
Bab 136
Sementara itu Son mulai mencari Aleena di sekeliling mal sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa kali dia menaiki tangga eskalator hingga akhirnya dia berjalan mendekati sebuah arena permainan anak-anak di mana saat itu Aleena baru saja keluar dari sana sambil melongok-longokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Kebetulan saat itu Son juga sedang melongok-longokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan walaupun langkahnya menuju tempat tersebut.
Karena itu, mereka berdua pun bertubrukan tanpa sengaja hingga Aleena hampir terpeleset jatuh dan di saat yang bersamaan Son spontan memegang lengan kanan Aleena dengan tangan kirinya hingga Aleena pun tak jadi terpeleset.
"Aduuuh...!" Aleena menjerit kecil karena cengkeraman tangan Son di lengan kanannya terasa berlebihan atau cukup kuat untuk lengannya yang kecil hingga Aleena pun menjerit kesakitan.
Saat itu juga Son tersadar kalau dia telah menemukan orang yang dicarinya di mal tersebut setelah mendengar suara orang itu yang dikenalnya sebagai suara Aleena.
"Aleena...!" serunya spontan. "Akhirnya aku menemukanmu, Aleena!" seru Son. Itu mirip judul lagunya Naff.
"Aduh! Lepaskan cengkeramanmu! Sakit, tahu!" seru Aleena balik. Walaupun di antara setengah sadar karena pandangan matanya yang nanar/berkunang-kunang akibat tubrukan yang cukup kuat.
"Aleena!" seru Son lagi untuk mengatasi rasa gugupnya karena 3 hal terjadi sekaligus. Tubrukan tak sengaja dengan Aleena, dirinya yang bereaksi spontan mencengkeram kuat lengan Aleena, dan Aleena yang menjerit kecil lalu berseru pada Son untuk melepaskan cengkeramannya.
Son pun melepaskan cengkeramannya pada lengan Aleena setelah melihat wajah orang di depannya yang hampir terjatuh yang berhasil diselamatkannya.
"Iya! Iya! Iya!" jawab Aleena keras. "Ini aku, Aleena!"
Setelah berkata begitu, Aleena mengangkat kepalanya atau memindahkan perhatiannya dari lengannya yang terasa sakit karena dicengkeram Son kepada orang yang barusan melepaskan cengkeramannya.
"Syukurlah, kamu tidak terjatuh," kata Son lega. "Sori, aku hanya bereaksi spontan tadi. Kalau tidak, kamu pasti terjatuh," terang Son.
"Ohya, terima kasih," ucap Aleena. "Tapi kamu harus mengobati rasa sakit di lengkanku ini karena cengkeramanmu tadii. Huh!" Aleena memasang wajah kesal dan berpura-pura memalingkan wajahnya dari tatapan Son.
"Iya, nanti kuberi obat setelah kita pulang ke rumahku," kata Son. "Elen ada banyak obat untuk mengobati luka atau lecet di badan."
"Aku tak mau obat dari Elen," balas Aleena. "Aku mau obat dari kamu, Son, karena kamu yang menyakitiku, bukan Elen. Elen tidak tahu apa-apa. Jadi kamulah yang harus mengobatiku," pungkas Aleena.
"Bagaimana caranya aku mengobatimu?" tanya Son bingung. "Aku kan tidak punya obat untuk mengobati lukamu? Apa aku harus singgah sebentar ke apotek nanti untuk mendapatkan obatnya?"
"Tidak," Aleena menggeleng. Dia menatap Son dan memasang tampamg serius. "Obatnya adalah, tiap pagi kamu harus menelepon ke ponselku dan bertanya apakah lukaku sudah sembuh? Jika aku bilang belum, maka esok-esoknya lagi kamu harus meneleponku terus dan menanyakan hal itu.
Son mendengarkan kata-kata Aleena dengan wajah terpana. Dia masih belum mengerti dengan maksud Aleena. Apakah luka di tangan seseorang bisa sembuh hanya dengan mengucapkan kata-kata atau bertanya? Son tak tahu kalau yang dimaksud Aleena adalah perhatian atau kasih sayang kepada orang yang telah kita sakiti. Itulah obat yang paling manjur.
* * *
"