
Bab 53
Tom menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. Dia merasa agak lelah dan memejamkan mata. Tak lama kemudian Tom pun jatuh tertidur dengan posisi tubuh duduk bersandar di sandaran ranjang.
Selama setengah jam Tom terlelap dengan hp android di genggaman tangannya. Namun karena dia terlelap, hp itu pun terlepas dari gengamannya dan tergeletak di pangkuannya.
Saat Tom tersadar dari lelapnya, hari sudah malam yaitu pukul 19.00 WIB. Tom mengucek-ucek matanya dan mengusap-usap wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuknya yang masih tersisa.
Ini jamnya makan malam, pikir Tom lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar. Setelah keluar, Tom melangkah menuju tangga dan turun ke lantai 1.
Saat Tom sampai di ruang makan, dilihatnya Son sudah duduk di kursi makan menunggunya makan malam bersama.
Elen yang sedang berdiri di dekat meja makan sambil menyusun hidangan melihat kedatangan Tom. Dengan segera dia pun menggeser satu kursi yang ada di dekat Son untuk diduduki Tom.
"Kamu sudah mau makan, Tom?" tanya Elen.
"Iya," jawab Tom lalu berjalan menuju kursi yang digeser Elen dan duduk di sana.
Nasi Tom dan Son sudah disediakan Elen di atas meja. Begitu juga lauk berupa daging dan sayur.
"Ayo kita makan," kata Tom sambil melirik Son yang duduk di dekatnya.
Son mengambil sendok dari atas piring yang berisi nasi, bersiap-siap mencicipi makan malamnya.
Tom mengambil beberapa macam lauk yang ditaruh di atas piringnya, begitu juga Son. Sedangkan Elen duduk di meja makannya yang tersendiri sambil beberapa kali melirik Son dan Tom.
Dua puluh menit kemudian keduanya selesai makan. Tom dan Son mencuci tangan mereka di bak cuci piring lalu duduk kembali di kursi makan.
Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB. Tiba-tiba Tom yang duduk-duduk bersandar di kursi makan terpikirkan sesuatu. "Ohya, Elen, aku mau keluar sebentar," katanya sambil melihat pada Elen yang duduk di kursi makannya yang tersendiri.
"Mau ke mana, Tom?" tanya Elen.
"Mau jumpa teman lama," jawab Tom. Dia melihat Son segera. "Son," katanya. "Kamu ikut papa keluar sebentar."
Son tepekur. Malam-malam begini papanya masih ajak dia keluar rumah? Tak biasanya seperti itu. Memangnya mau ke mana? heran Son. Tapi dia tak bertanya.
"Ayo, Son," kata Tom sambil bangkit dari kursinya.
Elen ikut bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Tom dan Son. "Memangnya mau ke mana, Tom? Son besok pagi masih harus bangun cepat untuk bersekolah," katanya seperti agak keberatan Tom mengajak serta Son keluar rumah malam-malam. Mau ke mana Tom membawa Son? Lalu jam berapa mereka akan pulang?
"Ke kafe sebentar," jawab Tom. "Ada teman lama yang pulang dari luar negeri dan ajak ketemuan."
"Oh, tapi kenapa Son diajak juga?" protes Elen.
"Karena temanku itu perempuan, Elen. Nggak enak kalau ketemuan berdua saja," kata Tom.
"Son, ayo, ikut papa," kata Tom.
Son bangkit dari kursinya dan berjalan di bekakang Tom. Sementara Elen mengantar kepergian mereka dengan tatapan mata yang diiringi embusan napas panjang.
Bagaimana pun Elen berusaha mengutamakan Tom dan Son selama 20 tahun ini tetap tak membuahkan hasil. Tom masih menganggapnya kepala pelayan di rumahnya. Kalaupun ada yang lebih, Tom memperlakukannya layaknya sahabat baik yang selalu bersedia mendengarkan segala keluh kesah dan kesedihannya. Tidak ada ruang khusus bagi Elen menempati posisi yang sama seperti Kathy.
Langkah Tom dan Son sudah sampai di depan villa. Mereka berjalan mendekati mobil Tom yang diparkir lalu masuk ke dalam.
Son duduk di samping Tom yang bersiap-siap menjalankan mobilnya.
Tom menyetir mobilnya keluar dari pintu gerbang dan menelusuri sepanjang jalan di kompleks pervilaan. Tujuannya adalah kafe "Sunflower Shine" yang dibilang Feby tadi sebagai tempat janjian pertemuan mereka pukul 20.00 WIB.
Tom mengeluarkan hp android-nya yang tadi dimasukkannya ke dalam kantong celana ponggolnya yang selutut. Dia hanya berpakaian baju kaos dan celana ponggol selutut menuju kafe. Begitu juga Son.
Tom tidak begitu ambil pusing untuk mengenakan pakaian yang lebih keren bertemu Feby. Karena Tom hanya tak mau mengecewakan Feby yang sudah meminta untuk bertemu dengannya. Walau sebenarnya dalam hati Tom merasa enggan dan malas keluar rumah lagi malam-malam.
Tapi tadi tiba-tiba terlintas satu ide di benaknya. Dia berpikir untuk melihat bagaimana reaksi Son jika dia pergi bertemu seorang perempuan. Tom ingin tahu reaksi anaknya. Kebetulan tadi Feby mengajaknya bertemu di kafe, jadi Tom menggunakan ini sebagai kesempatan untuk menguji Son. Melihat bagaimana tanggapan atau reaksi anaknya.
Mobil yang dikendarai Tom sudah keluar dari kompleks pervillaan. Tom melirik Son yang duduk diam memandang ke depan jalan raya lewat kaca mobil.
"Son," panggil Tom.
Son menoleh ke samping kanan.
"Tolong papa bukakan WA dan cari nama Feby," kata Tom sambil menyodorkan hp android yang baru dikeluarkannya dari kantong celana ponggol.
Son menerima hp android yang disodorkan papanya dan membuka WA Tom yang ada di hp itu lalu mencari nama Feby.
"Sudah, Pa," kata Son sambil menoleh pada Tom sementara kedua tangannya menggenggam hp android itu.
"Sudah buka chat-nya Feby?" tanya Tom memastikan.
Son melihat sekali lagi layar hp di depannya. "Iya, sudah, Feby," jawab Son.
"Kamu bantuin papa chat dia. Bilang sekarang kita sedang menuju ke kafe 'Sunflower Shine'. Suruh dia datang ke sana juga," kata Tom.
Son terpana. Dia agak bingung bagaimana harus mengatakannya pada Feby, teman papanya itu?
Tom tidak mengajarinya. Dia hanya menyuruhnya. Dan Son harus bisa menyusun kalimat-kalimat sendiri untuk memberitahukan pada Feby.
Jadi aku harus bilang aku ini anaknya Tom atau mengaku sebagai Tom? Berbohong? Oh, tidak. Papa pasti tidak akan menyukai itu, pikir Son. Aku harus bilang kalau aku ini anaknya Tom yang dimintai untuk mengirim chat pada temannya karena Tom sedang menyetir. Berpikir demikian, Son pun manggut-manggut dan mulai mengetik di hp Tom.
* * *