
Bab 87
"Iya, ayo kita ke sana," kata Winy sambil menunjuk ke arah ayunan yang ada di taman villa milik Tom.
Spontan Cyntia dan Joseph menoleh ke arah ayunan yang ditunjuk Winy.
"Ayolah, ayo," kata Joseph. "Sudah lama aku tidak naik ayunan. Terakhir kali aku naik ayunan saat masih SD."
"Waktu kelas berapa?" tanya Cyntia yang bangkit dari duduknya di batu yang ada di tepi kolam ikan.
"Kurang ingat. Barangkali waktu kelas III SD," jawab Joseph sambil mengingat-ingat.
"Oh... kalau aku waktu kelas III SMP masih naik ayunan tapi itu ayunan yang ada di taman villa Brastagi Resort. Kakaknya mamaku punya villa di sana. Jadi aku sering diajak ke sana nginap waktu liburan," cerita Cyntia.
"Di sana juga ada ayunan yang diduduki satu orang kan? Ayunan yang terbuat dari kayu, bukan dari besi. Ayunan itu bisa melambung ke depan dan ke belakang dengan setinggi-tingginya saat orang yang ada di belakang kita mendorong kita dengan sekuat tenaga. Tapi kita harus berhati-hati dan memegang dua rantai besi yang ada di samping kiri kanan bangku ayunan yang kita duduki supaya tidak tercampak," kata Winy.
"Iya, betul. Aku pernah lihat ayunan yang seperti itu juga entah di mana. Kurasa aku naik ayunan terakhir kali waktu TK di taman bermainnya," kata Shania yang juga sudah bangkit dari duduknya di tepi kolam ikan. Dia sedang berjalan bersisian dengan Winy, Cyntia, dan Joseph. Sementara Son berjalan di belakang keempat kawannnya padahal dia tuan rumahnya.
"Hmmm... aku pun sudah lupa kapan terakhir kali aku naik ayunan. Mungkin waktu anak-anak umur 5 tahun. Entah di mana nggak ingat lagi," kata Winy.
"Lho, tapi katamu tadi kamu tahu di Brastagi Resort ada ayunan yang terbuat dari kayu yang bisa melambung tinggi-tinggi?" tanya Cyntia.
"Iya, aku kan cuma lihat ayunannya saja tapi tidak naik ke atasnya. Cuma lihat sekilas saja ada di taman villa itu waktu kami sekeluarga menyewa villa di Brastagi Resort," jawab Winy.
"Oh..., aku pernah dengar sewa villa di sana satu malam 1,2 juta ya kalau pas hari libur?" tanya Shania.
"Kurang ingat juga," jawab Winy. "Ya... mungkin sekitar itulah tapi entah untuk 1 malam atau 2 malam."
"Kapan-kapan kita ke Brastagi Resort yuk! Nginap di sana. Di villanya," ajak Joseph.
sekak Cnyntia.
"Ya nggaklah. Maksudku, kita ke Brastagi jalan-jalan pas ada libur panjang atau libur Lebaran gitu. Nginap di villa yang kamu bilang milik kakaknya mamamu itu, Cyn," balas Joseph.
"Enak saja!" Cyntia meleletkan lidah. "Kalau sama saudara sendiri ya boleh gratis. Nginap 2 malam nggak bayar. Tapi kalau sama orang lain harus bayar dong. Namanya juga bisnis sewa menyewa villa dan apartemen. Mana boleh gratis."
"Iiih... tapi kan kami temanmu, Cyn," balas Joseph.
"Teman pun harus bayar. Villa itu bukan milikku woi. Kalau milikku bolehlah kukasih kalian nginap gratis di sana 2-3 malam. Nanti kalian mandi memboroskan airnya. Pakai AC memboroskan listriknya. Lalu memberantakannya sampai kotor semua ruangan dan peralatan dapur. Itu kan harus dikira juga bikin aku rugi. Jadi nggak boleh lama-lama minjamnya. Paling lama 3 malam saja," kata Cyntia.
"Oh, jadi di mana villamu?" tanya Joseph.
"Ya belum adalah, Seph!" jawab Cyntia keras. "Kita kan masih sekolah. Masih SMA. Belum kerja. Belum bisa cari duit sendiri. Apalagi cari duit yang banyak buat beli villa di Brastagi Resort yang 15 tahun lalu sekitar 300 jutaan. Masih murah itu. Apartemen di Podomoro 2 lantai 2,5 M. Disewakan ke orang 1,5 juta/malam. Tapi kalau sewa 1 tahun 60 juta/tahun."
"Iya, kurasa umur yang sekitaran kita 20 tahunan belum ada yang sanggup beli villa sendiri. Harus berbisnis sampai umur 30-an baru sanggup," kata Shania.
"Eh, tapi bisa juga lho kalau misalnya kita berhasil jadi youtuber atau selebgram di usia belasan tahun. Pasti sanggup!" kata Shania. "Penghasilan mereka puluhan sampai ratusan juta per bulan."
Mereka berempat asyik mengobrol sampai lupa naik ke atas ayunan besi yang memiliki 2 tempat duduk yang saling berhadapan yang masing-masing bisa memuat 3-4 orang. Padahal sedari tadi langkah mereka sudah sampai di samping ayunan itu.
Karena Son hanya diam saja dan tidak ikut menimbrung ucapan mereka, maka mereka pun asyik bicara sendiri dan membiarkan Son tak bersuara mendengarkan percakapan mereka.
Itu adalah sesuatu hal yang langka jika ada seseorang yang hanya diam saja di saat orang-orang di sekelilingnya ricuh saling berebutan mengeluarkan suara untuk menyampaikan apa yang ada di hati dan pikiran mereka.
* * *