
Bab 135
Sementara itu Aleena sedang berada di sebuah tempat arena permainan anak-anak. Di dalamnya ada banyak mesin mainan anak-anak yang mengeluarkan bunyi, suara, atau musik yang sangat keras sehingga jika orang berbicara pun harus dengan suara yang keras untuk mengalahkan suara hingar bingar tersebut.
Karena itulah ponsel Aleena yang berbunyi berkali-kali tidak kedengaran oleh Aleena. Aleena mencari Son sampai ke situ. Ponsel Aleena ada di dalam saku roknya. Aleena tak merasakan ponselnya bergetar atau bersuara. Karena itu jugalah dia tak menjawab panggilan masuk dari Son.
Aleena tak menemukan Son bersama Shania di sana karena mereka berdua telah kembali ke tempat duduk keramik sedari tadi. Bahkan sekarang Son sedang berjalan menyusuri mal untuk mencari Aleena yang tercecer.
Sementara Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia berkumpul di tempat duduk keramik. Mereka menunggu Son yang sedang pergi mencari Aleena.
"Kamu ke mana tadi, Shan?" tanya Joseph pada Shania untuk menghilangkan kebosanannya karena harus menuggu Son lagi yang pergi mencari Aleena. Sedangkan tadi mereka bertiga sudah menunggu Son yang pergi mencari Shania.
"Nggak ke mana," jawab Shania tak bersemangat. Wajahnya terlihat lelah dan kuyu. Hatinya hampa karena tiada Son di dekatnya Pikirannya kosong karena tiada Son di sisinya.
"Hhh... jalan-jalan kita hari ini jadi kacau gara-gara Aleena," keluh Winy.
"Iya, lain kali kita jangan lagi pergi jalan-jalan sama dia," kata Joseph.
"Hah? Masih ada lain kali?" tanya Cyntia dengan nada sinis.
"Maksudmu apa?" tanya Winy balik. "Kita kan bisa pergi jalan-jalan bareng lagi kapan-kapan. Nah, berarti itu lain kali. Ya lain kali itu jangan biarkan Aleena ikut dengan kita lagilah seperti kata Joseph."
"Aku sih malas harus jalan-jalan lagi kayak begini. Sudah kena cakar tanganku, sekarang harus menunggu lagi. Padahal tadi sudah menunggu juga," jawab Cyntia.
"Iya, sebelumnya kita juga sudah sering kerja kelompok. Dan setelah kerja kelompok kita juga sering jalan-jalan bareng. Waktu itu Wilson belum jadi murid di sekolah kita," kata Winy. "Cuma kita berempat saja: aku, kamu, Joseph, dan Shania."
"Iya, kok sekarang jadi begini?" keluh Joseph.
Joseph, Winy, dan Cyntia berbarengan menatap Shania. Namun Shania hanya diam saja. Wajahnya sedikit tertunduk dan berpaling dari ketiga temannya yang berbincang-bincang.
Entah apa yang sedang dilamunkan Shania. Pokoknya dia tak begitu menyimak apa yang dikatakan oleh ketiga temannya. Sebelumnya, Shania tak begitu. Dia selalu ikut terlibat dalam percapakan bersama teman-temannya. Semenjak ada Son, Shania jadi kurang memperhatikan teman-temannya yang biasanya cukup akrab dengannya.
"Ya sudahlah, Shania tidak menyimak apa yang kita bicarakan," kata Winy. "Yuk ah, Cyn, kita jalan-jalan ke situ sebentar. Lihat-lihat di dalam toko. Daripada bengong di sini menunggu orang balik."
"Aduh, malaslah," tolak Cyntia. "Aku mau duduk di sini saja."
Setelah berkata begitu, Cyntia segera menjatuhkan dirinya di samping Shania.
Melihat Cyntia sudah duduk, Winy dan Joseph pun ikut duduk kembali.
Karena Shania tak mendengarkan apa yang mereka perbincangkan dan kelihatan seperti melamun terus, maka Joseph, Winy, dan Cyntia pun tak menghiraukannya lagi. Mereka asyik berbincang-bincang bertiga hingga tenggelam dalam keseruan dan melupakan kalau mereka sedang menunggu Son balik.
* * *