
Bab 108
Setelah memeriksa isi dompet Son dan mengetahui jumlah uang di dalamnya masih cukup untuk Son bawa jalan-jalan ke mal bersama teman-temannya, Elen pun menutup kembali dompet itu dan membawanya keluar dari kamar Son. Maksud Elen hendak memberikannya pada Son yang sedang menunggunya di lantai 1 ruang tamu.
Elen menuruni tangga besar yang melebar setelah dia keluar dari kamar Son dan berjalan menyusuri koridor kamar. Sesampainya di bawah tangga, dia melihat Son masih berdiri di dekat sofa menunggunya. Son belum kembali ke taman atau ke ayunan menjumpai teman-temannya.
"Ini dompetmu, Son," kata Elen saat langkahnya sampai di depan Son yang berdiri sambil melihat kedatangannya.
Elen menyerahkan dompet kulit itu pada Son dan Son menerimanya segera. Setelah itu Son melangkah, maksudnya hendak menjumpai teman-temannya yang sedang menunggunya di ayunan.
Namun Elen menahannya sesaat, "Tunggu dulu, Son," kata Elen.
"Iya, Elen?" Son menghentikan langkahnya yang baru mulai dan berbalik lagi melihat Elen.
"Aku sudah memeriksa isi dompetmu. Itu cukup untuk kamu jalan-jalan ke mal. Kamu bisa jajan apa yang kamu mau. Kalau teman-temanmu makan nanti, kamu bisa mentraktir mereka juga," kata Elen.
"Iya," Son mengangguk.
"Mobil temanmu belum datang kan?" tanya Elen.
Son menggeleng. "Belum, Elen. Mungkin sebentar lagi."
"Iya, aku lihat juga belum," kata Elen sambil melemparkan pandangan jauh ke depan menembus jendela kaca dan melewati taman.
"Ohya," kata Elen bagai teringat sesuatu. "Tadi aku melihat dari sini ada seorang gadis belia tiba-tiba datang menghampiri kalian di samping ayunan. Siapa dia, Son? Sepertinya dia bukan teman sekelasmu karena aku melihat kamu menariknya menjauhi teman-teman sekelasmu dan bahkan kamu membawanya menuju pohon hingga pandanganku terhalang daun-daunan yang lebat. Aku tak bisa melihat apa yang terjadi antara kamu dan gadis belia itu. Siapa dia, Son?" tanya Elen lagi.
"Oh," tiba-tiba Son bagai teringat sesuatu. Dia teringat Aleena yang tadi ditinggalkannya sendirian di bawah pohon saat Son berbalik ke ayunan menjumpai teman-temannya.
Son hampir saja melupakan Aleena kalau saja Elen tidak menanyakannya.
"Aku hampir lupa," kata Son jujur. "Dia memang bukan teman sekelasku, Elen," beri tahu Son.
"Oh, jadi siapa dia?" tanya Elen penasaran. "Kenapa kamu menariknya menjauh dari teman-temanmu? Sepertinya kamu tak ingin dia berkenalan atau berbicara dengan mereka," tebak Elen sambil mengamati mimik wajah Son.
Son menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Iya, dia itu agak nakal dan usil. Jadi aku sengaja menjauhkannya, Elen," kata Son.
"Ohya?" Elen membesarkan matanya. Tampaknya dia semakin penasaran. Bukan saja karena dia ingin tahu siapa gadis belia itu yang dibilang Son nakal dan usil, melainkan juga karena dia melihat perubahan mimik wajah Son yang demikian kentara dan tiba-tiba memerah jingga saat Elen bertanya soal gadis itu.
"Dia itu keponakannya Tante Feby, teman SMA papa dulu," beri tahu Son menepis rasa ingin Elen.
"Ooh...," Elen mendesis. "Ternyata keponakan dari teman SMA papamu toh. Kupikir siapa tadi," tawa Elen. "Lalu, dia ikut kalian ke mal nanti?" tanya Elen.
Son terpana. Bingung.
* * *