
Bab 159
Mobil yang dikendarai supir om-nya Shania pun berbelok arah untuk kembali ke rumah Son atau ke villanya Tom Simon.
Shania yang duduk di dalam mobil di jok belakang merasa tidak sabar untuk segera sampai di rumah Son. Karena dia ingin tahu apa yang dilakukan Son dan Aleena setelah ditinggal berdua di rumah itu.
Hati Shania dag-dig-dug. Rasanya dia ingin menyuruh abang supir mempercepat laju kendaraannya supaya bisa segera sampai. Tapi dia merasa malu bila gelagatnya sampai ketahuan oleh abang supir. Bahwa sebenarnya Shania ingin balik ke rumah Son bukan karena hendak mengembalikan buku tulisnya melainkan karena hatinya tak tenang memikirkan Aleena bersama Son berdua di rumah itu.
Jangan-jangan nanti abang supir tahu kalau Shania menaruh hati pada Son dan mengharap Son hanya memperhatikannya saja atau menjadi miliknya. Shania takut Aleena merebut Son darinya.
Padahal Shania yang begitu cantik, lembut, dingin, tenang, dan cerdas sudah pasti adalah gadis idaman Son. Tapi entah kenapa dia masih kurang percaya diri atau tidak mempercayai Son.
Sedangkan Son terhadap Aleena hanya menganggap Aleena sebagai teman yang usil dan reseh yang suka mengganggunya dengan sifat kekanak-kanakannya. Tapi walau begitu, Son merasa seru juga berteman dengan Aleena.
Aleena adalah teman yang asyik bagi Son. Sementara Shania adalah gadis idaman Son yang membuat Son terpana dan terpikat pada pandangan pertama. Boleh dibilang Shania adalah cinta pertama Son.
Aleena adalah teman yang menarik perhatian Son karena gayanya yang ugal-ugalan dan tak bisa diam. Juga gerak-geriknya yang lincah dan sesuka hatinya. Ditambah omongannya yang ceplas ceplos dan tak beraturan. Cocok atau klop dengan Son yang sebenarnya pendiam dan cool. Aleena bisa mengisi ruangĀ kosong pada diri Son. Demikian juga sebaliknya.
Walau Shania tak berkata apa-apa lagi, namun abang supir bisa melihat atau melirik melalui kaca spion tengah kalau wajah Shania tampak gelisah. Walau dia duduk dengan tenang di jok belakang tapi ekspresi wajahnya yang cemas tak bisa disembunyikan.
Mobil itu masuk kembali ke pekarangan rumah atau ke taman villa setelah tukang kebun yang melihat mobil itu membukakan pintu gerbang supaya mobil itu bisa masuk.
"Wah, balik lagi ya, Bang?" tanya tukang kebun pada abang supir.
"Iya, Pak. Sori ya balik lagi ke sini," jawab abang supir.
"Iya, nggak apa-apa. Ada yang ketinggalankah?" tanya tukang kebun.
"Iya, Non Shania mau mengembalikan buku temannya yang ikut terbawa pulang," jawab abang supir.
"Oh, ya, ya, baiklah," tukang kebun pun memberi jalan pada mobil itu setelah bertanya jawab atau bertegur sapa dengam abang supir.
Setelah mobil itu sampai di taman villa atau di pekarangan rumah, Shania pun dengan tergesa-gesa membuka pintunya dan turun. Kakinya yang mulus menapak di tanah. Lalu dia melangkah cepat menuju pintu utama villa setelah menutup pintu mobil.
Hatinya berdebar keras dan jantungnya berdegup kencang saat langkahnya sampai di dalam setelah menapak dan menaiki 2 tangga di pintu masuk. Matanya segera menangkap sosok Son dan Aleena yang sedang duduk berhadapan di sofa besar di ruang tamu.
* * *