Substitute Mom

Substitute Mom
Son dengan Kathy yang Sakit di Pantai



Bab 25


"Ayo, sekarang kita berangkat. Aku sudah siap," kata Kathy sambil memandang Elen, Jessica, dan Son.


Mendengar ajakan Kathy, Elen, Jessica, dan Son pun bersiap-siap. Mereka mengikuti langkah kaki Kathy menuju ruang tamu kemudian keluar dari pintu utama.


"Barang-barang yang hendak dibawa ke pantai sudah kan semuanya?" tanya Kathy sambil berjalan mendekati mobilnya yang diparkir.


"Sudah," jawab Elen dan Jessica bersamaan.


"Taruh di bagasi belakang saja," kata Kathy yang berdiri di belakang mobil sambil memberi isyarat pada Elen dan Jessica supaya menyerahkan padanya tas berisi barang-barang yang hendak dibawa ke pantai.


Elen dan Jessica menaruh tas yang mereka pegang ke bagasi belakang mobil. Setelah disusun rapi, Kathy pun menutup pintu bagasinya.


Melihat Kathy sudah siap, Elen dan Jessica pun bergegas masuk ke mobil bersama Son. Jessica duduk di jok depan di samping Kathy yang akan menyetir sedangkan Elen duduk di jok belakang bersama Son.


Kathy ikut masuk ke mobil dan menghidupkan mesin mobil kemudian menjalankannya perlahan menuju pintu gerbang yang segera dibuka tukang kebun. Setelah itu keluar dari villa dan meluncur di sepanjang kompleks pervillaan sebelum sampai di pos satpam bagian depan kompleks.


Kathy melambaikan tangannya pada 2 orang satpam yang berjaga di situ. Mereka mengenal Kathy sebagai istrinya Tom. Keduanya adalah suami istri yang ramah yang merupakan penghuni salah satu villa di kompleks pervillan yang mereka jaga.


Tentu saja selain pos satpam di bagian depan, ada banyak pos satpam di tiap belokan atau di jalan-jalan di dalam kompleks. Mereka berjaga-jaga di pos masing-masing.


Mobil yang dikendarai Kathy meluncur perlahan membelah jalan raya menuju pantai yang hendak mereka kunjungi. Kathy harus menyetir 2 jam untuk sampai di sana. Dalam kondisi tubuh yang kurang fit dan perut yang masih kosong karena belum sarapan, Kathy mencoba untuk tetap fokus melihat jalan raya dan menyetir dengan baik supaya bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan.


Dua jam kemudian mobil yang dikendarai Kathy sampai di pantai setelah melewati jalan yang panjang dan memasuki jalan-jalan kecil yang di kiri kanannya ditumbuhi pepohonan.


Kathy memarkirkan mobilnya di area parkir mobil yang kebetulan pada hari ini tidak begitu ramai karena bukan hari Minggu atau hari libur walaupun sedang masa liburan sekolah.


"Ayo kita turun," kata Kathy pada Elen, Jessica, dan Son saat mobil sudah terparkir dengan baik.


Ketiganya segera turun dari mobil mengikuti Kathy yang berjalan ke bagasi belakang untuk mengeluarkan tas-tas yang tadi ditaruh di sana.


Setelah tas-tas itu dikeluarkan dan dipegang oleh Elen dan Jessica, Kathy pun menggandeng tangan Son berjalan menuju pondok-pondok yang disediakan untuk para pengunjung pantai.


Sesampainya di satu pondok, Kathy menyuruh Elen dan Jessica berhenti.


Seorang pemilik pondok menawarkan pondok itu pada Kathy untuk disewa selama beberapa jam dengan harga tertentu. Setelah Kathy menyetujui harganya, sebuah tikar pun digelar sebagai alas pondok yang terbuat dari kayu dan bisa diduduki atau ditiduri. Penyewa pondok bisa rehat di sana sambil memandang ombak laut yang berdebur di tepian pantai.


Elen dan Jessica menaruh tas yang mereka bawa ke atas tikar dan masuk ke dalam pondok untuk duduk di sana. Begitu juga dengan Kathy dan Son.


"Syukurlah, akhirnya kita bisa rehat di sini. Capek sekali di perjalanan," kata Kathy saat dirinya sudah duduk di dalam pondok.


Son melihat mamanya. Jessica juga melihat Kathy. Sedangkan Elen melirik Son.


"Wah, wajah Bu Kathy kelihatan pucat!" kata Jessica sekonyong-konyong saat dia melihat rona wajah Kathy yang kurang bagus.


"Elen ikut melirik Kathy. "Betul juga, Kath. Kamu kelihatan pucat," kata Elen dengan tatapan mata lekat ke wajah istri Tom itu.


"Iya, aku memang agak lelah," jujur Kathy. "Kurasa aku harus makan sesuatu sekarang."


"Bu Kathy mau makan apa? Biar aku yang belikan saja," kata Jessica.


"Kamu tahu di mana belinya, Jes?" tanya Kathy.


"Tahu, Bu. Kita kan pernah ke sini sebelumnya. Rumah makannya ada di ujung sana," tunjuk Kathy ke satu arah yang berada di bagian ujung dari deretan pondok-pondok.


"Betul, Jes," Kathy mengangguk lemah. "Memang di ujung situ belinya. Seharusnya kita ke sana saja biar langsung pesan dan makan di sana."


"Tapi Bu Kathy kelihatan kurang fit untuk berjalan hingga ke sana. Jauh juga, Bu. Biar aku yang belikan dan antar ke sini saja," kata Jessica lagi. "Bu Kathy mau makan nasi dengan seafood?"


"Iya, Jes. Apa saja boleh," Kathy mengangguk. "Yang penting bisa mengisi perutku yang keroncongan," Kathy tersenyum getir.


"Aku ke sana sekarang ya, Bu," Jessica bangkit dari duduknya dan keluar dari pondok.


"Tunggu dulu, Jes. Ini uangnya," Kathy mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak 5 lembar dari dompetnya dan menyerahkannya pada Jessica


"Wah, banyak sekali, Bu," kata Jessica.


"Nggak apa-apa, kamu pegang saja dulu. Kalau ada sisa baru balikkan " kata Kathy.


"Iya, Bu. Aku ke sana sekarang," Jessica segera berjalan meninggalkan pondok dengan kaki bersandal jepit menapaki pasir putih.


Memang mereka semua memakai sandal karena ke pantai yang banyak pasir putih di sekelilingnya Dengan memakai sandal akan lebih gampang mencucinya dari pasir yang melekat Tinggal dicuci dengan air laut di tepian pantai. Begitu juga dengan kaki yang terkena pasir putih.


Seperginya Jessica, Kathy berkata pada Elen. "Aku agak pusing. Kurasa aku harus baring sejenak. Kamu jagain Son, Elen."


"Iya, Kath. Baringlah," kata Elen.


Kathy segera membaringkan tubuhnya yang terasa nggak nyaman ke atas tikar di dalam pondok. Dia tak sempat lagi memperhatikan Son yang dari tadi terus melihatnya dengan tatapan ingin tahu.


Walaupun Son tak bicara pada mamanya, tapi hatinya diam-diam merasa gelisah. Entah mengapa dia merasa agak khawatir melihat kondisi mamanya yang buru-buru berbaring tanpa sempat melihatnya. Sepertinya mamanya benar-benar butuh istirahat tanpa adanya gangguan dari siapapun.


Kathy memejamkan matanya untuk mengatasi kepalanya yang terasa pusing dan matanya yang berkunang-kunang. Dia bahkan tak berani membuka mata sampai pusingnya berkurang atau pandangan matanya kembali normal.


"Mamamu sedang sakit," kata Elen pada Son yang terus memandang mamanya sedari tadi.


"Sakit apa, Elen? Kenapa tidak minum obat?" tanya Son.


"Belum sarapan. Perut masih keroncongan nggak boleh minum obat kecuali obat mual," jawab Elen.


* * *