
Bab 39
"Baiklah, Wilson Simon, kamu sudah boleh kembali ke tempat dudukmu," kata Bu Ria diringi sebuah anggukan.
Mendengar kata-kata Bu Ria, Son pun berjalan kembali ke mejanya.
Semua mata masih tertuju padanya. Entah apa yang ada pada diri Son yang bisa membuat teman-temannya seolah ditarik untuk terus memperhatikannya.
Son berjalan melewati meja Shania dan duduk di bangkunya sendiri.
Bu Ria yang melihat Son sudah kembali ke bangkunya, memulai pelajaran Bahasa Indonesia hari ini. Dia menyuruh murid-murid membuka buku pelajaran halaman depan di mana terdapat bab I dengan judul yang berkaitan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Ria pun mulai menerangkan isi bab I.
Murid-murid mendengarkan Bu Ria menerangkan dengan mata memandang ke depan kelas. Mereka mencatat di buku catatan yang dirasa perlu keterangan atau penjelasan Bu Ria. Bu Ria tidak memberikan catatan tersendiri. Murid-murid harus mencatat dan merangkum apa yang mereka dengar dengan kalimat--kalimat yang ditulis sendiri. Kalimat yang ditulis masing-masing murid tentunya tidak sama tapi maknanya sama.
Begitu juga Son dan Shania. Namun sepertinya Shania tidak sempat merangkum semua penjelasan Bu Ria di buku catatannya. Ada yang ketinggalan atau tidak sempat ditulisnya.
Setelah Bu Ria selesai menjelaskan isi bab I, dia bertanya apakah ada di antara murid-murid yang tadi mendengarkan penjelasannya mau bertanya. Dan ada 3 orang murid yang bertanya. Bu Ria pun menjelaskan apa yang ditanyakan oleh ketiga murid itu yang tentunya secara bergantian karena pertanyaan mereka juga tidak sama satu sama lain.
Terakhir Bu Ria menanyakan lagi pada murid-murid apakah mereka semua sudah mengerti penjelasannya dan sudah mengerti isi bab I, dan mayoritas menjawab sudah.
Tak lama kemudian lonceng kedua pun berbunyi. Bu Ria menyuruh murid-murid mengerjakan soal-soal latihan di bagian belakang dari bab I. Soal-soal latihan itu ada 10 soal menyebutkan dan 5 soal menjelaskan. Karena mata pelajaran Bahasa Indonesia hari ini adalah 3 les yaitu les pertama, kedua, dan ketiga, maka murid-murid pun mengerjakan soal-soal latihan itu di les ketiga.
Mereka harus menjawab dengan cepat soal-soal latihan itu karena waktu yang diberikan cuma 1 les yang mana 1 les lamanya 35 menit.
Walaupun ada beberapa murid yang tidak sempat mengerjakan sampai akhir, buku latihan mereka tetap harus dikumpul saat lonceng keluar les ketiga berbunyi. Akhir les ketiga adalah awal jam istirahat pertama bagi murid-murid dan guru-guru. Lamanya waktu istirahat adalah 15 menit. Murid-murid bisa menggunakan waktu istirahat yang 15 menit itu untuk ke kantin atau ke toilet atau sekadar duduk-duduk di dalam kelas atau jalan-jalan di lapangan sekolah.
Lonceng akhir les ketiga berbunyi. Bu Ria menyuruh mereka mengumpulkan buku latihan masing-masing ke meja guru. Semuanya harus mengumpulkan walaupun belum siap.
Son sudah menyelesaikan 15 soal latihan yang tertulis di buku cetak Bahasa Indonesia itu. Dia keluar dari belakang meja dan berjalan ke meja guru untuk mengumpulkannya.
Shania mempercepat tulisannya supaya bisa segera menyelesaikan 2 soal terakhir sebelum mengumpulkannya ke meja guru.
Setelah semua murid mengumpulkan buku latihan mereka, Bu Ria pun keluar dari kelas dengan membawa buku-buku latihan para murid itu. Dia membawanya ke ruang guru yang terletak di ujung barisan dari ruang-ruang kelas untuk murid-murid SMP di sekolah ini.
Ruang kelas untuk murid SD ada di lantai 1, untuk murid SMP ada di lantai 2, dan untuk murid SMA ada di lantai 3. Jadi kelas Son ada di lantai 2 karena dia kelas III SMP.
Murid-murid di kelas Son pun satu per satu keluar dari kelas setelah mengumpulkan tugas. Ada yang bergegas ke kantin, ke toilet, atau ke lapangan menghirup udara bebas karena kelas mereka berupa ruang tertutup yang diselimuti AC.
Perlahan-lahan kelas pun menjadi sunyi karena satu per satu telah melangkah keluar. Tinggal Joseph, Shania, dan Son yang masih duduk di bangku.
Joseph yang begitu rapi menyimpan kembali perlatan tulisnya ke dalam kotak pensil sebelum dimasukkan ke dalam tas. Begitu juga dengan buku cetak dan buku catatan Bahasa Indonesia yang tadi ditulisinya dengan kalimat-kalimat penjelasan dari Bu Ria.
Setelah selesai, Joseph menoleh pada Shania dan bertanya, "Kamu mau ke kantin, Shan?"
Shania terdiam sesaat sebelum menjawab. "Kamu duluan, Seph. Aku masih ada yang harus kuselesaikan."
"Oh, kalau begitu aku duluan ya, Shan. Aku sudah lapar. Mau beli mie goreng yang di kantin dulu," kata Joseph lalu bangkit dari bangkunya.
Shania melihat Joseph sekilas yang berjalan meninggalkan ruang kelas.
Biasanya, murid-murid yang membeli makanan atau sarapan dari kantin bisa memakannya di bagian samping dari kantin di mana terdapat bangku-bangku dan meja-meja untuk para murid duduk di sana menikmati sarapannya.
Kelas menjadi semakin sunyi saat Joseph keluar dari pintu dan menutupnya. Pintu ruang kelas memang ditutup setiap kali murid selesai keluar masuk karena ada air conditioner di dalam.
Dinginnya AC yang berembus membuat ruang kelas senantiasa sejuk dan adem. Tapi di saat murid-murid semua keluar kelas kecuali tinggal Son dan Shania maka ruang kelas pun terasa semakin sejuk dan dingin.
Shania sebenarnya sudah mengetahui kalau Son tidak meninggalkan ruang kelas melainkan tetap duduk di bangkunya yang berada di belakang tempat duduk Shania.
Saat tadi Joseph mengajaknya ke kantin seharusnya dia mengiyakan ajakan Joseph dan keluar dari ruang kelas. Tapi entah kenapa hatinya membisikkannya untuk tetap tinggal di dalam kelas. Sesuatu atau tepatnya seseorang seperti menahan keinginannya untuk keluar dari ruang kelas. Seseorang yang mampu membuatnya memilih untuk menahan keinginannya jajan di kantin dan tetap duduk baik-baik di bangkunya menyalin catatannya.
Shania merasakan hatinya berdebar keras. Jantungnya berdegup kencang karena dia bisa mendengar nafas Son yang duduk di belakangnya. Nafas itu seperti berembus ke belakang punggungnya dan membuatnya tak mampu menahan gemuruh di hatinya.
Aura laki-laki yang dimiliki Son itu sangat disukainya. Aura itu terasa sangat jantan, kuat, dan mendebarkan. Membuat tengkuknya terasa dingin. Aura itu menariknya mendekat dan menahannya menjauh sampai dia merasa tak bisa bergerak ke mana-mana selain duduk di tempatnya sambil merasakan gemuruh di hatinya yang semakin cepat.
Sementara Son yang duduk di belakang Shania juga merasakan hal yang sama. Dia tahu kalau di ruang kelasnya sekarang tinggal dia dan Shania. Mereka hanya berdua saja di ruang kelas yang dingin dan sunyi.
* * *