Substitute Mom

Substitute Mom
Kathy Memandang Wajah Tom yang Terlelap



Bab 32


"Sudah selesai, Sayang. Kamu mau bobok sekarang?" tanya Kathy.


Son menggeleng. "Mau nonton TV sebentar sebelum makan malam," jawabnya.


"Baiklah," kata Kathy. Dia mengambil remote TV dan menghidupkan televisi yang ada di kamar Son. TV flat 32 inch yang diletakkan pas di seberang ranjang Son. Jadi Son bisa menonton televisi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang.


Setelah televisi itu menyala dan Son mulai menontonnya, Kathy berkata, "Remote TV-nya mama taruh di sini ya, Sayang. Nanti kamu cari sendiri saluran yang kamu mau."


Kathy meletakkan remote TV yang dipegangnya ke atas ranjang pas di samping Son yang tengah duduk bersandar pada sandaran ranjang.


"Iya, Ma," jawab Son.


"Mama mau kembali ke kamar mama dulu," kata Kathy.


Son mengangguk. "Papa sudah pulang?" tanyanya.


Sebenarnya tadi Son sudah mendengar suara percakapan antara papa dan mamanya di dalam kamarnya saat dia sedang mandi. Lamat-lamat dia juga mendengar apa yang papa mamanya perbincangkan yaitu mengenai dirinya. Dia juga merasa sepertinya di akhir perbincangan papanya agak marah dikarenakan mamanya yang masih mengkhawatirkannya di usianya yang menginjak 8 tahun. Lalu dia mendengar papanya berkata mau kembali ke kamar untuk mandi.


Son sendiri agak bingung kenapa papanya seringkali marah setiap kali bicara dengan mamanya mengenai dirinya. Padahal Son bukan anak yang nakal yang sering menimbulkan masalah. Dia hanya anak yang pendiam yang tak suka banyak bicara. Son nggak tahu kalau kadang--kadang bukan kenakalan atau keceriwisan anak saja yang bisa membuat orangtua jengkel, tapi kediaman anak yang tak mau mengatakan apa-apa yang ada di pikirannya pun bisa membuat orangtua kesal.


Apalagi Tom melihat Kathy sangat memanjakan dan menyayangi Son sampai Tom sebagai suami Kathy dan ayah Son pun bisa merasa gerah kalau tidak mau dikatakan cemburu. Kerena lucu kan kalau seorang ayah sampai cemburu pada anak sendiri gara-gara perhatian dari ibunya anak itu lebih ke anaknya daripada ke suaminya.


"Iya, Son. Papamu sudah pulang dari kantor tadi dan sempat masuk ke kamar ini sebentar sebelum kembali ke kamar depan," jawab Kathy. "Kenapa? Kamu ingin melihat diakah?" tanya Kathy.


Son menggeleng. "Tidak usah sekarang, Ma. Nanti makan malam di meja kan ketemu juga," jawabnya.


"Iya, Sayang," Kathy pun berbalik dan berjalan keluar dari kamar Son.


Kathy berjalan menuju kamarnya sendiri. Dia merasa Tom mungkin baru selesai mandi. Benarlah, saat Kathy masuk, Tom sudah rapi dengan pakaian rumah yang sekalian digunakan untuk tidur nanti.


Kehadiran Kathy membuat Tom mengalihkan pandangannya ke istrinya itu. Tadi dia hanya duduk bersandar di sandaran ranjang sambil menunggu Kathy balik dari kamar Son. Sekarang Kathy sudah balik dan berjalan ke arahnya.


"Gimana?" tanya Tom. "Sudah bereskah urusannya Son?" tanya Tom yang nada suaranya lebih mirip menyindir daripada bertanya.


"Jadi, aku harus bertanya bagaimana?" tanya Tom balik.


Kathy menggeleng. "Sudahlah," katanya dengan nada kecewa. Dia merasa lelah karena dari Son bayi sampai sekarang anak-anak berusia 8 tahun, Tom masih suka berselisih dengannya tentang anak mereka itu. Sikap dan omongan Tom yang dirasa Kathy aneh karena Son toh anak mereka juga. Seharusnya suami istri bersepakat dalam mengasuh anak semata wayang bukan malah berselisih.


Kathy merasa tubuhnya sangat penat, bukan saja karena kurang enak badan melainkan juga karena telah menyetir menempuh perjalanan jauh bolak-balik selama 4 jam.


Apalagi selama 2 minggu ini kegiatan Kathy seolah terus-menerus setiap hari tanpa henti membawa Son, Jessica, dan Elen jalan-jalan dalam rangka liburan sekolah. Berbagai tempat hiburan dan tempat wisata jauh dan dekat sudah mereka kunjungi. Bahkan di setiap tempat yang mereka kunjungi, mereka menghabiskan waktu seharian di sana. Lalu ke semua tempat itu pergi pulang Kathy yang menyetir karena Tom harus masuk kerja ke kantor mengurus perusahaan.


"Aku mau mandi dulu," kata Kathy sambil bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi  yang ada di kamar.


"Jangan lupa pakai air panas mandi air hangat karena kamu barusan sembuh dari demam," ingat Tom.


"Iya," jawab Kathy sambil terus berjalan.


Tom menggeser punggungnya yang sedang bersandar di sandaran ranjang ke arah bawah sehingga punggungnya kini mengenai atas ranjang alias berbaring. Dia menghela nafas panjang dan mencoba bersantai di dalam kamar besar yang sejuk dan dingin oleh embusan AC. Kamar besar yang bersih dan nyaman karena setiap pagi dibersihkan dan dirapikan oleh pelayan di rumah itu.


Tom memejamkan mata dan mencoba terlelap sebelum jam makan malam. Sekarang pukul 6 sore. Berarti 1 jam lagi dia harus turun ke bawah makan malam bersama Kathy dan Son. Tom bahkan belum sempat melihat wajah Son semenjak anaknya itu pulang dari pantai. Hatinya tidak tergerak untuk keluar sebentar dari kamar dan ke kamar Son melihat anaknya itu. Biarlah, toh 1 jam lagi juga bakal sama-sama ketemu di meja makan, pikir Tom.


Kathy memutar-mutar shower di kamar mandi sampai mendapatkan suhu air yang sesuai. Setelah dirasakan suhunya sudah cocok yaitu agak hangat tapi tidak panas atau tidak dingin, Kathy pun mulai mengguyur tubuhnya dengan air dari shower itu. Tak lupa dia membersihkan rambutnya alias keramas walaupun tadi baru sembuh dari demam.


Tom yang berbaring di atas ranjang sambil menunggui Kathy lambat laun jatuh tertidur karena ngantuk dan lelah. Bukan lelah karena bekerja saja, tapi lelah karena melihat sikap istrinya dalam memperlakukan anak mereka.


Setelah 20 menit, Kathy keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati ranjang. Dia mengambil pakaian tidur dari lemari baju dan mengenakannya menggantikan handuk putih yang membelit di tubuhnya hingga sebatas lutut.


Kathy sudah selesai bersalin pakaian. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kepala yang membelit di kepalanya tadi. Matanya memandang pada Tom yang sedang tertidur lelap.


Setelah mengeringkan rambutnya, Kathy mengambil sisir yang ada di atas meja rias bercermin dan menyisiri rambutnya. Dia memperhatikan wajahnya sendiri lewat cermin itu. Dilihatnya wajahnya memang agak pucat walaupun tak sepucat tadi sewaktu di pantai. Bibirnya juga masih agak pucat. Matanya sayu dan lelah. Tubuhnya juga terasa sangat penat. Rasanya dia ingin segera berbaring dan tidur sekarang tanpa perlu lagi makan malam. Tapi perutnya mulai lapar dan dia tidak bisa tidur dalam keadaan perut keroncongan.


Kathy sudah selesai menyisiri rambutnya. Dia berjalan ke tepi ranjang dan duduk di dekat Tom yang tengah berbaring. Diperhatikannya wajah suaminya itu yang kebetulan tidur dalam posisi telentang sehingga Kathy bisa memperhatikannya lebih jelas.


Dipandanginya wajah Tom sepuas-puasnya seolah-olah sudah lama tidak bertemu. Disimpannya lekat-lekat dalam ingatannya wajah Tom itu seolah-olah itulah kesempatan terakhirnya mengingat wajah suaminya.


* * *