang terus memandangnya sedari tadi.


"Iya, Sayang," Kathy tersenyum. Pertanyaan Son itu terasa sangat menghangatkan hatinya. Tak disangkanya putranya yang pendiam dan sehari-harinya sangat dingin itu bisa mengajukan pertanyaan yang menghangatkan hati juga. Menunjukkan kalau diamnya bukan berarti tak peduli. Orang diam itu juga peduli bahkan rasa pedulinya bisa lebih besar cuma mereka tak biasa menunjukkannya lewat kata-kata.


* * *