Substitute Mom

Substitute Mom
Bangunan Sekolah dengan 10 Ruang Kelas TK



Bab 17


Jessica menggandeng tangan Son mengikuti langkah Kathy yang menuju ke bagian depan sekolah atau bagian taman. Setelah berjalan puluhan meter, Kathy berbelok ke kiri di mana terdapat 10 ruang kelas yang berderet untuk anak TK ditambah 5 ruangan lain yang terdiri dari: 2 kantor guru, 1 kantor kepala sekolah, 1 kantor administrasi, dan 1 kantor keuangan/kasir.


Ketiganya sudah sampai di ruang kelas B yang di depannya adalah taman untuk tempat bermain anak-anak dilengkapi ayunan dan seluncuran.


"Ini kelasnya Son ya, Bu Kathy?" tanya Jessica yang masih menggandeng Son di sampingnya.


"Iya, betul, Jes. Waktu mendaftar tempo hari katanya Son kebagian tempat di ruang kelas B. Ayo kita masuk," ajak Kathy.


Jessica pun menuntun Son masuk ke kelas diiringi Kathy.


Di kelas yang mereka masuki itu sudah ada belasan murid anak-anak yang sebaya Son. Mereka duduk di bangku masing-masing, berusia sekitar 4-6 tahun, laki-laki dan perempuan. Ada yang ditemani ortu atau pengasuh tapi ada juga yang dibiarkan sendirian. Selagi lonceng masuk belum berbunyi, orangtua murid masih boleh berada di dalam menemani anak mereka. Maklum saja, ini hari pertama sekolah pastilah mereka masih asing dengan lingkungan baru.


Sesampainya di dalam, Kathy segera melihat satu bangku. "Pilih bangku yang nomor 2 dari depan saja, Jes. Ini. Di sini saja Son duduk," Kathy menunjuk satu tempat yang berada di deret kedua dari dinding samping ruang kelas.


Jessica pun menuntun tangan Son duduk di sana. Sedangkan Kathy menaruh tas Son ke meja itu yang berada di baris ke-2 dari depan dan di deret ke-2 juga dari dinding samping.


"Son duduk di sini saja, Bu? Tidak mau di tengah-tengah saja dekat meja guru?" tanya Jessica memastikan.


Kathy menoleh ke tempat yang dimaksud Jessica. Memang ada bangku kosong di depan meja guru. Belum ada tas sekolah anak yang ditaruh di meja itu. Berarti bangku itu masih belum ada yang menempati.


"Kurasa di sini saja," kata Kathy.


Sebenarnya, Kathy ingin juga Son bisa menempati tempat duduk yang strategis itu yang berada di deret paling tengah dan di baris paling depan dari pintu masuk. Namun bila mengingat karakter Son yang agak dingin pada orang-orang di sekelilingnya, Kathy menjadi sangsi.


Memang bangku dan meja di ruang kelas itu diperuntukkan untuk satu-satu orang alias masing-masing murid menempati satu meja sendiri-sendiri. Tapi bukan tak mungkin bila di antara murid-murid itu saling berdekatan, berbicara, atau bermain layaknya anak-anak. Dan yang Kathy khawatirkan adalah apabila Son merasa terganggu bila ada orang yang duduk terlalu dekat dengannya. Dalam hal ini adalah guru yang mengajar karena meja guru ada di depan meja yang ditunjuk Jessica.


"Mumpung tempat yang itu masih kosong, Bu Kathy," kata Jessica membuat Kathy berpikir lagi.


"Hmmm... kurasa tidak usah," Kathy tetap menolak setelah berpikir sesaat "Son biar di sini saja."


Son duduk di bangku itu sementara Jessica berdiri di sampingnya.


Anak-anak yang ada di ruang kelas itu mau tak mau menimbulkan suara berisik dengan ocehan-ocehan mereka atau dengan suara rengek dan tangis mereka karena rata-rata merasa asing dengan lingkungan baru.


"Wah, nanti Son ditinggal sendirian di dalam kelas, Bu? Bisa-bisa dia merasa nggak nyaman," ingat Jessica dengan hati was-was.


Bukan tanpa alasan Jessica berkata begitu, karena sekarang saja Jessica sudah melihat perubahan mimik wajah Son yang kurang senang. Suara berisik teman-teman sebayanya yang ada di ruang kelas yang sama dengannya membuat Son kurang nyaman. Keningnya berkerut dan tatapan matanya dingin.


"Kita lihat saja nanti apa kata gurunya," jawab Kathy.


Son masih ditemani mamanya dan baby sitter-nya itu sampai lonceng masuk berbunyi.


Tak lama kemudian, seorang guru perempuan berusia 25-an masuk ke dalam kelas. Dia memakai seragam guru, sama seperti murid-murid TK di sekolah itu yang juga memakai seragam murid yang ditempa oleh pihak sekolah.


Jadi sewaktu para orangtua murid mendaftar, selain harus membayar uang pendaftaran, uang pembangunan, uang administrasi, dan uang sekolah, mereka juga harus membayar uang seragam. Untuk uang sekolah tiap bulan sudah termasuk biaya sarapan anak-anak yang disediakan oleh pihak sekolah tiap pagi.


"Selamat pagi, Anak-anak," begitu guru perempuan itu menyapa anak-anak yang ada di ruang kelas B. Tak lupa dia juga melempar senyum ramah pada para orangtua murid atau pada pengasuh mereka yang masih berdiri atau jongkok di samping anak-anak itu.


Anak-anak itu tentu saja belum semuanya tahu untuk membalas sapaan guru yang baru masuk itu. Malah ada yang membuat suara berisik sebagai reaksi atas sapaan guru perempuan tersebut. Namun pandangan mereka segera tertuju padanya saat orangtua atau pengasuh mereka menyuruh anak-anak itu memperhatikan guru perempuan yang sedang berdiri di depan kelas.


Guru perempuan itu tidak menyuruh para orangtua atau pengasuh murid keluar dari kelas. Dikarenakan riuh dan gaduhnya suara mereka yang bicara, merengek, atau menangis, maka guru itu merasa mereka masih harus ditemani orangtua atau pengasuh selama beberapa hari ke depan sampai mereka terbiasa dan tidak merengek atau menangis lagi.


Peraturan di sekolah itu, para orangtua atau pengasuh murid diperbolehkan menemani anak masing-masing selama 3 hari. Di hari selanjutnya mereka hanya boleh menunggu di luar kelas di daerah taman yang juga ada bangku-bangku panjang yang terbuat dari batu bata dan semen. Mereka boleh duduk-duduk di sana atau melihat lewat jendela kelas di luar ruangan.


Mereka boleh menunggu sampai jam pulang yang mana para murid TK itu menghabiskan waktu selama 3 jam di sekolah. Waktu 3 jam itu terisi oleh kegiatan sarapan, bernyanyi, membaca, menulis, dan bermain di taman.


Guru mereka juga akan mengajarkan mereka beberapa keterampilan lain seperti mewarnai. Namun terlebih dahulu mereka harus tahu cara memegang pensil yang benar supaya bisa menggoreskannya ke atas lembaran buku tulis. Setelah bisa, mereka baru mulai belajar menulis angka dan huruf. Tentunya guru yang berpengalaman di sekolah itu juga akan menuntun anak-anak berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik dan benar terhadap sesama mereka atau terhadap anak-anak lain yang akan menjadi teman-teman mereka di kemudian hari.


* * *