
Bab 105
"Kenapa bisa?" tanya Joseph tak percaya.
"Iya, kenapa bisa?" tanya Cyntia juga.
"Maksud kalian apa? Kenapa bisa?" tanya Winy sambil memandang Joseph dan Cyntia.
"Maksudku, saat Son berusia 8 tahun, pasti usia mamanya saat itu masih muda. Mungkin sekitar 30 tahun," kata Cyntia.
"Iya, aku juga berpikir demikian," kata Joseph.
Shania memandang Joseph, Winy, dan Cyntia yang sedang membicarakan mamanya Son. Dia sependapat dengan kata-kata Cyntia kalau mamanya Son pasti masih muda waktu dia meninggalkan Son.
"Mamamu kenapa saat itu, Wilson?" tanya Shania memberanikan diri.
Son menggigit bibirnya. Seketika terlintas lagi kejadian saat itu. Saat atau momen-momen mamanya meninggalkan dirinya. Meninggalkannya dengan tiba-tiba di suatu pagi yang hening dan mencekam. Saat itu, Kathy masih berusia 31 tahun dan Tom 33 tahun.
Sehari sebelum kepergian Kathy, dia masih bisa menyetir mobil membawa dirinya bersama Elen dan Jessica jalan-jalan ke pantai. Sebelum ke pantai itu, Kathy sudah tidak enak badan. Tapi dia memaksakan diri membawa mereka jalan-jalan ke pantai karena sudah berjanji. Lalu di pantai itu Kathy tiba-tiba demam, meriang, menggigil, dan berkeringat dingin.
Tapi Kathy masih bisa menyetir membawa mereka pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Bahkan malamnya masih bisa makan malam bersama dan mengobrol bersama Son dan papanya.
Di malam itu, terakhir kali Son melihat mamanya. Karena paginya Kathy tidak terbangun lagi. Dia tertidur lelap. Tidurnya adalah tidur panjang yang tak akan pernah terbangun lagi.
Hati Son amat sakit mengingat hal itu. Mengingat momen-momen kepergian mamanya. Dia merasa sangat sedih dan bersalah. Padahal itu bukan salahnya.
Tak terasa, sudut-sudut mata Son menghangat dengan 2 bulir air mata yang tiba-tiba menyeruak. Son cepat-cepat memalingkan wajahnya untuk menepis air matanya. Dia tak mau teman--temannya melihat air matanya. Terutama Shania.
"Nggak apa-apa kalau kamu tak mau menjawab, Wilson," ralat Shania buru-buru. Dia merasa tak enak hati melihat perubahan mimik wajah Son yang tiba-tiba.
Sebelumnya, Shania tak pernah melihat wajah Son sesedih itu.
"Mamaku tiba-tiba sakit," kata Son.
"Iya, sedih juga," kata Joseph sambil memasang wajah sedih dan tak berdaya.
"Kasihan ya," kata Winy dengan perasaan jujur.
"Iya," timpuk Cyntia. "Sekarang Wilson pasti berusia sama dengan kita, yaitu 15 tahun. Berarti sudah 7 tahun mamanya meninggalkannya."
Mereka sama-sama menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Lalu semenjak itu, Elen yang mengasuh dan merawat dirimukah?" tanya Cyntia.
"Iya," angguk Son.
"Dia sangat menjagamu ya?" tanya Shania. "Dia pasti sangat menyayangimu."
"Iya," angguk Son lagi. "Elen sangat baik padaku. Dia menganggapku seperti anaknya sendiri."
"Hmmm... untunglah kamu punya pengasuh yang baik, Wilson," kata Winy. "Seseorang yang tidak ada hubungan darah denganmu tapi dia sangat baik padamu dan sangat menyayangimu."
"Berarti Elen sudah lama bekerja di rumah ini," tebak Cyntia.
"Iya, sejak dia berusia 17 tahun. Sekarang Elen berusia 42 tahun," beri tahu Son.
"Oh...," teman-temannya pun mengangguk.
"Nggak apa-apa, yang penting ada seseorang yang menyayangi kita dengan tulus itu sudah cukup, Wilson," kata Shania.
"Iya, betul, Wilson," teman-temannya ikut menghibur Son.
Mendengar kata-kata teman-temannya itu, Son pun menghadirkan seulas senyum kecil di bibirnya.
* * *