
Bab 40
Shania merasa tangannya gemetar. Entah karena dinginnya embusan AC di ruangan tertutup atau karena di kelas tinggal dia dan Son.
Shania tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Hati bergetar, jantung berdegup kencang, tengkuk dan punggung dingin, dan tangan gemetar.
Shania juga tidak pernah mengalami efek yang demikian besar saat bertemu seorang pria. Ini kali pertama dia dibuat kacau balau bertemu dan melihat Son.
Apa yang harus kulakukan? pikir Shania dalam hati. Apakah aku harus keluar kelas sekarang? Ohya, aku harus keluar kelas karena aku tak mungkin bisa menahan perasaan ini jika terus begini. Tak boleh kami cuma berdua saja di kelas.
Shania bermaksud segera bangkit dari bangkunya dan berjalan meninggalkan ruangan kelas. Tapi entah kenapa kakinya terasa kaku dan tak bisa digerakkan.
Daripada terus begini, Shania memutuskan mencoba menyapa Son yang duduk di belakangnya. Menyapa murid baru yang dalam sekejap berhasil membuatnya kacau seperti ini.
Shania membalikkan badannya untuk melihat Son yang duduk di belakangnya. Kebetulan, saat Shania menoleh ke belakang dengan punggung yang juga dibalikkan, Son sedang mengangkat kepalanya dari buku catatan yang sedang dibacanya ulang.
Tadi Son mencatat dengan cepat saat Bu Ria menerangkan dan belum sempat membaca ulang hasil rangkumannya di buku catatan.
"Mmm... Wilson," Shania memanggil nama Son dengan cepat.
Son menatap Shania, menunggu apa yang hendak dikatakannya. Mata Son terpana saat Shania membalas tatapannya tepat di kedua matanya. Tatapan mereka beradu. Cepat, dekat, dan lekat.
Apa yang hendak kukatakan tadi? pikiran Shania tiba-tiba buntu saat dia tersadar dari tatapan mata Son di kedua matanya. Apa... apa tadi? Aduh... kenapa jadi lupa? Ohya, aku ingat sekarang, kata Shania dalam hati.
"Aku... aku...," lidah Shania terasa kelu saat hendak mengucapkan sesuatu pada Son yang masih menatapnya.
Seraut wajah imut yang demikian cantik dan lembut sedang dinikmati Son seolah tak ingin kehilangan waktu satu detik pun. Son bukan hanya melihat mata Shania, tapi juga hidungnya, bibirnya, pipinya, dagunya, dan tentu juga rambutnya. Son menyukai semua yang ada pada Shania. Bahkan suara Shania yang terdengar merdu dan serak-serak garing memukau hati Son sampai Son merasa seperti ada sesuatu yang jatuh dari hatinya.
"Aku... boleh pinjam catatanmu?" akhirnya Shania menemukan kalimat yang cocok untuk diucapkannya pada Son. "Iya? Aku boleh pinjam?" ulang Shania saat dia melihat Son tak menjawab.
Son tersadar dari keterpanaannya di wajah Shania. Sepertinya Shania hendak meminjam catatanku, kata hati Son yang masih tak tahu harus menjawab apa.
Shania memberi isyarat pada Son dengan menunjuk buku catatan yang ada di meja Son.
Shania tersenyum. "Iya, terima kasih." Dia menerima buku catatan yang disodorkan Son lalu membalikkan punggungnya kembali ke posisi semula.
Setelah Shania menghadap kembali ke depan kelas, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Son juga menarik napas panjang tanpa suara seolah takut kalau-kalau Shania mendengarnya. Dia bersusah payah menenangkan detak jantungnya yang tak menentu sejak dari kelas yang sunyi sampai ke Shania yang meminjam catatannya.
Son sendiri tak mengerti kenapa perasaannya begitu bergemuruh saat menatap wajah Shania, apalagi saat Shania memanggil namanya dan membalas tatapannya. Son seolah jatuh terempas ke satu tempat asing yang pada akhirnya dia akan mengerti kalau tempat itu adalah "cinta".
Hati Son jatuh untuk Shania. Ini adalah cinta pertamanya Son. Bagi Shania, ini juga pertama kalinya dia mengalami beragam rasa yang istimewa dalam dirinya ditambah reaksi tubuh yang juga tak pernah dia alami sebelumnya saat banyak cowok yang mendekatinya, berbicara, sampai menatap wajahnya dengan penuh kekaguman dan keterpesonaan. Shania hanya merasa biasa saja. Tidak ada rasa apa-apa untuk mereka semua. Kecuali kali ini saat dia berhadapan dan bertatapan dengan Son.
Shania menduga kalau dia sudah jatuh cinta pada Son saat pandangan pertama. Shania bukan hanya menyukai fisik dan wajah Son ditambah gerak-gerik dan ekspresi wajahnya. Tapi juga menyukai karakternya dan yang terutama adalah aura laki-laki yang terpancar dari dirinya.
Aura laki-laki jantan yang begitu kuat yang membuat Shania tak mampu mengendalikan diri. Perasaannya sangat terpengaruh. Tidak tenang, gelisah, resah. Namun Shania juga tak berani mengutarakan atau menunjukkan apa yang berkecamuk di dadanya.
Shania membolak-balik catatan Son yang kini tergeletak di mejanya. Sekilas dia melihat tulisan Son sangat bagus. Dengan telapak tangan dingin Shania menyalin catatan Son ke buku catatannya sendiri. Dia memyalinnya dengan cepat dan tanpa henti untuk mengalihkan semua energi yang tengah bergolak di tubuhnya ke atas lembaran kertas buku catatan. Kalau tidak begitu maka dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya dengan beragam macam rasa yang seolah-olah sedang mempermainkan hatinya.
Apa yang disalinnya tidak bisa disimak Shania karena pikirannya melayang ke orang yang duduk di belakangnya. Walaupun Shania menyalin kalimat-kalimat dari buku catatan Son ke buku catatannya sendiri, namun pikirannya tidak bisa konsentrasi menyimak kalimat-kalimat yang ditulisnya itu. Dia gagal fokus.
Son yang duduk di belakang Shania pun merasakan hatinya masih berdebar-debar walaupun tak secepat tadi lagi saat Shania menatapnya dan memanggil namanya.
Setelah buku catatannya dipinjam Shania, Son tidak melakukan apa-apa. Dia hanya duduk di bangkunya sambil berjaga-jaga kalau-kalau Shania kembali berbalik menghadapnya seperti tadi lalu menatapnya. Maka kali yang kedua itu Son sudah harus bisa menyembunyikan perasaannya dengan bersikap senormal mungkin tanpa ekspresi wajah yang berlebihan seperti terpana atau terpukau.
Ruang kelas masih sunyi dan dingin seperti tadi saat lonceng istirahat pertama berbunyi. Tampaknya sebentar lagi lonceng masuk akan berbunyi yang berarti momen berdua Son dan Shania tinggal sebentar lagi. Sekitar 5 menit lagi.
Sisa waktu 5 menit bagi Shania sangat sulit dilewatinya karena perasaannya belum juga tenang. Apalagi dia merasakan Son seperti sedang mengawasi dirinya dari belakang. Punggungnya terasa dingin memikirkan laki-laki yang memancarkan aura yang menggetarkan itu sedang memperhatikannya. Dia tak tahu apa yang ada pikiran Son. Seandainya saja dia tahu Son begitu mengaguminya. Mungkin dia akan terbang ke awang-awang begitu tahu dirinya disukai oleh laki-laki yang berkarakter kuat yang juga memiliki aura yang disukai banyak wanita.
Sedangkan bagi Son, Shania adalah gadis paling cantik yang pernah dijumpainya. Dia menyukai wajah dan tubuh Shania yang imut. Dia menyukai suara Shania yang serak-serak garing. Dia menyukai rambut Shania yang harum dan dikuncir. Dia juga menyukai kulit Shania yang halus, lembut, dan mulus.
* * *