
Bab 129
Ponsel Son berbunyi saat dia sedang berjalan bersama Shania di sisinya. Dengan segera Son pun menghentikan langkahnya dan berkata pada Shania, "Tunggu sebentar, Shan. Ponselku berbunyi."
Shania menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke samping, melihat pada Son yang merogoh saku celana ponggolnya.
Shania menunggu dengan sabar saat Son mengeluarkan ponselnya dan melihat panggilan masuk yang tertera di layar ponsel. Ups! Dari Aleena, pekik hati Son.
Dengan spontan Son pun menjawab panggilan masuk itu. Dia lupa kalau barusan tadi dia bersitegang dengan Shania gara-gara memperdebatkan Aleena yang mana Shania hendak membiarkan Aleena pulang sendiri naik taxol sedangkan Son menolak.
Son sudah tahu Shania tak suka pada Aleena. Dan telepon dari Aleena ini sudah pasti akan menyulut kembali api cemburu di dada Shania yang barusan mereda setelah Son meyakinkannya kalau Son juga akan memperlakukan Shania seperti dia memperlakukan Aleena jika Shania berada dalam posisi seperti itu. Karena keselamatan manusia lebih penting daripada rasa marah dan rasa cemburu. Begitu kata Son.
Sekejap Son melupakan Shania yang sedang berdiri di sampingnya saat dia menjawab telepon dari Aleena.
"Iya, Aleena?" jawab Son.
"Halo, Son!" sapa Aleena langsung begitu dia mendengar suara Son. "Kamu di mana?"
"Di... di...," Son melihat sekeliling. Setelah itu dia menjawab, "Di sini."
"Iya, di sini itu di mana? Aku mencarimu ke mana-mana tapi nggak ketemu. Kalian sembunyi di mana, Son? Di toilet ya?" sekak Aleena.
Hati Son berdebar. Seketika dia teringat kejadian di luar toilet kafe bersama Aleena malam tadi. Gara-gara Aleena menyebut kata "toilet" Son jadi teringat saat dirinya terpaksa mendekap Aleena yang hampir terjatuh saat menubruknya karena tergesa-gesa keluar dari toilet wanita yang katanya ada hantu.
Son tersadar kalau Shania ada di sampingnya. Seketika Son pun melirik Shania yang berdiri menunggunya sambil menatapnya dengan rasa was-was.
Shania merasa tak tenang saat tahu yang menelepon Son saat ini adalah (lagi-lagi) Aleena.
"Kami segera balik ke sana, Aleena. Sudah dulu," kata Son dengan suara tertahan.
"Hei...! Son...! Tunggu dulu!" secepat kilat Aleena mencegah Son yang hendak menutup percakapan dengannya.
"Kenapa lagi, Aleena? Kami segera balik ke sana sekarang," kata Son buru-buru. Dia merasa tak nyaman berbicara panjang lebar dengan Aleena saat Shania sedang ada di sampingnya.
"Aku mau menyusulmu ke sana. Aku tak puas karena sedari tadi mencarimu ke mana-mana tapi nggak ketemu.. Aku curiga kamu dan Shania pasti berondok di toilet ya? Karena aku lupa mencari kalian ke toilet," tebak Aleena setengah menuduh.
"Ada-ada saja kamu, Aleena!" Son berteriak kecil. "Kami nggak ke mana-mana. Hanya berdiri di dekat tembok mal saja. Sekarang kami mau balik ke tempat yang tadi. Sudah dulu, Aleena," kata Son.
Tanpa menunggu persetujuan Aleena, Son pun memutus panggilan dari Aleena. Setelah itu dia buru-buru menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana ponggolnya. Semoga saja Aleena tidak meneleponnya lagi, harap hati Son.
"Ayo, Shan. Kita balik ke tempat yang tadi," ajak Son sambil melihat Shania. Kepalanya bergerak menunjuk arah yang dimaksud.
Shania menggigit bibir. Sebenarnya dia hendak melampiaskan kekesalannya lagi tapi nggak jadi karena Son buru-buru mengajaknya meninggalkan tempat itu.
* * *