
Bab 28
Mendengar suara percakapan antara Elen dan Jessica membuat Kathy lamat-lamat membuka matanya. Dia melihat Elen, Jessica, dan Son ada di dekatnya. Mereka sedang duduk di atas tikar di dalam pondok dan bercakap-cakap.
"Bu Kathy sudah bangun," kata Jessica yang pertama kali menyadari Kathy membuka matanya dan menatap mereka.
"Ups," Elen segera mengalihkan perhatiannya pada Kathy.
Begitu juga Son. Dia memperhatikan mamanya dengan tatapan penuh selidik. Sebenarnya apa yang terjadi pada mamaku? pikirnya.
"Kamu sudah bangun, Kath?" Elen mengamati wajah Kathy yang tampak pucat.
Kathy mengangguk. Matanya memandang sayu pada Son yang sedang menatapnya.
Sebenarnya banyak yang ingin dia katakan pada putra tunggalnya itu tapi anaknya itu tidak suka bicara panjang lebar. Kathy tak mau Son tak membalas omongannya sampai dia merasa sia-sia. Padahal saat ini dia merasa kondisi tubuhnya sedang lemah dan tak bisa menghabiskan banyak energi untuk bicara banyak-banyak.
"Gimana, Bu Kathy? Sudah merasa baikan?" tanya Jessica. Dia memperhatikan wajah Kathy dengan teliti, mencoba menduga-duga kondisi terkini majikannya tersebut.
"Iya," jawab Kathy pendek. Matanya masih memandang sayu pada Son. Lalu dia beralih menatap Elen. "Son sudah makan?" tanyanya.
Elen menggeleng. "Belum, Kath. Kami barusan dari tepi pantai bermain-main pasir dan air," dialihkan pandangannya pada Son. "Son, kamu sudah lapar?" tanyanya.
Son mengangguk. "Iya. Sedikit."
"Oh, kalian pergilah makan di rumah makan yang di ujung. Sama Jessica. Masih ada sisa uang bisa untuk makan bertiga," kata Kathy dengan suara serak.
"Kamu sudah baikan, Kath?" Elen memperhatikan wajah Kathy. Walaupun Kathy tidak lagi meriang, menggigil, atau berkeringat dingin, namun wajah dan bibirnya terlihat pucat.
"Usah khawatirkan aku. Kalian pergi makan saja. Jes, kamu bawa mereka ke rumah makan yang tadi kamu beli nasi untukku. Son sudah lapar. Pergilah bawa dia makan," Kathy meminta pada Jessica dengan sungguh-sungguh.
Sepertinya, walaupun kondisi dirinya sendiri masih lemah namun Kathy tak melupakan kepentingan Son. Dia tak mau Son menahan lapar karena terlambat makan atau karena mereka mengkhawatirkan dirinya yang sedang tidak enak badan.
"Jadi Bu Kathy kami tinggal di sini?" tanya Jessica.
Kathy mengangguk. "Iya, pergilah."
Jessica pun beralih menatap Son. "Ayo, Son. Kita pergi makan," kata Jessica sambil meraih tangan Son.
Son membiarkan tangannya digandeng Jessica. Walaupun perutnya sudah lapar sedari tadi, namun dia masih enggan meninggalkan mamanya sendirian di pondok. Apalagi melihat wajah mamanya yang pucat dan mendengar suaranya yang serak. Walaupun masih anak-anak berusia 8 tahun, Son sudah mengerti kalau mamanya sedang tidak enak badan. Lihatlah, tubuhnya saja terlihat tak bertenaga sampai berbaring saja terus.
Mendengar pertanyaan Son yang biasanya enggan bicara banyak itu membuat Kathy terharu. Dia tersenyum tulus dan ikhlas sebagai jawaban atas pertanyaan anak yang sangat disayanginya itu. "Usah khawatir, Son. Mama baik-baik saja. Kamu pergilah makan bersama Jessica dan Elen ya," pinta Kathy.
"Mama sudah makan?" tanya Son lagi.
"Sudah, Sayang," Kathy tersenyum lagi.
"Ayo, Son, kita pergi makan. Mamamu biarkan di sini. Dia masih butuh istirahat," kali ini Elen yang mengajak Son sambil menggandeng tangannya yang satu lagi.
Karena tangannya kiri kanan sudah digandeng
Elen dan Jessica, Son pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari pondok bersama Elen dan Jessica.
Mereka bertiga berjalan bergandengan tangan menuju rumah makan yang tadi Jessica membelikan nasi untuk Kathy.
Sementara Elen, Jessica, dan Son pergi ke rumah makan untuk makan siang, Kathy berbaring sendirian di atas tikar di dalam pondok.
Kathy merasa lebih baikan setelah minum obat yang disodorkan Jessica tadi. Dia tidak tahu kalau obat yang dimakannya tadi sebenarnya bukanlah obat demam melainkan obat alerginya Elen. Tapi anehnya, Kathy merasa lebih baik kini walaupun salah minum obat. Dia tidak lagi demam, meriang, menggigil, dan berkeringat dingin walaupun tubuhnya masih lemah karena kondisinya yang sempat serius.
Semoga saja kondisi tubuhku bisa segera pulih supaya aku bisa menyetir mobil membawa Elen, Jessica, dan Son sampai di rumah dalam keadaan selamat. Kalau tidak, siapa yang akan membawa mereka pulang? batin Kathy.
Kathy merasa berkewajiban membawa ketiganya pulang kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja seperti tadi saat dia membawa mereka ke pantai ini. Dia merasa bertanggung jawab karena dialah yang mengajak mereka ke pantai hari ini. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan mereka gara-gara kondisi tubuhnya yang kurang fit untuk menyetir. Tidak bisa pun harus diusahakan sampai bisa, tekad Kathy dalam hati.
Elen, Jessica, dan Son sudah sampai di rumah makan yang terletak di ujung dari deretan pondok-pondok yang dilalui mereka saat berjalan kaki dari pondok yang mereka tempati ke situ.
Suasana rumah makan tersebut tidak begitu ramai karena bukan hari Minggu atau hari libur. Pastinya di hari Minggu atau hari libur akan sangat ramai pengunjung yang ingin makan di situ setelah bermain-main di pantai. Walau siang ini ada juga puluhan pengunjung namun tidak sampai menyesaki rumah makan yang sangat luas itu yang cukup untuk seratusan pengunjung.
"Kita duduk di sana saja," kata Elen sambil menunjuk satu meja kosong.
Ketiganya segera berjalan ke meja itu dan duduk di atas kursi.
"Entar aku pesan nasi dan lauk dulu di sana," kata Jessica sambil menunjuk ke satu arah. "Kalian tunggu di sini."
Elen dan Son mengangguk sambil melihati kepergian Jessica ke satu arah. Di situ terlihat beberapa pegawai rumah makan sibuk mencatat pesanan pengunjung dengan tak lupa menuliskan nomor meja mereka. Lalu ada juga pegawai yang mondar-mandir membawa nampan berisi piring dan gelas. Tentu saja di atas piring dan gelas itu adalah nasi, lauk, dan minuman pesanan para pengunjung. Koki atau tukang masak ada di bagian dalam atau di dapur dari rumah makan itu. Sedangkan kasir duduk di dekat para pencatat pesanan pengunjung yang bersiap-siap di hadapan pengunjung yang berjalan ke arah mereka.
Elen dan Son mengalihkan perhatian ke sekeliling rumah makan. Dinding rumah makan itu adalah pemandangan alam yaitu laut lepas, pasir puih, tepi pantai, dan langit biru dengan awan menggantung. Maksudnya, dindingnya hanya setengah atau setinggi perut orang dewasa, sedangkan sebagiannya lagi tidak tertutupi sehingga bisa melihat ke luar rumah makan dan menikmati angin laut yang berembus mendinginkan suasana dalam ruangan.
* * *