
Bab 82
Tampaknya Shania belum bisa mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari Son sekarang karena dia harus segera membawakan adegan di scene-2. Teman-temannya sedang menunggunya.
"Kita mulai sekarang," kata Shania dengan suara yang tidak bersemangat. Entah mengapa setelah mendengar percakapan antara Son dengan teman gadisnya yang bernama Aleena tadi membuat hati Shania seperti mendapat hantaman keras yang membuatnya bergetar dan sakit.
Perubahan mimik wajah dan ekspresi serta gerak-gerik Shania itu segera mendapat perhatian dari teman-temannya. Son juga bisa merasakan perubahan suasana hati Shania. Cuma dia tidak mengerti kenapa Shania tiba-tiba berubah menjadi tidak senang dan tidak bersemangat. Wajahnya yang tadi tersenyum manis dan bahagia sekarang terlihat lesu dan kecewa.
Son tak tahu bagaimana cara bertanya pada Shania. Karena itu dia hanya diam saja sambil melemparkan pandangannya kepada Shania dan ketiga temannya yang lain yang segera memulai adegan di scene-2.
Shania tidak lagi menatap Son. Dia berusaha menghalau perasaan tidak enaknya dengan cara berkonsentrasi melakukan percakapan dan gerak-gerik di scene-2.
Namun begitu, ternyata Shania tidak bisa berkonsentrasi penuh sampai melakukan kesalahan dialog berulang kali atau blank di saat dia harus mengucapkan kalimat-kalimat yang ditulis Son di naskah drama.
Joseph, Winy, dan Cyntia tentu saja kelabakan dan cukup terganggu karena kesalahan yang dibuat Shania berulang kali sampai mereka bertiga pun ikut-ikutan blank dan melenceng dari naskah drama.
"Haduh... salah lagi! Salah lagi! Ulang-ulang-ulang!" cetus Winy dengan suara kesal karena barusan dia salah berucap. Kalimatnya amburadul dan tidak sesuai dengan naskah drama.
"Haduh... kita sudah bersusah payah melakukan adegan dan dialog yang benar tapi sekarang kamu yang salah lagi," kesal Cyntia.
"Iya... kan tadi kamu dan Shania salah juga waktu mengucapkan dialog," Winy tak mau kalah. "Gara-gara kalian juga sih aku jadi ikut-ikutan salah. Nanti giliran Joseph pun salah lagi dia sampai kita harus take ulang berkali-kali," keluh Winy.
Joseph, Winy, dan Cyntia melirik Shania. Merasa diperhatikan dengan mimik wajah keberatan alias wajah protes oleh ketiga temannya, Shania pun merasa tak enak hati dan salah tingkah.
"Sori ya Win, Cyn, konsentrasiku agak buyar tadi jadi salah-salah terus. Kita ulangi lagi sekarang mulai dari adegan aku pulang ke rumah dengan wajah sedih," kata Shania.
"Nanti salah lagi?" kata Winy. "Harus sampai jam berapa kita latihan kalau salah-salah terus kayak tadi," keluh Winy.
"Lho, kalau pulang ke rumah sekarang berarti latihan kita gagallah!" protes Joseph.
Winy mendelik pada Joseph. "Kamu tak tahu, Seph, kalau orang lagi patah hati mana semangat lagi latihan drama," sindir Winy.
Walaupun Winy mengucapkan kalimat itu pada Joseph dan tanpa melirik atau melihat Shania, namun Shania tahu kalau dirinya yang dimaksud Winy.
Winy menyindirnya sebagai orang yang lagi patah hati dan tidak bersemangat melakukan tugas latihan hingga menyebabkan teman-temannya ikut-ikutan terpengaruh. Seolah-olah kesalahan dialog yang dibuatnya tadi adalah penyebab dari kesalahan dialog yang dibuat oleh Winy dan Cyntia juga.
"Sori, aku akan berusaha sebaik-baiknya. Tidak akan ada lagi kesalahan. Kita bisa mulai sekarang," kata Shania seperti berjanji.
"Benar ya?" tanya Winy memastikan.
"Iya, Win," jawab Shania pasti. Dia berusaha sekuat tenaga melupakan percakapan antara Son dengan Aleena di ponsel tadi yang terus mengganggu pikirannya hingga dia tak bisa berkonsentrasi penuh melakukan adegan dan dialog yang benar.
"Iya, gtiu dong! Tugas harus diutamakan," kata Winy.
"Betul, kita sedang latihan drama untuk tugas sekolah. Yang lain-lain usah dipikirkan," ingat Cyntia.
"Iya... memang harus begitu," Joseph ikut-ikutan berkomentar.
Son yang memperhatikan percakapan antara keempat temannya itu hanya bisa diam dan termenung. Bingung apa salahnya. Dia sama sekali tidak berbuat salah, tapi kenapa seolah-olah dia yang disalahkan?
* * *