
Bab 124
Setelah kedua tangannya lepas dari pegangan Winy dan Cyntia, Aleena pun berteriak kesal, "Awas ya kalian berdua, kalau lain kali berani lagi mem-bully-ku. Jangan coba-coba! Ingat itu!" Aleena memperingatkan Winy dan Cyntia dengan mata melotot merah.
Berdebar hati Winy dan Cyntia melihat ekspresi wajah Aleena yang demikian merah padam. Mereka tak menyangka jika gadis belia yang mereka pikir selalu riang gembira, polos seadanya, spontanitas, lincah, usil, dan sesuka hatinya itu bisa marah juga.
Aleena benar-benar emosi dibuat Winy dan Cyntia yang mengunci gerakannya. Padahal hal yang paling tidak disukai Aleena adalah dikekang atau dipaksa. Aleena sangat benci peraturan. Karena menurut Aleena peraturan itu hanya membuat orang-orang merasa tidak bebas, seperti seutas tali yang mengikat kedua tangan dan kaki. Lalu peraturan itu juga membuat orang-orang tidak berani maju ke depan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya.
Alangkah lebih baik jika peraturan itu diganti dengan imbauan yang berisikan kalimat-kalimat sejuk dan adem yang menyadarkan dan tanpa paksaan. Orang akan lebih rela melakukannya jika itu bisa menyentuh hati dan membuka pikirannya.
Joseph yang melihat kemarahan Aleena pun terpana di tempatnya duduk. Mulutnya menganga. Tak disangkanya kalau ternyata Aleena begitu galak.
Setelah berkata begitu, Aleena pun mendengus lalu membuang muka dan berjalan pergi meninggalkan Joseph, Winy, dan Cyntia yang terpaku menatap punggung Aleena yang menjauh.
Aleena berjalan tergesa-gesa mengejar langkah Son yang entah sudah ke mana. Sudah 10 menit Son beranjak pergi bersama Shania. Entah ke mana mereka Aleena pun tak tak tahu karena tadi dia ditahan oleh Winy dan Cyntia saat hendak menyusul langkah Son.
Sementara Winy dan Cyntia yang ditinggalkan Aleena setelah dicakar, dicubit, dan dipukul Aleena pun cuma bisa menatap kepergian Aleena dengan wajah terperanjat. Setelah itu keduanya segera melihati tangan masing-masing.
Winy melihati tangannya sendiri karena dia melihat Cyntia juga melihati tangannya sendiri sambil mengibas-ngibaskan dan mengaduh kesakitan.
"Tanganmu lecet ya?" tanya Winy pada Cyntia sambil melongokkan kepalanya setelah dia berjalan mendekati Cyntia.
"Iya, Win," jawab Cyntia dengan mimik wajah kesal. Rona mukanya terkesan masam. Tidak lagi manis karena dia lagi jengkel.
"Nggak," Winy menggeleng. "Dia tak melukai tanganku. Cuma hampir saja menonjok wajahku."
"Oh, syukurlah," kata Cyntia. "Lebih baik lain kali kita jangan lagi dekat-dekat dengannya."
"Iya, aku pikir juga begitu. Biarkan saja dia mau begaimana terhadap Wilson dan Shania, kita tidak usah ikut campur. Itu urusan mereka bertiga," kata Winy.
"Betul, itu tidak ada urusannya dengan kita," setuju Cyntia. "Yuk ah, Win. Kita duduk balik di sini sambil menghabiskan minuman kita," ajak Cyntia.
Winy pun mengangguk dan melangkah mengikuti Cyntia mendekati tempat duduk keramik yang mengkilap yang mereka duduki tadi.
Keduanya mengambil kembali gelas plastik berisi minuman Korea dan Jepang milik masing-masing yang masih bersisa setengah. Setelah itu mereka menyeruputnya kembali melalui pipet.
Joseph yang duduk di antara mereka berdua pun melihati Winy dan Cyntia silih berganti.
"Apa kataku tadi, lebih baik tidak usah ikut campur. Seperti aku saja, duduk tenang-tenang di sini sambil minum minuman Amerika-ku dengan santai dan nikmat," kata Joseph sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Joseph lalu menyeruput minumannya yang masih bersisa seperempat. Setelah itu dia bernafas lega karena minuman Amerika yang ada di tangannya sudah dihabiskannya dengan tuntas. Tidak lagi bersisa setetes pun.
* * *