Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son Memperkenalkan Diri di Depan Kelas



Bab 38


Lonceng masuk berbunyi pada pukul 07.30 WIB. Murid-murid yang masih berkeliaran di luar kelas spontan masuk ke kelasnya masing-masing.


Setelah semuanya duduk di bangku, seorang ibu guru yang berusia 30-an masuk ke kelas. Dia mengenakan baju seragam guru yang berwarna biru.


"Selamat pagi, Anak-anak...!" sapanya dengan seulas senyum ramah sambil berdiri di depan kelas.


"Selamat pagi, Bu...!" jawab mereka serempak.


Mereka mengenal itu adalah Bu Ria yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di saat mereka duduk di kelas I dan II SMP. Bu Ria baik pada murid-murid. Dia tidak galak malah kadang suka bercanda sehingga dianya disukai murid-murid. Apakah di kelas III SMP ini Bu Ria akan mengajari mereka pelajaran Bahasa Indonesia juga? tanya hati mereka.


"Kita berjumpa lagi ya di kelas ini, Anak-anak. Sekarang kalian sudah naik ke kelas III SMP. Tentunya sudah semakin dewasa dan semakin pintar. Iya nggak?" tanya Bu Ria.


"Iya, Bu...!" jawab mereka serempak.


"Nah, ada kabar gembira buat kalian semua. Ibu akan menjadi wali kelas kalian di kelas IX-A ini," lanjut Bu Ria.


"Wah...!" murid-murid spontan berseru dan bersorak-sorai. Kelas pun menjadi riuh rendah oleh suara mereka.


Bu Ria tersenyum. Diedarkannya pandangannya ke seluruh ruang kelas. Dia melihat satu per satu murid yang dikenalnya selama 2 tahun ini. Rasanya dia sudah mengenal semua murid di kelas IX-A ini di mana dia akan menjadi wali kelas.


Tapi... tunggu dulu. Sepertinya ada seorang murid baru. Mata Bu Ria tertuju pada Son yang duduk sendirian di bangku. Tidak ada teman sebangkunya. Bu Ria tidak pernah melihat dia sebelumnya.


"Kelas kita ada murid baru rupanya," kata Bu Ria.


Semua mata yang sedang tertuju pada Bu Ria segera berpindah ke sana sini mencari siapa murid baru yang dimaksud Bu Ria.


Karena baru masuk ke kelas dan ramainya kelas membuat mereka tidak begitu memperhatikan sekeliling. Hanya sekilas saja pada teman-teman di dekat mereka. Tak sadar kalau ada murid baru di antara mereka.


"Halo...!" Bu Ria melambaikan tangannya pada Son.


Murid-murid segera melihat arah pandangan mata Bu Ria kepada siapa dia melambai dan mereka menemukan murid baru yang dimaksud.


"Halo, kamu murid baru ya? Ayo, maju ke depan perkenalkan dirimu," kata Bu Ria sambil tersenyum pada Son.


Semua mata tertuju pada Son. Bahkan yang duduk di bangku depan pun membalikkan badannya melihat Son. Kecuali Shania, yang duduk pas di depan Son. Shania tak menoleh sedikit pun.


Son bangkit dari duduknya. Dia keluar dari belakang meja dan berjalan menuju depan kelas. Setelah langkahnya sampai di samping Bu Ria, dia membalikkan badan menghadap ke arah murid-murid lain yang duduk menghadapnya.


Son melihat mereka sedang duduk memandangnya. Terdengar bisik-bisik yang riuh saat Son mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kelas.


Dia tampak istimewa. Begitu yang ada di pikiran murid-murid di kelas Son.


Richard, Fredy, dan Mark memandang Son sambil mengerutkan alis karena mereka mendengar Desy, Luna, dan Katrin berbisik-bisik membicarakan Son. Bisikan ketiga teman cewek mereka itu bisa terdengar oleh 3 cowok itu yang mana keenamnya duduk di bangku belakang.


Bagi mereka murid baru yang sedang berdiri di depan kelas itu termasuk ganteng karena dia memiliki wajah yang memang ganteng. Tubuhnya sedang dalam masa pertumbuhan/perkembangan pesat seperti mereka yang memasuki usia 15 tahun. Lalu, apa yang istimewa dari dia? Kenapa Desy, Luna, dan Katrin yang biasanya cuek sama orang lain yang tak berkaitan dengan mereka jadi begitu perhatian sambil terus memandang dan berbisik-bisik membicarakan dirinya?


"Ayo perkenalkan dirimu, Nak," kata Bu Ria yang berdiri di samping kanan Son. Dia memandang Son sambil tersenyum dan mengangguk.


Son yang menoleh sejenak saat Bu Ria bicara padanya kembali melihat ke arah para murid yang sedang memandangnya sambil berbisik-bisik. Son merasa mereka sedang menunggunya bicara.


"Namaku Son," Son menyebutkan namanya dengan suara yang terdengar cukup lantang.


Murid-murid masih memperhatikannya, mendengarnya bicara. Mereka menunggu Son bicara lebih lanjut. Begitu juga Bu Ria.


Mata Son yang sedang beredar ke sekeliling kelas pada mata-mata yang memandangnya akhirnya berhenti di tatapan Shania.


Son terpana. Sekarang dia bisa melihat wajah Shania dari depan dengan lebih jelas karena Shania sedang memandangnya. Kedua mata gadis itu menatap lekat dirinya. Son merasa hatinya berdebar dan jantungnya berdegup kencang saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Shania.


Son merasa, Shania memang sangat cantik. Wajahnya lembut. Tubuhnya, rambutnya, caranya memandang, gerakan mimik wajahnya dan sedikit gerakan tubuhnya, semua itu memancarkan aura kewanitaan yang sangat khas, cantik, lembut, harum, dan mempesona. Tipe wanita yang bisa membuat lelaki tergila-gila dan menginginkannya.


Bagaimana dengan karakternya? Son belum tahu karena belum mengenalnya dari dekat bahkan bicara pun belum pernah. Hanya saja sekilas tadi dari percakapan antara dirinya dengan Richard dan Joseph, Son menilai Shania bukan gadis yang sembrono dalam berkata-kata. Dia juga tidak akan mudah takluk pada laki-laki. Perlakuannya kepada setiap orang berbeda tergantung dari bagaimana mereka memperlakukannya dan bagaimana sikap mereka.


"Son?" Bu Ria yang melihat Son hanya diam saja setelah mengucapkan nama panggilannya memandang Son dengan rasa ingin tahu. Dia penasaran murid baru yang satu ini terlihat sangat pendiam dan tak banyak bicara.


Bu Ria mengulangi pertanyaannya lagi, "Son? Cuma itu namamu? Sebutkan nama lengkapmu, Nak," kata Bu Ria sambil mengangguk pada Son saat Son tersadar dari tatapan matanya yang terhenti pada Shania dan menoleh pada Bu Ria yang berdiri di sampingnya.


"Wilson Simon," jawab Son pendek.


Bu Ria mengernyitkan alis. Sepertinya anak ini memang terlalu hemat dalam berkata-kata. Sedari tadi berdiri di depan kelas bicaranya sangat singkat. Tidak menambah di awal maupun di akhir jawaban yang ditanyakan. Sepertinya memang tidak suka bicara walaupun suaranya terdengar lantang


"Namamu Wilson Simon, Nak?" tanya Bu Ria.


Son mengangguk.


"Oh, baiklah," kata Bu Ria setelah dia melihat Son hanya mengangguk. "Anak-anak sekalian, ini teman baru kalian namanya Wilson Simon," Bu Ria pun mewakili Son memperkenalkan dirinya dengan kalimat yang lebih panjang dan lebar.


"Iya, Bu...!" jawab murid-murid serempak.


Bu Ria tersenyum dan memandang Son lagi. "Kamu pindahan dari sekolah mana, Nak?" tanyanya sambil memperhatikan Son lekat-lekat. Seolah ingin mendalami pikiran dan jiwa remaja yang ada di sampingnya.


Son menyebutkan nama sekolahnya dulu di mana dia bersekolah di sana sejak SD kelas I sampai SMP kelas II.


Bu Ria manggut-manggut. Ternyata berasal dari sekolah favorit juga, pikirnya.


* * *