
Bab 138
Setelah Aleena puas menjewer telinga Son, dia pun melepaskannya dan membuang nafas kesal.
Son terpaksa menaikkan tangannya untuk mengelus-elus telinganya yang terasa perih karena Aleena menjewernya cukup keras.
"Ya baiklah kalau begitu, kita sudah boleh kembali ke tempat yang tadi?" tanya Son sambil menatap Aleena.
Aleena menggigit bibir. Dia masih jengkel karena Son menertawakannya tadi.
"Ayolah, Aleena," Son mengajaknya sekali lagi.
"Iyalah," jawab Aleena. Dia pun menggerakkan kepalanya ke arah yang seharusnya mereka tuju untuk kembali ke tempat duduk keramik.
Son pun berjalan ke arah yang dimaksud Aleena. Mereka berdua berjalan bersisian menuju tangga eskalator. Lalu menuruninya dan berjalan lagi menyusuri mal menuju tangga eskalator berikutnya lalu menuruninya lagi. Demikianlah seterusnya hingga akhirnya mereka sampai di tempat duduk keramik di mana Joseph, Winy, Cyntia, dan Shania sedang menunggu.
Melihat kedatangan Son dan Aleena, keempat teman Son itu pun menghela nafas lega. Mereka segera mencerca Son dengan berbagai pertanyaan.
"Di mana kamu menemukan Aleena, Wilson? Akhirnya kalian kembali juga," kata Joseph sambil memandang Son dan Aleena.
"Iya, di mana Aleena tadi?" tanya Winy. "Kenapa dia tak menjawab panggilan darimu? Apakah ponselnya tercecer di jalan hingga tak bisa menjawabnya?"
Cyntia juga penasaran. "Iya, betul, Wilson. Kupikir ponselnya tadi terjatuh ya?"
Son terdiam sesaat. Dia menatap ketiga temannya yang memberondongnya dengan pertanyaan. Lalu menatap Shania yang tampak diam saja.
"Kami bukan mengkhawatirkanmu, Aleena! Dasar ke-geer-an!" rutuk Cyntia. "Kamu sudah melukai tanganku sampai perih dan sakit begini. Luka lagi tahu! Mana lagi aku peduli padamu. Dasar sableng!" Cyntia membuang muka saat Aleena menoleh kepadanya.
"Lha, bukannya tadi kalian tampak khawatir?" Aleena memasang tampang heran. "Bisa kelihatan dari mimik wajah kalian lho, begitu melihat kedatanganku bersama Son, kalian langsung menghela nafas lega. Sebelumnya terlihat beban," kata Aleena.
"Kami bukan mengkhawatirkanmu, Aleena," kata Winy. "Kami hanya mau cepat pulang saja karena Wilson tak mau pulang kalau belum menemukanmu. Sementara kami sudah tak sabar lagi mau pulang ke rumah masing-masing."
"Iya, Aleena, tak mungkin kami meninggalkanmu sendirian di mal ini. Tercecer sendirian. Entar kalau hilang gimana? Di mana kami harus mencarimu? Kan kami yang harus bertanggung jawab karena kamu datang bersama kami tadi," alasan Joseph.
"Eh... aku sudah besar, Bro! Mana mungkin bisa hilang kayak anak kecil?" kata Aleena.
"Bisa saja, Aleena," balas Joseph. "Gadis seusiamu pun bisa hilang. Sekarang banyak penculikan orang tak peduli anak-anak atau remaja. Pokoknya ngerilah. Lebih baik jangan ke mana-mana sendiri. Apalagi gadis belia sepertimu. Lebih baik berhati-hati."
"Ya sudahlah kalau begitu," kata Aleena. "Kita mau ke mana lagi sekarang? Maksudku, mau jalan-jalan ke mana lagi?"
"Ya nggak ke mana lagilah. Cuma pulang ke rumah masing-masing saja diantar supir om-nya Shania," jawab Winy.
"Ya ayolah kalau begitu. Kita pulang sekarang," kata Aleena. "Ayo, Son, kita pulang sekarang," ajak Aleena pada Son yang tampak bengong berdiri di tempatnya sambil menatap Shania yang masih diam saja.
Sepertinya Son khawatir melihat reaksi Shania yang dingin dan cuek.
* * *