Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Aleena dan Son Kembali ke Kafe.



Bab 60


Karena Aleena tak mau melepaskan pelukannya di punggung Son maka Son terpaksa menggunakan tangannya untuk melepas kedua tangan Aleena yang melingkari punggungnya.


Mau tak mau Son harus menyentuh tangan Aleena untuk melepaskan pelukan itu. Dia harus mengeluarkan sedikit tenaga karena Aleena memeluknya erat laksana seekor kepiting yang sedang mencengkeram kuat tubuh manusia.


Walaupun Son melepaskan tangan Aleena yang melingkari punggungnya dengan mengeluarkan sedikit tenaga namun itu dilakukannya dengan lembut. Dia memegang pergelangan tangan Aleena dengan lembut lalu menguakkannya. Setelah itu dia mundur 2 langkah supaya tubuh Aleena tidak lagi mendempeti tubuhnya.


Son menarik napas lega dengan hati-hati saat dia berhasil lepas dari dekapan Aleena.


"Son...," Aleena yang kini berdiri berjarak sedikit dengan Son mengangkat kepalanya menatap Son dengan mata berkaca-kaca. Ada manik-manik air mata bekas isakannya tadi.


"Kita balik ke kafe sekarang," kata Son sambil berbalik ke arah datangnya tadi.


Tapi Aleena mencegah Son dengan meraih dan menggenggam tangannya tiba-tiba.


Son tentu saja kaget dan tiba-tiba dia tak bisa menahan amarahnya. Gadis kecil ini sudah keterlaluan, pikir Son.


"Kenapa lagi?!" tanya Son dengan nada suara tinggi dan terkesan jengkel.


"Kamu mau ke mana?" tanya Aleena.


"Ya balik ke kafe. Emang mau ke mana lagi?" balik tanya Son.


"Kamu lihat... tadi yang di toilet itu apa," pinta Aleena.


"Untuk apa aku lihat?" Son tampak bingung.


"Aku ingin tahu. Tadi itu apa yang menggerakkan pintu?" kata Aleena.


Son mengernyitkan alis. "Emang nggak ada orang lain di dalam kecuali kamu?" tanyanya.


Aleena mengangguk. "I... i-ya, tapi pintunya bisa bergerak sendiri. Ada suara lagi. Iiih..."


"Kamu terlalu banyak nonton film horor," kata Son.


"Benaran itu, Son. Ayo kamu temani aku masuk ke tolilet lihat itu tadi siapa atau apa," ajak Aleena.


Son terpana. Gadis kecil ini ada-ada saja. Bukannya melepaskan pegangannya di pergelangan tangan Son, malah menarik-narik tangannya ke arah toilet cewek.


"Heiii... jangan tarik-tarik!" sentak Son. Kali ini dia benar-benar sudah hilang kesabaran. Ditepiskannya tangan Aleena yang sedang memegang pergelangan tangannya.


"Aduuuh...!" Aleena pun menjerit.


"Sudah kubilang tadi, kalau kamu tetap begini aku akan bersikap kasar padamu," kata Son tanpa merasa bersalah.


Gadis itu meringis karena tangannya ditepis Son. Dia menggoyang-goyangkan tangannya yang terasa sakit karena tenaga Son ternyata berlebihan saat menepiskan tangannya.


"Kenapa kamu menyakiti tanganku?" Aleena mengangkat wajahnya dan menatap Son dengan mata membesar.


"Kamu sendiri yang minta," jawab Son cuek.


"Tega sekali kamu, Son...," mata Aleena tampak berkaca-kaca lagi. "Sakit tahu! Kalau kamu tak mau ya baik-baik bilangnya, jangan kamu sakiti tanganku seperti ini. Huhu...," Aleena pun menangis sesunggukan.


Berpikir demikian, Son pun segera menggerakkan kakinya beranjak dari tempat itu.


Aleena yang melihat Son tidak mempedulikannya dan sedang berjalan menjauhinya, berseru memanggil nama Son.


"Son... tunggu aku, Son! Tunggu aku...!" serunya sambil mengejar langkah Son yang cukup cepat.


Son hanya menoleh sedikit saat Aleena berhasil mengejarnya dan mensejajarkan langkahnya di samping Son.


"Hufff... jalanmu cepat sekali," kata Aleena saat dia sudah berada di samping Son, berjalan mengimbangi langkahnya.


Son tak menjawab. Dia terus melangkah.


"Son, kenapa kamu tinggalkan aku begitu saja?" tanya Aleena dengan nada protes.


Son tak menjawab. Dia sudah malas meladeni gadis kecil yang dirasanya aneh dan menggelikan ini.


"Son, kenapa tak jawab?" tanya Aleena lagi.


Kita kembali ke kafe saja. Di sana baru bicara," kata Son akhirnya.


Son mempercepat langkahnya. Dia berbelok ke kiri dan berjalan lurus kembali ke arah datangnya tadi, yaitu ke ruangan kafe "Sunflower Shine"


"Tadi itu benar-benar ada hantu di toilet. Aku tidak bohong," kata Aleena yang terus berjalan mengimbangi langkah Son.


"Jangan asal bicara kalau tidak ada bukti, Aleena," kata Son.


"Tapi itu...," Aleena mencoba meyakinkan Son. Dia tak mau Son mengiranya mengada-ada.


"Iya, hanya kamu seorang yang nampak pintunya bergerak sendiri. Barangkali saja itu angin atau ada orang yang berdiri di balik pintu," ingat Son.  "Jangan menyebarkan rumor yang nggak benar. Bisa-bisa membuat tamu di kafe ini takut atau membuat pemilik kafe marah."


Aleena terpana. Ternyata Son yang dikiranya pendiam itu juga pintar berkata-kata dengan lancar. Bahkan dia bisa memberi nasihat segala.


"Kamu... dari mana kamu belajar itu?" tanya Aleena ingin tahu.


"Belajar apa?" tanya Son sambil menoleh ke samping.


"Belajar memberi larangan seperti orang-orang tua. Kamu mirip seperti papaku suka memberi petuah," kata Aleena.


"Yah, itu kan sudah lumrah. Umurku sudah 15 tahun," jawab Son santai.


"Umurku 14 tahun tapi aku masih sering dimarahi papaku. Katanya aku bandel dan seperti anak-anak," cerita Aleena.


Mereka sudah sampai di depan pintu kafe. Son bermaksud membuka pintu kafe tapi Aleena mencegahnya.


"Tunggu, kita jangan masuk ke dalam dulu."


"Kenapa memangnya?" tanya Son.


"Coba kamu lihat. Di dalam mereka masih asyik mengobrol. Berisik sekali," kata Aleena seolah tahu Son pun tak nyaman berada di dalam tadi.


* * *