Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son Mencari-cari Buku Tulisnya yang Berisi Naskah Drama



Bab 155


"Ternyata kamu masih beruntung, Son," kata Aleena. "Walaupun mamamu pergi di usia muda dan di saat kamu masih anak-anak, namun kamu segera mendapatkan penggantinya."


"Iya, betul,  Aleena. Kalau tidak ada Elen, aku tidak tahu bagaimana jadinya diriku," kata Son. "Dia memberiku perhatian dan kasih sayang yang tulus sejak aku bayi dan terutama semenjak kepergian mamaku, perhatian dan kasih sayangnya menjadi  full."


"Bagaimana dengan papamu?" tanya Aleena bagai teringat. "Dia sudah kehilangan mamamu di saat muda juga waktu itu. Kenapa dia tidak menikah lagi dengan wanita lain?"


Son menggigit bibir lalu menggeleng. "Tidak Aleena. Papaku sangat mencintai mamaku. Tidak ada wanita lain yang dia cintai selain mamaku. Karena itulah dia memilih untuk tetap setia pada mamaku dengan tidak menikah lagi hingga nanti," jawab Son.


"Oh... begitu ya?" Aleena mengangguk-angguk. "Tapi tidak begitu juga, Son," kata Aleena.


"Maksudmu?" tanya Son tak mengerti. Dia menatap wajah Aleena yang duduk di depannya.


"Begini, Son," Aleena mulai menjawab, "Tidak ada yang bisa meramalkan masa depan. Bahkan kejadian apa yang akan terjadi esok pun tidak ada yang tahu. Apalagi kejadian masa depan.  Mana tahu esok atau lusa hati papamu tersentuh lagi oleh seorang wanita selain mamamu dan dia memutuskan untuk menikah dengannya. Siapa yang tahu, Son?"


"Aku percaya papaku tidak akan menikah lagi," kata Son. "Dia tidak mungkin tega mengkhianati mamaku."


"Ya itu menurutmu," kata Aleena. "Tapi manusia itu bisa berubah bahkan gampang berubah. Tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk kesetiaan seorang pria."


"Ah, sudahlah," Son segera menepis rasa tidak enak di hatinya setelah mendengar kata-kata Aleena. Kenapa Aleena membuat hatinya tidak tenang dan susah? Kenapa tidak seperti tadi dia membuat hati Tom Simon senang dan puas?


Sementara Tom Simon mandi dan bersalin pakaian rumah di kamarnya di lantai atas, Son dan Aleena berbincang-bincang di ruang tamu yang mana mereka berdua duduk berhadapan di sofa besar.


"Kalian tadi latihan drama di sini ya?" tanya Aleena bagai teringat.


"Drama apa itu, Son?" Aleena ingin tahu. "Judulnya apa dan tentang apa? Ceritanya bagaimana? Alur ceritanya bagaimana?"


Mendengar pertanyaan Aleena yang bertubi-tubi, Son pun menjawab, "Drama tentang cinta sepasang insan yang tidak kesampaian karena yang cewek dijodohkan ortunya dengan cowok lain."


"Oh, begitukah? Sama seperti kisah Romeo dan Juliet yang sedih itukah?" Aleena penasaran.


"Hampir sama tapi tidak seluruhnya," jawab Son.


"Siapa yang menulis naskah dramanya?" tanya Aleena lagi.


"Aku," jawab Son.


"Wah, hebat sekali kamu, Son!" puji Aleena dengan sorot mata kagum dan berbinar.


"Biasa saja, Aleena," tangkis Son. "Kamu juga bisa menulisnya."


"Aku boleh lihat naskah drama yang kamu tulis itu? Aku ingin membacanya," kata Aleena.


"Oh, di mana ya tadi?" Son mencari-cari buku tulisnya yang tadi digunakan atau dibaca oleh teman-temannya sebelum mereka latihan drama. Tapi Son tidak menemukan buku tersebut. Di manakah bukunya itu yang berisi naskah drama "Kasih Tak Sampai" yang ditulisnya?


"Wah, ke mana hilangnya bukuku? Tadi masih ada di sini, di ruang tamu ini," kata Son sambil matanya mencari-cari ke sekeliling ruangan seperti ke atas dan bawah meja atau ke samping dan bawah sofa tapi belum juga berhasil menemukannya.


* * *