
Bab 126
"Lepaskan tanganku, Wilson," pinta Shania sambil melirik pergelangan tangannya yang masih digenggam Son.
"Tidak, Shan. Kalau kulepaskan kamu pasti akan lari lagi untuk menghindariku," kata Son sambil menatap lekat wajah Shania.
"Tidak. Aku tidak lari. Aku cuma berjalan cepat karena tak nyaman tadi. Aku tidak akan lari ke mana-mana, Wilson. Lepaskan tanganku," pinta Shania lagi sambil membalas tatapan Son dengan mata memohon.
"Kamu mau ke mana?" tanya Son dengan perasaan was-was.
"Nggak ke mana-mana. Cuma mau menepi dari sini. Tak bagus kita berdiri di tengah jalan begini karena menghalangi jalan orang lain," kata Shania.
Son tersadar. Dia segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata dia dan Shania sedang berdiri di samping eskalator hingga menghalangi jalan orang lain yang baru sampai di ujung eskalator.
Son secara spontan melepaskan pegangannya pada tangan Shania. Namun mata Son dengan awas mengawasi tubuh Shania supaya dia tidak lari ke mana-mana lagi untuk menghindari Son.
"Kita jalan ke sana saja," kata Shania sambil menunjuk suatu tempat yang agak jauh dari tangga eskalator. Tempat itu kelihatan sunyi karena pengunjung lain tidak berdiri atau nongkrong di situ.
"Ke sana?' tanya Son sambil menunjuk tempat tersebut dengan matanya.
"Iya, kita ke sana, Wilson," ulang Shania.
Son pun mengangguk. "Iya, baiklah, Shan. Ayo kita ke sana," ajak Son balik.
Shania dan Son pun berjalan menuju tempat yang mereka maksud lalu berdiri di sana berdekatan.
Son berdiri di samping Shania namun tubuhnya sedikit mengarah atau menghadap pada tubuh Shania.
"Aku melihatmu marah karena tindakan Aleena tadi yang menyeruput minuman Korea-ku dari gelas dan pipet bekasku," kata Son. "Sori ya, Shan. Aku tidak segera memberikan minumanku padamu padahal kamu yang duluan memintanya."
"Sudah. Lupakan saja, Wilson. Itu tidak penting lagi sekarang," kata Shania sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan Son.
"Kamu marah padaku, Shan?" tanya Son dengan mata menyelidik menghunjam wajah Shania yang menyamping darinya.
"Marah pun apa gunanya, Wilson?" Shania menjawab lalu menghadapkan wajah kembali pada tatapan Son. Dia menghela nafas panjang. "Sudahlah, tidak apa-apa," kata Shania sambil memaksakan seulas senyum lembut.
"Jadi, kita kembali ke tempat tadi ya, Shan?" tanya Son.
"Tunggu...," jawab Shania. Dia menahan Son yang menunjukkan gelagat hendak melangkah atau mengajaknya kembali ke tempat tadi. Tempat di mana Aleena, Winy, Cyntia, dan Joseph sedang duduk menunggu mereka kembali.
Shania tidak tahu kalau hanya Winy, Cyntia, dan Joseph yang masih duduk di tempat duduk keramik yang mengkilap tadi. Sedangkan Aleena sudah pergi dari situ untuk mencari Son yang mengejarnya.
"Nanti mereka lama menunggu kita," kata Son.
"Kamu... khawatir teman-teman kita lama menunggu kita. Ataukah kamu khawatir Aleena lama menunggumu?" tanya Shania dengan pandangan mata protes. Dia berusaha mencari kejujuran di bola mata Son.
"Aku takut Aleena tiba-tiba mengejar kita sampai ke sini," jawab Son jujur.
"Kenapa? Kenapa memangnya kalau dia mengejar kita sampai ke sini? Atau kenapa memangnya kalau dia menemukan kita di sini?" tanya Shania lagi dengan mata menyelidik.
Son diam terpaku. Dia tak tahu harus menjawab apa.
* * *