
Bab 162
Tak lama setelah Shania duduk, Tom turun dari lantai atas. Dia berjalan mendekati sofa yang sedang diduduki Aleena, Shania, dan Son.
Melihat kedatangan Tom, Aleena, Shania, dan Son pun segera bangkit dari duduk mereka dan berpaling ke arah Tom yang sedang menuju ke arah mereka hingga akhirnya sampai.
"Selamat sore, Om," sapa Shania ketika melihat Tom sudah berdiri di hadapan mereka.
"Iya, selamat sore, Nak...?" jawab Tom sambil menatap Shania.
Kesan pertama Tom, Shania adalah seorang gadis belia yang cantik, lembut, dan mempesona. Kulitnya halus dan putih seperti rambutnya yang panjang dan wangi. Shania memiliki aura khas seorang wanita yang tenang, sejuk, dan lemah lembut.
"Shania, Om. Nama saya Shania," jawab Shania sopan untuk memperkenalkan dirinya kepada Tom.
"Oh, Shania. Teman sekolahnya Son ya?" tebak Tom.
"Betul, Om. Saya dan Wilson teman sekelas," beri tahu Shania.
"Ya, baguslah," Tom mengangguk sambil tersenyum. "Silakan duduk," dia mempersilakan Shania untuk duduk kembali di sofa.
Setelah itu, Tom melirik Aleena dan berkata, "Duduklah, Aleena."
"Iya, Om," Aleena mengangguk dan duduk kembali di sofa seperti Shania dan Son.
Tom juga duduk bersamaan dengan mereka bertiga setelah dia masuk ke celah sofa.
"Cerita apa, Om?" tanya Shania balik.
"Iya, cerita kalian tadi sebelum Om datang," jawab Tom sambil mengangguk pada Shania.
"Nggak ada cerita apa-apa, Om," jawab Shania. "Cuma Wilson bilang tadi mencari-cari bukunya yang hilang. Tak tahunya terbawa olehku tanpa sengaja."
"Oh, jadi bukunya terbawa olehmu?" tanya Tom.
"Betul, Om. Kami tadi latihan drama di sini," Shania menunjuk ruang tamu tempat di mana mereka berada. "Tugas Bahasa Indonesia. Wilson yang menulis naskah dramanya di buku itu. Setelah latihan sesuai isi naskah, tak sengaja bukunya ikut terbawa olehku di dalam tas. Jadi aku balik kembali ke rumah ini untuk mengembalikan buku itu."
"Oh...," Tom manggut-manggut mendengar cerita Shania. Gadis belia yang satu ini mau juga bicara panjang lebar dengannya seperti Aleena. Tidak seperti Son yang pendiam dan jarang mau bicara, apalagi sampai memberi tahu dan bercerita panjang lebar.
Seandainya saja Son mau cerita banyak pada Tom seperti Aleena dan Shania, pasti banyak hal juga yang bisa dibaginya pada papanya. Jadi Son pun tidak perlu memendam perasaannya sendiri yang menjadi beban baginya karena tidak diceritakan.
Tom akan tahu lebih banyak tentang anaknya bukan dari orang lain atau dari temannya melainkan dari Son sendiri. Karena Son sendiri yang tak mau cerita atau memberitahukan hal-hal kepada papanya, maka Tom pun jarang tahu tentang anaknya itu terutama tentang sekolahnya.
"Iya, kamu baik sekali, Nak. Mau segera mengembalikan buku Son yang tak sengaja terbawa pulang," puji Tom sambil tersenyum kecil.
"Iya, Om, aku takut Wilson mencari-cari bukunya semalaman, jadi aku langsung balik lagi ke sini untuk mengembalikannya supaya dia tidak khawatir," alasan Shania.
Padahal sebenarnya, bukan itu alasan utama Shania balik lagi ke rumah Son. Melainkan karena dia was-was dan cemas memikirkan atau membayangkan Son dan Aleena ditinggal berdua saja di rumah walaupun ada Ellen tapi Elen belum tentu menemani Son dan Aleena.
* * *