Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Aleena Membuat Son Gusar



Bab 62


"Ayo bilang, berapa nomor WA-mu?" tanya Aleena terus memaksa.


"Sudah kubilang, aku nggak hapal!" jawab Son kesal.


Aleena mencemberutkan bibirnya. Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya mencengkeram sesuatu yang berada di kantong celana Son.


Son tentu saja kaget bukan kepalang dan secara refleks langsung menepiskan tangan Aleena dan memandang gadis itu dengan mata membesar.


"Apa yang kamu lakukan?! Mau Apa kamu?! hardik Son dengan suara keras.


"Hp-mu ada di kantong celanamu," kata Aleena.


"Ya, jadi?" tanya Son tak mengerti.


"Aku mau lihat nomor WA-mu," jawab Aleena.


"Oh...!" Son menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, "Tidak sopan caramu, Aleena," kata Son.


"Aku cuma mau tahu kamu membawa serta hp-mu atau tidak. Ternyata ada. Nah, sekarang bisa kamu keluarkan hp-mu dan lihat nomor WA-mu lalu kasih tahu aku," kata Aleena seperti memaksa.


"Lancang sekali," kata Son. Hufff... dia menarik napas panjang dan mengembuskannya lagi.


"Ayo, kenapa masih diam?" tanya Aleena yang kini berdiri di depan Son. Dia tidak bersandar di samping Son lagi. Hanya Son yang tetap bersandar di pohon.


Aleena memandang Son. Matanya menyapu seluruh wajah Son. Tapi Son tidak membalas tatapannya. Malah dia membuang pandang ke arah lain. Yang jelas, Son menghindari tatapan Aleena.


"Son, kenapa susah sekali? Cuma mengeluarkan hp yang ada di kantong celanamu dan membuka WA untuk melihat nomormu," kata Aleena.


Son mendengus. Membuang napas berat.


"Kenapa tak menjawab? Son! Son!" sentak Aleena.


"Apaaa?!" hardik Son. Dia membalas tatapan Aleena tiba-tiba.


Aleena yang kaget karena tiba-tiba Son menghardiknya dan menatapnya tajam pun terpana sesaat sebelum menjawab, "Lihat nomor WA-mu. Ayolah. Aku mau save nomormu," pinta Aleena.


Son tak menjawab. Tidak mengangguk maupun menggeleng. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Aleena. Hanya sekilas Son membalas tatapannya tadi.


Aleena gregetan karena Son tak menggubrisnya apalagi memenuhi permintaannya.


Tiba-tiba Aleena menggerakkan tangannya dengan cepat dan langsung merogoh hp android Son yang ada di kantong celananya.


"Heiii...! Kamu mau apa?!" Son benar-benar kaget dibuatnya.


Aleena sudah berhasil menggenggam hp android Son yang berada di dalam kantong dan langsung mengeluarkannya.


"Nah, sudah kudapat hp-mu!" seru Aleena dengan nada senang setelah hp itu berhasil digenggamnya.


"Kembalikan hp-ku!" kata Son dengan mata membesar yang tampak gusar.


Aleena menggeleng. Dia menyembunyikan hp android Son di belakang pinggangnya.


"Kembalikan padaku, Aleena!" ulang Son lagi. Dia berusaha menahan intonasi atau nada suaranya supaya tetap terdengar tenang dan lembut walaupun dalam hatinya tengah memercikkan bara api yang sepertinya akan segera meledak bila Aleena tak jua menuruti kata-katanya.


Aleena memandang Son terpana. Dia bisa melihat ke dalam mata Son yang berapi-api. Cowok itu sedang berusaha keras menahan emosinya.


Seandainya saja Aleena bukan cewek, pasti Son sudah menghajarnya sekarang juga dengan satu pukulan telak untuk merampas kembali hp-nya.


"I... i...ni... kukembalikan hp-mu...," kata Aleena yang merasa takut juga melihat sorot mata Son yang tampak gusar dan marah. Tatapannya sangat dingin dan menusuk. Tajam seolah-olah bisa melukai sampai ke ulu hati.


Son segera mengambil kembali hp-nya yang disodorkan Aleena dengan raut wajah ketakutan. Setelah itu dimasukkannya kembali ke dalam kantong celana ponggolnya.


Aleena memandang gerak-gerik dan perubahan ekspresi wajah Son dengan wajah pucat. Hatinya berdebar keras. Dia tak menyangka kalau Son bisa marah begitu hanya gara-gara Aleena mengambil paksa hp-nya. Habisnya diminta baik-baik nomor WA-nya Son tak mau kasih, jadi Aleena terpaksa lancang merogoh dan mengambil hp-nya dari kantong celana ponggolnya.


Aleena hendak mengatakan sesuatu tapi lidahnya terasa kelu. Dia takut jika salah ucap nanti Son bisa marah lagi. Karena itu Aleena menjadi diam tak tahu harus berucap apa.


Yang jelas, Aleena tak menyangka Son bisa kasar begitu. Apalagi terhadapnya yang notabene adalah cewek. Son bahkan menghardiknya dan memandangnya  gusar. Ternyata di saat marah, Son berubah menjadi sosok yang menakutkan.


Setelah hp-nya disimpan kembali ke dalam kantong celana ponggolnya, Son memalingkan wajahnya dari tatapan mata Aleena yang masih mengawasinya.


Barusan terlewati satu babak perselisihan yang menegangkan antara Son dan Aleena.


Beberapa menit mereka hanya berdiri berhadapan dan saling diam. Tampaknya mereka masih akan saling diam dan menata perasaan masing-masing yang masih bergejolak kalau saja Feby tidak datang mendekat.


Tante-nya Aleena dan teman SMA papanya Son itu sengaja keluar dari ruangan kafe untuk mencari Aleena dan Son yang sedari tadi belum kembali setelah bilang mau ke toilet. Feby merasa was-was jika terjadi sesuatu pada Aleena maupun Son, karena itu dia mencari mereka di luar ruangan kafe dan menemukan keduanya sedang berdiri berhadapan di bawah sebatang pohon yang ada di halaman kafe.


"Son, Aleena, kenapa kalian berdiri di sini?" tanya Feby heran.


"Tante," Aleena pun tersadar mendengar teguran tantenya itu dan dia bernapas lega saat melihat wajah tantenya.


"Kenapa, Aleena?" tanya Feby sambil menatap wajah Aleena dan Son silih berganti. "Apa yang terjadi?" dia merasa ada yang tidak beres karena raut wajah Son dan Aleena sama-sama tampak aneh. Raut wajah Son seperti kurang senang dan raut wajah Aleena seperti agak tegang.


"Son?" Feby berpaling menatap Son. "Kenapa, Son? Apa yang terjadi? Kamu dan Aleena bertengkar ya?" tebaknya.


Son tak menjawab. Aleena juga diam.


Merasa keduanya tak ada yang mau menjawab, Feby pun berkata, "Ayo, kita kembali ke ruangan kafe sekarang. Sudah mau acara potong kue ulang tahun untuk papamu."


Son melihat Aleena sejenak. Setelah itu dia berjalan meninggalkan pohon yang disandarinya sedari tadi.


Aleena membalas tatapan Son sejenak. Setelah itu dia pun mengikuti langkah kaki Son membuntuti tante Feby kembali ke dalam kafe.


* * *