
Bab 134
"Gimana, Shan?" Winy menatap Shania, menunggu jawabannya.
Shania tampak tercengang sebentar sebelum berkata. Suaranya terdengar lesu dan wajahnya terlihat kuyu, "Terserah kalian. Aku tidak ikut. Aku di sini saja menunggu kalian."
"Oh, begitu ya?" Cyntia manggut-manggut. "Ayolah kalau begitu, kita cari Aleena," ajaknya pada Winy dan Joseph. Cyntia juga menatap Son. "Ayo, Wilson, kita cari temanmu itu!"
Son tampak ragu bergerak. Matanya memandang Shania yang melangkah mendekati tempat duduk keramik lalu duduk kembali di sana..
Son agak ragu membiarkan Shania sendirian menunggu. Itu sama saja dengan dia membiarkan Aleena sendirian berkeliaran tanpa berusaha mencarinya. Son juga tidak tega membiarkan Shania sendirian menunggu walaupun dia tidak ke mana-mana.
"Kalian tidak usah ikut mencari Aleena," kata Son setelah berpikir sesaat. "Biar aku sendiri saja. Kalian tunggu di sini saja bersama Shania. Tunggu aku balik bersama Aleena. Atau kalau tidak, kalian boleh pulang duluan. Nggak apa-apa meninggalkan aku dan Aleena berdua. Kalau aku sudah ketemu dia, kami bisa pulang sendiri naik taxol."
"Hah?" Shania yang sedang duduk mengangkat kepalanya untuk menatap Son. "Tidak, Wilson. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri," katanya. "Kamu pergilah mencari Aleena, kami akan menunggumu di sini," Shania pun mengambil jalan tengah dengan mengalah karena Son sudah menunjukkan perhatiannya barusan dengan menyuruh teman-temannya menemani Shania saja alias tidak usah ikut mencari Aleena.
"Oh, baiklah kalau begitu," kata Joseph. "Kami di sini saja menemani Shania. Kamu pergilah mencari temanmu itu, Wilson."
Son terdiam sesaat.
Winy dan Cyntia ikut menatap Son. Cyntia berkata padanya, "Iya, Wilson. Cepat pergi cari Aleena sampai ketemu. Mana tahu sesuatu terjadi padanya karena ponselnya pun tak dijawab. Kami akan menunggumu di sini sampai kamu balik bersama Aleena. Kalau Aleena tak ketemu, kita harus singgah ke rumahnya untuk memberitahukan pada keluarganya."
"Wah, jangan sampai dia benar-benar hilang seperti kejadian yang biasanya terjadi. Kalau sudah 2 kali 24 jam belum juga pulang ke rumah, sudah boleh dilaporkan ke polisi sebagai orang hilang atau dicari," kata Winy.
"Iya, memang banyak tindak kejahatan sekarang, Seph. Kita harus lebih berhati-hati," kata Cyntia.
"Kalian jangan menakut-nakuti akulah," kata Joseph.
"Kami tidak menakut-nakuti," sangkal Winy. "Lagian, jangan cepat terpancing rasa takut. Karena orang sekarang rata-rata punya sifat menakut-nakuti orang lain karena pengaruh media sosial yang beritanya banyak yang menakut-nakuti."
"Iya, betul itu," setuju Cyntia. "Berita yang ngeri-ngeri dan bikin takut nggak boleh dibaca. Termasuk video kekerasan semacam tindak kekerasan atau krimininalitas jangan dilihat. Semua itu hanya akan membuat hati menjadi tidak tenang dan akan membuat diri sendiri menjadi takut karena jadi berpikir yang macam-macam."
"Iya, aku setuju dengan kata-kata kalian berdua," Joseph manggut-manggut sambil menatap Winy dan Cyntia.
"Gimana, Shan?" tanya Cyntia tiba-tiba pada Shania yang duduk diam saja.
"Apanya gimana?" tanya Shania balik.
"Oh, tidaklah. Kamu tidak menyimak percakapan kami ya?" tanya Cyntia balik. "Ya sudahlah," Cyntia berpaling pada Son. "Wilson," panggilnya. "Sekarang pergilah kamu mencari Aleena sampai ketemu."
Mendengar kata-kata Cyntia, hati Son tergerak. Dia bersiap-siap pergi untuk mencari Aleena.
* * *
: