
Bab 84
"Okelah, kalau begitu kita boleh pulang sekarang karena latihan drama kita kan sudah selesai?" tanya Cyntia.
"Iya, kita boleh pulang sekarang, Shan?" tanya Winy.
Joseph, Winy, dan Cyntia melirik Shania.
"Mmm...," Shania tampak agak ragu menjawab. "Tunggu sebentar. Supir om-ku tadi balik sebentar ke tempat lain karena dipesan om-ku," alasan Shania.
"Oh..., ke mana dia?" tanya Winy.
"Ke rumah temannya om-ku mengambil sesuatu," jawab Shania. "Tunggu sebentar lagi ya. Kalian kan tidak ada rencana ke mana-mana setelah ini?" Shania balik bertanya.
"Iya, tidak sih," jawab Winy. "Waktuku bebas. Biasanya cuma tidur siang doang sepulang sekolah sehabis makan dan mandi."
"Iya, aku juga," jawab Cyntia. "Biasanya cuma mengerjakan PR sekolah setelah siap makan dan mandi. Lalu tidur siang juga. Makanya sekarang agak ngantuk karena ini jam tidur siangku."
"Aku sih nggak tidur siang," jawab Joseph. "Biasanya sehabis makan dan mandi aku nonton televisi sampai sore atau lihat hp."
"Emang kamu masih menonton televisi, Seph?" tanya Winy bernada tak percaya.
"Iya, emangnya kenapa?" jawab Joseph sambil balik bertanya.
"Ya... nggak kenapa-kenapa juga. Cuma kupikir sekarang sudah jarang orang nonton TV karena kan sudah ada internet di hp yang jauh lebih lengkap dan lebih cepat," kata Winy.
"Betul!" timpuk Cyntia. "TV di rumahku saja pun entah sudah berapa lama nganggur. Kurasa sebulan cuma dihidupkan sekali doang supaya nggak rusak. Mana mau lagi orang nonton TV. Semua berita yang aktual langsung bisa muncul di internet dalam sekejap. Lalu semua film yang ingin kita tonton juga bisa muncul dalam sekejap di hp. Tinggal search saja. Nggak perlu menyesuaikan waktu kita dengan acara TV. Tapi sebaliknya, begitu ada waktu kita yang buka berita dan filmnya. Gampang sekali."
"Mungkin karena Joseph sejak kecil sudah suka nonton TV, " kali ini Shania ikut bicara.
"Iya, betul!" jawab Joseph sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot. "Eh... aku masih suka nonton Naruto dan Spongebob sampai sekarang," Joseph membocorkan rahasianya.
"Hahaha," Winy dan Cyntia pun tertawa.
Tapi Shania tidak. "Apa yang lucu?" tanya Shania seperti merasa keberatan Joseph ditertawakan Winy dan Cyntia gara-gara masih suka nonton Naruto dan Spongebob padahal mereka sudah SMA.
"Iya luculah, itu kan film anak-anak," jawab Cyntia. "Adikku yang SD yang masih suka nonton Naruto dan Spongebob. Kita sudah SMA. Nanti diketawain orang masih nonton film anak-anak."
"Lha, itu bukan film khusus untuk anak-anak doang," Shania tak mau kalah. "Tetangga om-ku saja anaknya sudah mahasiswa tapi masih suka nonton Naruto. Anak om-ku juga sudah kelas III SMP tapi masih sering nonton Spongebob dan Doraemon."
"Hahaha... Ups!" Winy ketawa lagi. Tapi kali ini dia buru-buru menutup mulutnya.
"Ya jangan ketawain lagilah kalau begitu," sindir Cyntia pura-pura merasa bersalah. "Kupikir anak cowok yang sudah dewasa itu sukanya nonton film cinta yang romantis. Kayak Wilson barangkali suka nonton film cinta yang ada adegan kiss-kiss-nya," seloroh Cyntia tanpa berani menatap Son.
Shania memberikan reaksi yang agak kaget karena tak menyangka Cyntia akan berani melemparkan gurauan yang agak sensitif pada Son yang pendiam dan dingin. Bisa-bisa Son tersinggung dan marah. Son bukan orang yang bisa diajak bercanda sesuka hati. Perasaannya sangat sensitif. Shania tahu itu karena itu Shania pun spontan melirik Son untuk mengetahui bagaimana reaksinya.
Son berdiri tegak di tempatnya. Ekspresinya tidak berubah sama sekali. Masih seperti tadi. Hening, dingin, dan tenang.
"Ehm... ehm... Kurasa kamu yang suka itu, Cyn," sindir Shania balik untuk membela Son.
Entah kenapa Son seperti terus disindir dan dicandain padahal dia hanya diam tidak berbuat apa-apa dan tidak salah. Mungkin karena Winy dan Cyntia gemas melihat Son yang tampak begitu diam dan hening bahkan mampu tetap tenang walau sudah disindir atau dicandain. Ekspresi wajah Son yang dingin dan misterius itu membuat mereka penasaran sebenarnya apa yang ada di pikiran dan hati Son.
* * *