
Bab 52
"Bagaimana tadi di sekolah?" tanya Tom.
"Baik, Pa," jawab Son.
"Siapa temanmu yang kamu ikut mobilnya itu? Teman dari sekolah lamakah?" tanya Tom lagi ingin tahu.
"Bukan, Pa. Teman baru. Sekelas denganku," jawab Son.
"Hmmm... baiklah. Kamu boleh kembali ke kamarmu sekarang. Nanti kita ketemu lagi di meja makan pukul 7," kata Tom.
"Baik, Pa," jawab Son. Dia segera membalikkan tubuh dan keluar dari kamar Tom. Kemudian berjalan ke kamarnya sendiri.
Seperginya Son, Tom bangkit dari kursi dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar 15 menit kemudian, Tom keluar dari kamar mandi. Dia mengganti handuk putih yang membalut di tubuhnya dengan baju kaos dan celana ponggol yang tadi diambilkan Son dari lemari baju dan diletakkan di atas ranjang.
Tom menyisiri rambutnya di depan cermin rias. Diperhatikannya wajahnya yang masih kelihatan muda dan tampan di usianya yang sudah 40 tahun. Elen lebih tua 2 tahun dari Tom dan Kathy lebih muda 2 tahun dari Tom.
Tom memandangi wajahnya di depan cermin rias dengan tatapan hambar. Hatinya terasa kosong karena Kathy, istri yang dikasihinya yang telah menemaninya selama 10 tahun telah pergi 7 tahun lalu. Kathy meninggalkan Son yang saat itu berusia 8 tahun. Sekarang Son berusia 15 tahun, berarti sudah 7 tahun Kathy meninggalkan dirinya menjadi seorang duda di usia 33 tahun.
Seharusnya, dengan semua syarat yang dimilikinya, baik secara fisik, materi, maupun usia, Tom akan sangat mudah mendapatkan pengganti Kathy. Bukan hanya wanita biasa atau bekas istri orang, tapi wanita cantik yang belum pernah menikah pun bisa didapatkannya mengingat kriteria lebih yang dimilikinya.
Bukannya tidak ada wanita yang berusaha mendekati Tom setelah mengetahui Tom ditinggalkan Kathy. Tapi tak ada satu pun yamg berkenan di hati Tom. Hati Tom seolah sudah beku pada wanita mana pun semenjak kepergian Kathy.
Mulai dari bekas teman sekolah Tom, bekas teman kuliah, klien perusahaan, sampai temannya teman dan banyak macam lagi wanita yang berusaha mendekati Tom tapi tetap tak ada yang berhasil. Tom belum membuka hatinya untuk wanita mana pun selain untuk Kathy, mendiang istrinya yang tercinta.
Setelah selesai menyisiri rambutnya, Tom melangkah mendekati ranjang lalu duduk bersandar di sandaran ranjang. Ranjang besar dan mewah milik dia dan Kathy sudah 7 tahun ini terasa dingin tanpa pelukan dan ciuman speasang insan. Tidak ada lagi kehangatan di atas ranjang semenjak kepergian Kathy.
Tom mengeluarkan hp andoid-nya dan membuka WA-nya untuk membaca pesan-pesan yang masuk. Dari teman, klien, atau bahkan dari karyawan di kantornya yang memberitahukan tentang aktivitas perusahaan.
Mata Tom terhenti pada satu chat baru di WA-nya. Itu adalah nomor yang tak dikenalnya dan baru pertama kali mengirimkan chat ke WA-nya.
"Halo, Tom," begitu chat dari nomor tak dikenal itu.
"Iya? Siapa ini?" balas Tom.
Tom meng-klik foto prifil WA orang itu yang satu badan sehingga susah dikenali karena fotonya jauh.
Begitu foto prifilnya terpampang, Tom membaca nama di dekat foto profil, "Feby."
Feby? nama itu melintas di benak Tom. Tom melihat dengan lebih cermat foto profilnya dan perlahan Tom mulai mengenali wanita cantik berpakaian modis dengan aksesoris fashionable yang berdiri di bawah pohon dengan latar sebuah taman.
Tom mulai mengenali wanita di foto itu. Dia adalah Feby, teman SMA Tom yang sejak mereka duduk di kelas I SMA sudah menyukai Tom. Tom ingat dulu di sekolah Feby sering mengejar-ngejarnya dan berusaha mendekatinya dengan segala cara tapi Tom tak pernah mau dan hanya menganggapnya teman. Tak disangka, setelah 20 tahun Feby masih mengingatnya bahkan sekarang mengirim chat padanya. Dari mana Feby dapat nomor WA-ku? pikir Tom.
Tak lama kemudian, chat balasan pun masuk dari nomor baru itu yang dikenali Tom sebagai Feby, teman SMA-nya.
"Ini aku, Tom. Feby. Teman sekelasmu dari kelas I sampai III SMA."
"Oh, iya, Feby. Apa kabar?" balas Tom.
"Baik, Tom. Kamu masih ingat aku?" tanya Feby.
"Ya, aku berusaha sendiri dari mana-mana. Haha," tawa Feby. "Gimana keadaanmu, Tom? Aku baru pulang dari luar negeri seminggu lalu dan langsung ingat untuk mencari tahu nomor WA-mu."
"Ohya, waktu itu kamu bilang mau melanjutkan studi di negeri orang sambil bekerja di sana. Iya kan?" ingat Tom.
"Iya, Tom. Benar sekali. Ternyata kamu masih ingat aku. Bahkan ingat kalau aku pernah bilang padamu mau melanjutkan studi dan bekerja di luar negeri," jawab Feby senang.
"Sekarang kamu sudah kembali ke Medan-kah?" tanya Tom.
"Iya, Tom. Aku kembali ke Medan untuk jalan-jalan dan terutama untuk bertemu denganmu," canda Feby.
"Hahaha," Tom pun tertawa.
"Kudengar dari teman kita, sori, istrimu meninggal beberapa tahun lalu?" tanya Feby.
"Tom tepekur sesaat sebelum menjawab, "Iya."
"Turut prihatin ya, Tom. Jadi bagaimana keadaanmu sekarang?" ingin tahu Feby.
"Ya, begitulah. Dia pergi meninggalkan 1 anak. Anakku dengannya," beri tahu Tom.
"Oh, aku boleh ketemu kamu dan melihat anakmu, Tom?" pinta Feby.
"Untuk apa?" heran Tom.
"Untuk melepas rindu saja. Sampai sekarang aku masih singel!" seru Feby tiba-tiba.
"Oh...," reaksi Tom.
"Kita bisa ketemu, Tom?" tanya Feby lagi.
"Kapan?" balik tanya Tom.
"Malam ini bisa? Pukul 08.00 aku tunggu kamu di kafe "Sunflower Shine" yang dulu kita sering nongkrong di situ?"
"Wah, itu sudah lama sekali," kata Tom. "Apakah mungkin kafe itu masih ada sekarang?"
"Masih, Tom. Dua hari lalu aku baru nongkrong di situ," beri tahu Feby.
"Hmmm...," Tom berpikir-pikir sebentar mempertimbangkan ajakan Feby.
"Mau ya, Tom?" desak Feby.
"Iya, nanti aku kasih kabar lagi," jawab Tom.
Tom pun keluar dari aplikasi WA-nya dan membaca berita-berita di Google.
* * *