
Bab 35
Son mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Cermin itu ada di pintu lemari bajunya. Besarnya hampir sepanjang dan selebar 1 pintu lemari baju.
"Sudah, Son...?" terdengar panggilan dari luar pintu. Itu suara Elen. "Papamu sudah mau berangkat."
Son menyibak rambut poninya yang sudah disisirnya ke atas sehabis keramas. Dia membelah rambutnya di bagian kanan untuk menyisiri poni panjangnya.
Tanpa menyahut, Son segera menyambar tas sekolahnya yang berbentuk ransel. Tas itu dikaitkannya di belakang punggungnya. Isi dalam tas itu adalah buku-buku pelajaran baru, buku-buku tulis baru, kotak pensil, pulpen, pensil, tipp-ex, penghapus, pengraut, dan penggaris 20 cm.
Son berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. Elen sedang berdiri di luar pintu dan matanya membesar saat melihat Son muncul dengan baju seragam SMP baru yang sudah rapi, tas ransel di belakang punggung, dan rambut yang disisir keren. Wajahnya juga terlihat amat segar dan sangat tampan.
"Wow...!" Elen berdecak. Dalam hati dia sangat kagum dan bangga pada putra Tom ini. Dia senang melihat putra majikannya memiliki fisik dan wajah yang pastinya akan membuat cewek-cewek suka. Apalagi jika mereka mengenal Son lebih dekat dan merasakan karakternya. Bisa-bisa mereka jatuh cinta.
"Wah, ganteng sekali kamu, Son," puji Elen dengan mata berbinar menatap Son yang berdiri di depannya dengan senyum cool dan macho.
Sekarang Son sudah tumbuh menjadi seorang anak remaja berusia 15 tahun dan duduk di kelas III SMP. Iya, Son memakai seragam baru SMP karena dia hari ini akan memasuki sekolah baru.
Papanya memindahkannya dari sekolahnya yang dulu ke sekolah baru hari ini yang adalah sekolah milik teman papanya. Kata papanya, sekolah baru ini lebih bagus daripada sekolah lama. Mungkin karena papanya mendengar promosi dari temannya sehingga memindahkan Son ke sekolah milik temannya itu.
"Kenapa senyum-senyum saja, Son?" tanya Elen merasa geli. "Ayolah, turun ke bawah. Papamu sedang menunggumu di taman. Dia sudah ada di dalam mobil."
"Baik, Elen," jawab Son lalu keluar dari kamar dan menutup pintu.
Elen berbalik ke samping kiri menuju tangga ke lantai 1. Son mengikutinya dari belakang dengan tas sekolah di punggungnya.
Mereka berjalan menuruni tangga hingga sampai ke bawah.
Son segera berjalan menuju rak sepatu di mana sepatu dan kaos kaki baru sudah disiapkan Elen. Tom tinggal memakainya dan mengikat tali sepatunya.
Kaos kaki putih setinggi betis dan sepatu hitam bertali merk familiar sudah dipakai Son dan dia melangkah dengan tegar seolah hendak maju ke medan perang padahal dia hendak ke sekolah.
Elen melihat keberangkatan Son yang keluar dari pintu utama dengan menuruni 2 anak tangga sebelum melangkah menuju mobil Tom yang diparkir.
Tom sudah siap di belakang kemudi dan ketika dia melihat Son berjalan ke arahnya dia pun segera menghidupkan mesin mobilnya.
Son sudah sampai di samping pintu mobil sebelah kiri. Dia membukanya lalu masuk ke dalam setelah melepaskan tas sekolahnya yang tadi dikaitkannya di kedua bahunya.
Son duduk di jok depan di samping papanya dengan tas sekolah yang setelah dilepaskannya dari belakang punggung ditaruhnya di atas paha.
"Sudah bawa semua buku pelajaran dan buku tulis?" tanya Tom sambil menyetir.
Son mengangguk.
Tom melirik ke samping. Walau merasakan sekilas anggukan Son, namun Tom tidak mendengar suaranya sama sekali. Karena itu dia bertanya lagi, "Iya, Son?"
Son melirik Tom. Dia tahu papanya menginginkannya menjawab dengan kata-kata, bukan dengan anggukan semata. "Iya, Pa," jawab Son.
"Nanti baik-baik di sekolah baru," kata Tom sambil membelokkan mobilnya ke kiri setelah dia melewati pos satpam di gerbang depan.
"Mm-mm," jawab Son.
Tom menarik nafas kesal dan mengembuskannya. Bagaimanapun dia mengajari Son supaya menjawab setiap pertanyaan orang dengan kata-kata jelas, anaknya tetap tak mau melakukannya. Dia melakukannya saat dia suka saja. Tak bisa dipaksa.
Tom hanya bisa mengurut dada namun tak bisa juga marah karena dia teringat bagaimana mendiang istrinya sangat menyayangi Son. Jadi Tom tak mau Kathy melihat dari atas sana kalau dia mengasari atau memarahi Son. Bisa-bisa Kathy datang mencarinya lewat mimpi dan menyatakan keberatannya.
Tom menjalankan mobilnya perlahan melalui jalan raya yang mulus dan lumayan ramai di pagi itu. Hari itu adalah hari pertama Tahun Ajaran Baru dan hari pertama Son menuju sekolah baru di mana dia akan duduk di kelas III SMP di usianya yang sudah genap 15 tahun. Sekarang bulan Juli sedangkan Son lahir di bulan Mei.
Setelah melalui jalan raya yang panjang berbelok ke kiri atau ke kanan dengan berhenti di beberapa persimpangan lampu merah, akhirnya mobil Tom sampai di depan sekolah Son.
Mobil-mobil diperkenankan parkir di dalam gedung sekolah yang sangat luas sehingga Tom pun melesatkan mobilnya memasuki halaman sekolah dan menuju tempat parkir.
Tapi ada juga mobil para orangtua murid yang parkir di depan gedung sekolah atau di luar dari pintu gerbangnya yang menghadap ke jalan raya yang ramai. Kadang ada mobil orangtua murid yang hanya berhenti sebentar untuk menaikkan atau menurunkan anak mereka di depan gedung, setelah itu langsung pergi lagi.
Karena ini hari pertama Son di sekolah baru, Tom merasa harus mengikutinya sampai ke dalam gedung sekolah sekaligus ke dalam kelas. Tom ingin tahu juga bagaimana suasana dalam gedung sekolah yang merupakan milik temannya.
Tom sudah menemukan tempat parkir mobil yang kosong yang bisa dia masukkan mobilnya ke situ sementara dia mengikuti Son masuk ke ruang kelas.
"Ayo, kita ke ruang kelas kamu," kata Tom pada Son saat dia selesai memarkirkan mobilnya dan manarik rem tangan.
Son pun membuka pintu mobil dan keluar dari sana sambil menenteng tas sekolahnya. Kemudian tas sekolah itu dikaitkannya di kedua bahunya hingga berada di belakang punggungnya.
Tom yang juga keluar dari mobil berjalan keluar dari tempat parkir dengan diikuti Son. Tom tidak menggandeng tangan Son seperti yang biasa dilakukan mendiang Kathy melainkan berjalan di depan Son tanpa menoleh sekali pun.
Selalu begitu walau mereka ke mana pun dan di mana pun. Tom selalu berjalan di depan Son tanpa khawatir Son akan mengikuti langkahnya atau tidak atau langkahnya yang cepat terkejar atau tidak. Pokoknya, Son sendiri yang harus cepat dan ligat mengikuti langkah kaki Tom supaya tidak sampai ketinggalan.
* * *