
Bab 70
Joseph, Winy, dan Cyntia sudah datang ke rumah Shania. Mereka berkumpul di sana untuk sama-sama berangkat ke rumah Son sore ini.
Sepulang dari sekolah, ketiganya makan dan mandi, mengganti baju sekolah dengan baju biasa lalu ke rumah Shania. Joseph naik ojol sedangkan Winy dan Cyntia naik taxol bersama.
"Ayo, kita berangkat ke rumah Wilson," kata Shania yang semenjak setengah jam lalu sudah bersiap-siap menunggu ketiga temannya itu. Dia tak sabar lagi untuk segera berangkat ke rumah Son mengerjakan PR kelompok Bahasa Indonesia membuat naskah drama.
Supir om-nya Shania yang sudah dipesan Shania saat mengantarnya pulang sekolah tadi sudah bersiap-siap. Dia menjalankan mobil yang diparkir di halaman rumah saat Shania dan ketiga temannya masuk ke mobil.
Shania duduk di samping supir, sedangkan Joseph, Winy, dan Cyntia duduk di belakang.
"Kalian ada bawa buku cetak Bahasa Indonesia?" tanya Shania sambil menoleh ke belakang saat mobil melaju menuju rumah Son.
"Iya, ada," jawab Joseph.
"Ada, ada," jawab Winy dan Cyntia berbarengan.
"Baguslah. Aku juga ada. Sekalian buku catatan tempat mencatat naskah drama nanti," kata Shania.
Mobil terus melaju membawa Shania dan teman-temannya ke rumah Son. Setelah setengah jam, mobil pun sampai di kompleks pervilaan.
Satpam yang berjaga-jaga di depan gerbang menanyai keperluan penumpang yang ada di mobil berkunjung ke kompleks lalu supir menjawab kalau dia membawa teman-teman sekelas Son yang merupakan anak dari seorang pemilik villa.
Satpam yang mengetahui kalau mereka adalah teman-teman sekelas anaknya Tom, mengizinkan mobil itu masuk ke kompleks.
Mobil yang membawa Shania dengan teman-temannya pun akhirnya sampai di depan villa Tom.
Tukang kebun yang mengetahui ada mobil berhenti di depan gerbang bergegas menyongsong tamu yang datang. Matanya melihat mobil yang sedang parkir di depan gerbang di mana supir yang berada di dalam keluar dari mobil dan berjalan mendekati tukang kebun.
"Sore, Pak. Aku bawa teman-teman sekolah Wilson ke sini. Mereka ada kerja kelompok," kata supir sambil menunjuk Shania dan teman-temannya yang melongokkan kepala lewat jendela kaca.
"Oh, iya, iya," tukang kebun pun segera membukakan pintu gerbang untuk Shania dan teman-temannya.
Supir kembali ke mobil dan menjalankan mobil memasuki villa Tom. Dia menyetir mobil yang ditumpangi Shania dengan ketiga temannya itu sampai di depan pintu masuk alias di pekarangan. Mobil melewati taman di mana terdapat ayunan, kolam ikan, dan kolam renang.
"Parkir di sini saja ya, Non," kata supir sambil menoleh ke samping.
"Di sini apa boleh? Apa tidak mengganggu mobilnya pemilik rumah?" tanya Shania agak ragu.
Supir menoleh pada tukang kebun yang datang mendekat. "Boleh parkir di sini, Pak?" tanyanya.
"Iya, nggak apa-apa. Nanti jam 5 sore baru mobil Pak Tom pulang," jawab tukang kebun.
Shania dan teman-temannya keluar dari mobil dan mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Tidak nampak siapa-siapa di taman kecuali tukang kebun yang membukakan gerbang tadi yang sedang berdiri di situ sambil tersenyum ramah.
"Wilson-nya di mana, Pak?" tanya Shania pada tukang kebun.
Shania dengan Joseph, Winy, dan Cyntia pun berjalan menuju pintu masuk, sedangkan supir menunggu di taman.
Shania dan teman-temannya sudah ada di dalam. Mereka melihat keadaan dalam rumah sunyi. Tidak ada siapa-siapa di situ.
"Waduh, di mana Wilson ya?" tanya Shania sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Iya, di mana dia? Kenapa tidak menyambut kita?" Winy ikut menimbrung.
"Jangan-jangan dia tidak ada di rumah," kata Joseph.
"Ah, tidak mungkinlah. Kan kata tukang kebunnya tadi Wilson ada di dalam. Barangkali dia lupa kalau hari ini kita akan datang berkunjung," Cyntia ikut menebak.
"Wilson... Wilson...," panggil Shania.
Elen yang berada di ruang dapur mendengar suara panggilan dari arah ruang tamu. Suara seorang cewek yang memanggil nama Son.
Dia bergegas berjalan menuju ruang tamu dan melihat siapa yang memanggil itu.
Saat dia sampai, dia melihat ada 3 remaja cewek dan 1 remaja cowok sedang berdiri di ruang tamu dekat sofa sambil memandang sekeliling.
"Selamat sore," sapa Elen. "Ada yang bisa kubantu?" tanya Elen sambil memandang Shania dan teman-temannya.
"Selamat sore, Bu. Kami mau bertemu Wilson," kata Shania.
"Oh, kalian ini...?"
"Kami ini teman-teman sekelas Wilson, Bu. Hari ini kami ada kerja kelompok," jawab Shania.
"Oh, iya, iya. Kok Son nggak ada pesan kalau teman-temannya mau datang," kata Elen sambil menghadirkan seulas senyum. "Kalian tunggu sebentar di sini ya, aku ke atas panggil dia. Ohya, silakan duduk dulu."
"Iya, Bu. Makasih," jawab Shania.
Mereka pun duduk di sofa sambil memandang pada Elen yang bergegas berjalan menaiki tangga.
Sekitar 10 menit kemudian Son dan Elen muncul dari atas tangga dan Son melihat ke arah mereka saat dia sudah sampai di bawah tangga.
"Wilson," panggil Shania saat melihat kemunculan Son di ruang tamu.
Joseph, Winy, dan Cyntia melihat ke arah Son yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Sori, aku ketiduran," kata Son saat sampai di depan Shania.
"Ups! Nggak apa-apa, Son," jawab Shania. Bibirnya yang ranum mengukir seulas senyum.
* * *