
Bab 140
"Ayo, Shan, kita pulang," ajak Winy pada Shania yang masih duduk, sementara Joseph, Cyntia, Aleena, dan Son termasuk Winy sendiri sudah berdiri.
"Iya, ayolah, Shan, apa yang kamu pikirkan?" tanya Cyntia.
Joseph ikut menimbrung, "Sudah sore nih, Shan. Nanti kita terlambat sampai di rumah."
Shania bangkit dari duduknya. Dia melengos pergi sambil membuang nafas kesal.
Shania mengambil langkah duluan untuk meninggalkan tempat duduk keramik di mana dia dan teman-temannya berkumpul.
Shania sama sekali tidak menoleh ke arah Son yang tadi menatapnya lekat disebabkan dirinya yang tidak bereaksi melihat Son yang balik bersama Aleena. Bahkan dia terkesan cuek pada apa yang terjadi antara Son dengan Aleena. Di mana Aleena menyepak kaki, mencubit lengan, dan menjewer telinga Son. Sebelumnya, Aleena menyikut lengan dan mengetuk kepala Son dulu.
Walaupun Shania jelas mendengar umpatan kata-kata Aleena pada Son, namun dia seolah tidak terpengaruh alias hanya diam saja. Itu adalah Aleena yang menyinggung namanya lagi padahal suasana tadi sudah tenang setelah Son membawa Aleena kembali.
"Eh... Shan...! Kamu mau ke mana?" panggil Joseph pada Shania yang sudah melangkah pergi.
"Ya jelas pulanglah, Seph!" jawab Cyntia. Emang mau ke mana lagi sudah jam segini?"
"Iya, ayo kita pulang!" ajak Winy pada Joseph dan Cyntia tanpa menoleh pada Son dan Aleena yang berdiri di sisi lain.
Joseph, Winy, dan Cyntia pun melangkah pergi mengikuti jejak Shania. Sementara Son dan Aleena yang barusan bersitegang alias beradu mulut saling memandang. Son memandang Aleena, Aleena juga memandang Son. Keduanya tampak bengong karena pertunjukan drama mereka tidak berhasil memancing keributan lagi seperti tadi. Joseph, Winy, Cyntia, apalagi Shania seolah tak peduli pada Son dan Aleena yang bersilat lidah. Mereka langsung meninggalkan Son dan Aleena.
"Kenapa kamu tatap aku?" tanya Aleena pada Son.
"Apanya gara-gara aku?" tanya Aleena.
"Ya gara-gara kamu suasana jalan-jalan kita ke mal ini jadi ricuh dan tak nyaman," kata Son.
"Lha, itu gara-gara kamu, Son. Kalau kamu tak mengacuhkanku dan mengabaikanku, aku tak akan begitu. Kamu selalu sengaja memancing emosi orang, Son. Kamu suka membuat orang marah," kritik Aleena.
"Lha, bukannya kamu yang suka membuat orang marah?" protes Son.
"Ya sudahlah, malas berdebat denganmu. Kita berdua sama-sama suka membuat orang marah. Kita berdua yang salah. Son dan Aleena yang salah. Mereka semua benar. Adil kan?" kata Aleena.
"Malas berdebat denganmu," kata Son. "Aku.mau pulang sekarang. Kamu sendirian tinggal di mal ini ya? Malam-malam kamu jadi satpam yang menjaga seluruh mal ini," usil Son.
"Hah?! Tega sekali kamu!" Aleena langsung memukul-mukul lengan Son dengan kedua tangannya. "Sudah tahu aku takut hantu. Malam-malam pula kamu suruh aku msnjaga seluruh mal ini. Nggak mau! Nggak mau!" seru Aleena sambil merengek-rengek seperti anak kecil sementara kedua tangannya terus memukuli lengan Son.
"Lha, yang ada hantu itu kan di toilet kafe yang kemarin, bukan di sini!" kata Son.
"Pokoknya aku nggak mau!" Aleena mulai menangis.
"Hei...! Cengeng! Jangan menangis! Sikit-sikit nangis! Jangan lagi kaupukuli tanganku! Sakit tahu! Ayolah kita pulang. Nanti kita tertinggal. Mereka sudah jauh," kata Son sambil menghindari pukulan Aleena dan melangkah pergi.
"Tunggu aku, Son!" seru Aleena. Dia berlari kecil mengejar Son yang berjalan cepat.
* * *