
Bab 111
Tanpa peduli kata-kata protes dari Winy dan Cyntia, Aleena langsung duduk di samping kiri Son setelah dia berhasil mendapatkan secuil tempat sempit di jok belakang mobil dekat pintu sebelah kiri.
Aleena duduk di tempat sempit itu setelah Son didorongnya ke kanan. Tapi karena tempat yang tersisa terlalu sedikit, maka tubuh Aleena pun tidak mendapatkan tempat yang cukup atau layak.
Sisa tempat itu terlalu sempit untuk tubuh Aleena dan hanya bisa memuat setengah tubuhnya saja. Karena itu, setengah tubuh Aleena yang sebelah kanan terpaksa duduk di paha kiri Son.
Son benar-benar tidak bisa menggeser duduknya lagi lebih ke kanan karena tubuhnya sudah mendempeti tubuh Shania. Lengan kanannya bahkan sudah bersentuhan dengan lengan kiri Shania. Paha kanannya juga terpaksa mengenai atau bersentuhan dengan paha kiri Shania.
Son merasa resah karena tak punya cara untuk menghindari hal itu. Dia sungguh tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan atau memanfaatkan kondisi yang sedang berlangsung untuk mengambil keuntungan dari Shania.
Son tidak menginginkan hal itu terjadi karena dia tahu batas-batas kewajaran antara seorang pria dan seorang wanita yang tentu saja tidak boleh bersentuhan atau berdempet dengan erat. Kecuali mereka sepasang kekasih atau sudah resmi menjadi suami istri.
Karena itulah Son merasa tidak nyaman dan gelisah. Dia takut Shania berburuk sangka padanya. Padahal dalam hati Shania sama sekali tidak berburuk sangka pada Son. Dia tahu, itu gara-gara Aleena yang terus mendesak dan mendorong tubuh Son hingga Son terpaksa mendempeti dirinya.
Shania malah merasa hatinya berdebar. Dia merasakan adanya aliran hangat dan sejuk yang menjalari tubuhnya hingga tubuhnya terasa panas dingin. Shania menikmati momen-momen seperti itu.
Adapun Son, berada di antara Aleena dan Shania yang mendempetinya sungguh merasa gelisah dan tak tahu harus berbuat apa. Apalagi paha kanan Aleena sudah duduk di paha kirinya hingga Son seperti ingin mengamuk karena tingkah Aleena yang seenaknya itu.
Setelah Aleena masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang di samping kiri Son dengan paha kanan bertumpu pada paha kiri Son, maka dia pun menutup pintu mobil dan berkata pada supir om-nya Shania yang terus memperhatikannya sedari tadi. "Sudah, Bang. Aku sudah dapat tempat duduk. Abang boleh jalankan mobilnya sekarang."
"Wah, apa kamu yakin bisa duduk seperti itu, Non?" tanya abang supir sambil menoleh ke belakang.
"Bisa, Bang, jalankan saja mobilnya sekarang," jawab Shania cepat. Dia merasa yakin.
"Wah, wah, duduk.5 orang di jok belakang mobil bisa kena razia nggak?" tanya Joseph.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Joseph, karena semua yang ada di dalam mobil sedang terpana melihat tingkah Aleena. Bukan terpana saja, Winy dan Cyntia malah merasa kesal karena duduk bersempit-sempitan di dalam mobil.
Sedangkan Shania seperti melupakan keterpanaan hatinya. Sejenak, dia hanya ingat lengan dan paha kanan Son sedang mendempeti lengan dan paha kirinya.
Adapun Son, merasa serba salah, tak tahu cara untuk mengatasi kondisi yang sedang berlangsung. Apalagi setengah tubuh Aleena sudah berpangku di atas tubuhnya. Hal yang membuat hati Son terus berdebar keras. Merasa tidak tenang dan resah.
Padahal Aleena yang duduk tanpa permisi di atas paha Son malah merasa senang dan nyaman. Wajahnya tersenyum riang dan lega setelah berhasil masuk dan duduk di dalam mobil. Apalagi setelah abang supir mulai menjalankan mobil itu.
* * *