Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Pertengkaran Shania dan Luna



Bab 66


Son dan Shania duduk berhadapan dan mulai membuka bungkusan nasi lemak masing-masing. Ada sendok plastik yang dikaitkan di dalam karet yang mengikat kertas pembungkus nasi lemak itu.


"Wah, tampaknya lezat sekali," kata Shania sambil tersenyum dan melirik Son.


Son tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mulai memakan nasi lemaknya. Begitu juga Shania.


Di samping nasi lemak itu adalah 2  kantongan plastik yang berisi minuman jus yang dibuat oleh pemilik kantin dari campuran bubuk minuman dalam sachet dan air putih ditambah es batu.


Keduanya tampak asyik menikmati sarapan bersama. Tak mereka sadari jika sedari tadi 6 sekawan yang duduk di meja yang tak jauh dari situ terus mengawasi dengan mata iri dan kurang senang.


Sebenarnya selain Richard, 6 sekawan yang juga termasuk Fredy, Mark, Desy, Luna, dan Katrin tidak memiliki masalah dengan Shania dan Son. Mereka bahkan tidak mengantipati Shania  maupun Son yang tidak ada hubungannya dengan mereka.


Namun karena melihat teman mereka yang merupakan ketua geng mereka yaitu Richard terus-menerus dibuat sedih dan patah hati oleh Shania selama 2 tahun ini, mau tak mau mereka berlima ikut terdampak juga dan ikut-ikutan membenci Shania.


Padahal Richard tidak membenci Shania. Dia menyukai Shania jadi sudah tentu dia tidak antipati pada Shania. Dia cuma tak habis pikir saja kenapa Shania tidak menyukainya padahal dia bukannya memiliki sifat yang tidak baik.


Richard orangnya ganteng, ortunya kaya, sifatnya setia kawan, nggak sombong, baik, royal pada teman, perhatian. Cuma kalau lagi berhadapan dengan Shania yang terus mencuekinya, Richard bisa tiba-tiba marah dan mengeluarkan kata-kata protes atau kata-kata kasar. Seperti kemarin itu saat dia menggebrak meja Shania di saat Shania tidak menjawab pertanyaannya.


Kelima temannya sudah tentu selalu mengalah dan membela Richard karena Richard sangat baik dan royal pada mereka. Walaupun mereka geram pada Shania, namun tidak berani mengusik atau menyakiti Shania. Karena jika itu mereka lakukan, Richard pasti akan marah dan bisa-bisa mereka dihajar gara-gara berani macam-macam pada Shania.


Karena geram melihat Richard yang terus-menerus seperti dipandang remeh oleh Shania selama 2 tahun ini, apalagi sekarang melihat Shania seperti sudah punya teman baru, cowok pula yang begitu diistimewakan, mau tak mau ada yang tak bisa lagi menahan amarah di dada di antara kelima teman Richard itu.


Amarah itu sudah memenuhi rongga dada Luna dan Mark yang paling geram dibandingkan ketiga temannya yang lain.


Kali ini, tanpa mendapat persetujuan Richard, dan seolah sudah tak peduli lagi Richard bisa terima atau tidak, Luna bangkit dari bangkunya di belakang meja yang sedang mereka duduki.


Luna berdiri tiba-tiba dan berjalan meninggalkan mejanya menuju meja di mana Son dan Shania sedang menikmati nasi lemak.


Shania mengangkat wajahnya sekilas melihat Luna yang berdiri di belakang Son dan yang mendelik padanya dengan tatapan kurang senang.


Hati Shania tercekat.


Luna tiba-tiba duduk di samping kanan Son. Di samping kiri Son adalah dari arah mana Luna berjalan mendekatinya tadi alias di mana terdapat Richard dan kawan-kawannya sedang duduk mengawasi mereka.


Richard mengerutkan kening. Heran kenapa Luna berjalan ke meja Shania lalu duduk di samping Son hingga dia dan Shania bisa saling bertatapan karena posisi hampir berhadapan.


Mau apa Luna? pikir Richard di antara rasa kaget dan khawatir. Jangan-jangan Luna hendak mengasari Shania. Gawat kalau begitu! pekik Richard dalam hati. Jangan sampai begitu karena itu hanya akan membuat Shania semakin membencinya karena dia tahu Luna itu temannya. Bisa-bisa Shania berpikir Richard yang menyuruh Luna melakukan sesuatu yang akan segera dilakukan oleh Luna sekarang.


"Halo," Luna menoleh pada Son yang duduk di sampingnya. Dia melemparkan seulas senyum yang sulit dipahami entah senyum ramah atau senyum sinis.


Son tak menjawab. Dia hanya menghentikan makannya sejenak dan mengangkat kepala menoleh pada Luna. Hanya sekilas, lalu Son kembali meneruskan makannya.


Luna menarik napas panjang, mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Satu Shania yang sombong saja sudah membuat Luna dan kelima temannya pontang-panting dibantai rasa marah dan kesal. Apalagi sekarang ditambah dengan murid baru ini yang tak kalah dingin dan cuek.


"Halo..., tidak bisa jawab ya? Atau tidak dengar? Atau sombong? Atau... aku mengganggu makanmu? Sori ya... siapa namamu tadi?" Luna berkata-kata lagi di samping Son yang seolah tak mempedulikan kehadirannya. Nada suara Luna terdengar sinis. Son merasa Luna seperti sedang menyindirnya. Namun Son tak peduli dan terus menekuni makanannya.


"Hhhh... sombong sekali!" kata Luna. Dia benar-benar kheki dan kesal plus marah karena sapaannya nggak digubris.


"Oh..., ada minuman segar di sini. Jus apa ini? Coba kulihat," kata Luna sambil meraih bungkusan jus yang ada di samping Son dan membuka karet yang mengikatnya. Pipetnya segera dia buang ke samping dan dengan gerakan yang tiba-tiba Luna memuncratkan minuman di dalam plastik itu ke baju kemeja Son hingga membasahi bagian lengan dan bahu Son.


"Kurang ajar!" Shania yang duduk di depan Son yang duluan marah dan bangkit dari duduknya dengan spontanitas. "Apa kami mengganggumu?!" bentaknya.


* * *