
Bab 33
Kathy menekuk pinggangnya ke depan hingga dadanya mengenai dada Tom yang tidur telentang. Digerakkannya kedua tangannya untuk memeluk leher Tom yang sedang terlelap.
Lamat-lamat Tom membuka matanya karena merasa ada yang menyentuh dirinya. Ketika matanya terbuka dia melihat kepala Kathy sedang bersandar di dadanya dan kedua tangan Kathy memeluk lehernya.
"Kath?" Tom agak heran. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Tom sambil menggerakkan tangannya menyentuh lengan Kathy yang sedang menyentuh lehernya.
"Kamu sudah bangun," kata Kathy. Dia tak segera bangkit dari sandarannya di dada Tom, tapi dia menggerakkan kepalanya melihat wajah suaminya.
"Iya, Kath. Kamu kenapa? Tumben kamu memelukku begini," jawab Tom sambil membelai kepala Kathy.
"Biasanya aku memelukmu juga kan, Sayang," balas Kathy lalu menggerakkan kepalanya kembali ke posisi semula yaitu telinga dan pipi bersandar pada dada Tom.
"Iya, tapi itu di saat kita tidur, bukan saat kamu duduk di tepi ranjang begini," kata Tom.
"Oh iyakah? Aku hampir lupa," kata Kathy seperti orang linglung.
"Kamu kenapa, Sayang?" ulang Tom lagi.
"Nggak apa-apa," jawab Kathy. "Cuma ingin memelukmu seperti ini saja."
Tom menarik nafas panjang dan mengembuskannya. Dia merasa nada suara Kathy sangat manja dan lelah. Kathy seperti lagi ingin bermanja-manja di pelukannya dengan menyandarkan kepala ke dadanya dalam posisi duduk dan menekuk pinggang ke depan.
"Kamu sudah sembuh kan? Tidak demam lagi," kata Tom lalu menggerakkan kepalanya ke depan mengecup kepala Kathy.
Kathy mengangguk. "Iya, aku sudah sembuh. Sebentar lagi kita turun ke bawah makan malam," katanya lalu menarik kepalanya dan meluruskan pinggangnya. Matanya bertemu dengan mata Tom.
Ditatapnya mata Tom lekat-lekat seolah-olah esok atau lusa tak bakal bisa melihatnya lagi. Ada kerinduan yang amat sangat menghunjam dadanya. Dia rindu kasih sayang Tom yang dulu saat sebelum mereka menikah. Saat itu Tom benar-benar sangat menyayanginya dan mereka tidak pernah berselisih. Tom selalu mendengar kata-katanya dan mengalah pada semua keinginannya.
Tapi semenjak kehadiran buah hati, mereka jadi sering berselisih. Tom tak suka jika Kathy terlalu memanjakan dan mengutamakan Son. Tom juga keberatan Kathy terlalu berlebihan memperhatikan dan mengkhawatirkan Son. Dia merasa perhatian Kathy hampir seluruhnya tercurah pada Son. Dirinya sebagai suami seolah terabaikan. Yang ada di list utama Kathy hanyalah Son dan Son.
"Kamu kenapa, Kath?" Tom mengulangi pertanyaan yang sama seperti tadi. Dirasanya sikap Kathy benar-benar aneh hari ini. Tidak biasanya Kathy seperti itu.
Kathy tersenyum. Sedih. Entah kenapa hatinya terasa sedih. Mungkin karena kejadian di pantai tadi saat dia meriang, menggigil, dan berkeringat dingin. Walau hal itu sudah terlewati tapi itu masih seperti pengalaman buruk yang menakutkan baginya. Teringat itu, hati Kathy mendadak berubah pilu. Dia merasa kapan saja hal itu bisa terulang dan kapan saja nyawanya bisa terancam. Bila dia tidak berhasil melewatinya maka dia akan meninggalkan semua yang dicintainya di dunia ini. Suaminya, anaknya, dan kasih sayang mereka.
Tom bangkit dari baringnya di ranjang. Dia menggerakkan tubuhnya mendekati Kathy lalu memeluknya hangat. Hatinya yang dingin selama ini terasa hangat karena Kathy menatapnya sedemikian rupa. Tom bisa merasakan ada cinta yang mendalam yang terpancar dari bola mata istrinya itu walaupun sekian lama cinta itu tertutupi oleh minimnya perhatian. Iya, Kathy lupa menunjukkan cintanya pada Tom semenjak punya Son. Karena itulah Tom merasa hatinya dingin.
"Ayo, kita turun ke bawah makan," kata Tom setelah dia melepaskan pelukannya di punggung Kathy.
Kathy mengangguk. "Ayo, Tom," balasnya.
Mereka sama-sama bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.
"Kita ke kamar Son sebentar ya, Tom. Ajak dia makan malam," kata Kathy sambil menoleh dan menatap Tom.
Kathy dan Tom berjalan menuju kamar Son. Saat mereka sampai, Son sedang menonton TV.
Son segera menoleh saat papa mamanya masuk ke kamarnya. Dia melihat wajah mamanya tersenyum dan wajah papanya kelihatan tenang juga. Pastinya mereka dalam keadaan rukun saat ini, pikir Son.
"Son, ayo kita turun ke bawah makan malam," ajak Kathy pada putra kesayangannya itu.
Son segera meng-off-kan TV mendengar ajakan mamanya. Dia bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah papa mamanya.
Kathy tersenyum dan menggandeng tangan Son. Mereka bertiga pun berjalan keluar dari kamar Son lalu menuju tangga ke lantai 1. Setelah sampai, mereka menuju ke ruang dapur untuk mencuci tangan dan ke ruang makan untuk menyantap sajian makan malam yang sudah disediakan oleh pelayan di rumah itu.
"Sudah mau makan, Tom?" tanya Elen yang ada di ruang dapur. Dari tadi dia sudah bersiap-siap menyediakan makan malam untuk Tom, Kathy, dan Son. Sedangkan Jessica tidak nampak lagi di sana. Barangkali sudah kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi.
"Iya, Elen," jawab Tom. Dia mendekati meja makan dan duduk di situ bersama Kathy dan Son.
Elen segera mengambilkan nasi putih untuk mereka bertiga dari rice cooker. Setelah menyendokkannya ke atas piring-piring yang jumlahnya 3, Kathy pun membawanya ke meja makan. Piring-piring berisi nasi putih itu masing-masing ditaruhnya di depan Tom, Kathy, dan Son. Sedangkan lauk pauk dan sayur mayur sudah tersusun di atas meja tadi.
Setelah Elen selesai meletakkan 3 piring nasi itu, dia pun berkata, "Kalian makan dulu. Aku mau kembali ke kamarku."
"Iya, pergilah Elen," jawab Tom.
Elen pun berjalan meninggalkan ruang makan dan naik ke lantai 2 menuju kamarnya sendiri. Dia belum sempat mandi sedari pulang dari pantai.
Tom, Kathy, dan Son mulai mencicipi makanan mereka.
Kathy mengambilkan beberapa macam lauk untuk Son, baik lauk daging maupun sayuran hijau.
"Ayo dimakan, Son," kata Kathy sambil mengangguk dan tersenyum.
"Iya, Ma," jawab Son lalu dia menyendok nasinya.
"Ini untukmu, Tom," kata Kathy sambil menyendokkan lauk daging dan sayuran hijau untuk Tom juga.
"Thanks, Kath," balas Tom.
Walaupun Kathy duluan mengambilkan lauk untuk Son daripada untuknya namun Tom masih bersyukur karena biasanya malah Kathy lupa menyendokkan untuknya seperti setiap kali dia menyendokkan untuk Son. Kali ini ada yang lain. Tapi Tom tidak sempat memikirkannya terlalu jauh karena perutnya sudah lapar sehingga dia pun segera memakan nasi bersama lauk di depannya.
Setelah melihat suami dan anaknya makan, Kathy pun mengambil lauk untuk dirinya sendiri yang ditaruhnya ke atas piringnya. Dia mulai mencicipi makanannya seperti Tom dan Son.
Seperti biasanya, ketiganya makan dalam hening dan tenang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang aneh. Hanya tindakan Kathy yang ingat untuk mengambilkan lauk dan sayur untuk Tom juga yang agak aneh. Selebihnya seperti biasa.
* * *