
Bab 65
Hari ini saja ya, Wilson?" usul Shania.
"Iya," jawab Son tanpa pikir panjang.
Iya lagi, pikir Joseph. Oh iya lagi, pikirnya.
"Okey. Sore ini pukul 3 kita kumpul di rumah Wilson. Kamu ke rumahku sebelum pukul 3, Seph. Begitu juga Winy dan Cyntia, nanti kuberitahu mereka," kata Shania.
"Hmmm..., baiklah," jawab Joseph.
"Pukul 3 sore ini kami ke rumahmu ya, Wilson," kata Shania. "Kamu ada di rumah kan sore ini?"
"Ada," Son mengangguk.
"Cara buatnya gimana, Shan?" tanya Joseph yang kurang mengerti.
"Ya nanti kita diskusikan dan buat sama-sama di rumah Wilson," jawab Shania.
"Wilson pintar bikin naskah drama?" tanya Joseph tiba-tiba.
Son mengernyitkan alis. Joseph tiba-tiba mengajaknya bicara.
"Nanti kita coba sama-sama," jawab Son.
Tiba-tiba Richard yang duduk di bangku belakang berjalan mendekati meja Shania. "Shan, kelompokmu masih 4 orang kan? Masukkan aku 1 ya supaya pas 5 orang? Soalnya kelompoknya kami juga kelebihan 1 orang, Fredy, Mark, Desy, Luna, dan Katrin sudah pas 5 orang. Aku terlempar keluar. Aku masuk kelompokmu saja ya, Shan?" pinta Richard.
"Kelompokku juga sudah pas 5 orang, Chard," kata Shania.
"Ah, masa? Biasanya kan kalian cuma berempat saja. Kamu, Joseph, Winy, dam Cyntia," kata Richard.
"Wilson sudah masuk kelompok kami," kata Shania.
"Oh...," Richard menoleh ke arah Son yang duduk di belakang Shania. "Cepat sekali kamu masukkan murid baru ini ke dalam kelompokmu, Shan," katanya kecewa. "Padahal kita sudah berteman 2 tahun tapi kamu lebih memilih teman yang baru kamu kenal 2 hari untuk masuk kelompokmu daripada aku."
Shania menarik napas berat. "Sori, Chard. Kamu terlambat bilang tadi," alasan Shania. "Kebetulan Wilson duduk di dekatku jadi aku tanya dia duluan."
"Hmmm...," Richard melirik Son lagi. Dia tak berani sembarangan bicara pada Son atau menunjukkan ketidaksukaan maupun gelagat permusuhan dengan Son karena dia tahu Shania pasti akan membela Son dan berada di pihaknya.
Itu akan sangat menyakitkan bila dia berseteru dengan Son lalu Shania menegurnya demi seorang murid baru yang baru dikenalnya 2 hari.
Apa sih kelebihan Son ini? Richard tak habis pikir. Namun dia tak ingin bertambah pusing lagi karena selama 2 tahun ini dia sudah pusing mengejar Shania belum berhasil juga walaupun tanpa kehadiran Son yang mendapat perhatian khusus dari Shania.
Masalahnya, bukan pada ada atau tidaknya Son di samping Shania. Melainkan pada suka atau tidaknya Shania pada Richard. Dan memang Shania tidak menyukai Richard. Jadi mau bilang apa lagi? Rasa suka itu tak bisa dipaksa.
Dengan rasa kecewa, Richard kembali ke tempat duduknya. Kelima temannya memperhatikannya dengan prihatin. Mereka saling melempar pandang lalu sama-sama menggelengkan kepala. Richard gagal lagi. Tapi herannya, dia masih belum putus asa.
"Ayo, Chard," Desy mengajak Richard.
"Ayo, ayo," Mark memegang pundak Richard dan merangkulnya supaya Richard mengikuti langkahnya keluar dari kelas menuju lantai 1.
Kedua teman mereka yang lain, Fredy dan Katrin juga sama-sama berjalan menuju pintu kelas.
Setelah 6 sekawan meninggalkan ruang kelas, Joseph berkata pada Shania dengan suara dikecilkan. "Bisa-bisa nanti Richard memusuhi Wilson."
Shania mengerutkan kening. "Emang kenapa?" tanya Shania tak mengerti.
"Pssst...," Joseph mendekatkan mulutnya ke telinga Shania dan berbisik, "Karena tadi Richard melirik Wilson dan tahu kamu memperhatikan dia. Kamu dengar apa yang Richard katakan tadi?"
"Apaan sih?" Shania yang merasa risih Joseph berbisik di dekat telinganya spontan mendorong bahu Joseph menjauhinya.
Tapi sebenarnya, Shania lebih risih bila Son sampai mendengar apa yang dibisikkan Joseph itu. Ditambah tindakan Joseph yang berbisik-bisik di depan Son itu jelas menunjukkan ada kata-kata yang hendak disampaikan Joseph pada Shania yang tidak boleh diketahui oleh Son. Ya jelaslah Shania tidak mau jika Son sampai salah sangka berpikir hal apa yang mesti dirahasiakan darinya.
"Aku memang tak menyukai Richard dengan kelima temannya, Seph. Itu saja. Tidak ada hubungannya dengan siapa-siapa," kata Shania dengan suara yang sengaja dikeraskan supaya Son mendengarnya.
Joseph pun hanya bisa menoleh pada Son sejenak sebelum bangkit dari bangku dan berjalan meninggalkan ruangan kelas.
Kamu mau ke kantin, Wilson?" tanya Shania yang membalikkan punggungnya melihat Son seperginya Joseph.
"Mau sarapan?" tanya Son.
Shania mengangguk.
"Ok," jawab Son.
Mereka sama-sama bangkit dari bangku dan berjalan berdampingan meninggalkan ruangan kelas.
"Ohya, Wilson, kerja kelompok kita hari ini, ya kan?" tanya Shania saat mereka berdua berjalan di koridor menuju tangga.
"Iya," jawab Son. "Tapi waktu dikumpulkan Selasa depan."
"Iya, betul. Tapi lebih cepat kita kerjakan lebih baik. Berarti sore nanti pukul 3 kami ke rumahmu ya, Son?" tanya Shania lagi untuk memastikan sekaligus mengingatkan Son.
"Iya," jawab Son.
Shania dan Son saling melempar pandang dan sama-sama tersenyum. Mereka tak bicara apa-apa lagi sampai tiba di kantin.
Kali ini, Son berinisiatif untuk mentraktir Shania. Mereka tidak memakan mie goreng lagi seperti kemarin, melainkan nasi lemak yang ada telur rebus setengah butir dan kerupuk.
Son dan Shania berjalan ke samping kantin di mana mereka makan di sana seperti kemarin. Kebetulan, 6 sekawan juga ada di sana.
* * *