
Bab 57
Tom mengucapkan terima kasih atas ucapan ulang tahun dari mereka. Dia juga membalas salaman mereka dan ada beberapa teman sesama cowok juga yang merangkul bahu Tom sambil menanyakan kabar.
Tom menjawab pertanyaan mereka dengan sopan. Dia tak terbiasa bercanda atau tertawa lebar seperti Feby. Tom tak bisa memperlakukan mereka dengan akrab karena semasa sekolah dulu Tom juga bersikap biasa-biasa saja pada mereka. Tak ada teman yang spesial juga tak ada kenangan yang cukup berarti atau berkesan bagi Tom. Bahkan tak ada teman sekelas cewek yang berhasil mencuri hati Tom.Termasuk Feby.
Tom tidak begitu tertarik pada teman-teman sekelasnya. Dia menganggap pertemuan dan kebersamaan dengan mereka selama di kelas atau di sekolah hanyalah karena sama-sama ada kepentingan untuk menuntut ilmu. Jadi saat mereka lulus maka bagi Tom juga sulit mengingat nama mereka satu per satu sampai-sampai mereka yang harus mengingatkan Tom akan nama masing-masing.
Di antara teman-teman sekelas Tom dan Feby, ada yang datang bersama pasangan yang kebetulan dulu mereka sama-sama teman sekelas. Tapi tidak ada yang datang dengan membawa anak atau keponakan seperti Tom dan Feby. Jadi hanya Son dan Aleena saja yang merupakan anak tanggung yang datang di pesta ulang tahun Tom yang diadakan Feby ini.
Mereka yang berjumpa kembali saling menanyakan kabar masing-masing. Tak lupa juga mereka menanyakan kabar Feby yang selama 20 tahun ini tinggal menetap di luar negeri dan bekerja di sana. Feby bahkan sudah mengganti kewarganegaraannya.
Ruangan kafe yang tadinya sepi sekarang menjadi ramai oleh suara teman-teman Feby dan Tom. Mereka berbincang dan tertawa bersama sambil berbagi cerita. Kelihatan senang sekali karena bisa reuni mendadak di kafe "Sunflower Shine".
Setelah saling bertegur sapa, berbincang, dan berbagi cerita, Feby mempersilakan mereka untuk duduk di kursi yang ada di meja-meja kafe. Lalu Feby memberi isyarat kepada pelayan kafe supaya hidangan makanan yang sudah dimasak disajikan di atas meja para tamu.
"Kita makan malam dulu ya, Teman-teman," kata Feby. "Pasti kalian belum makan dari rumah. Aku sudah pesan banyak makanan lezat nih."
"Wah, makanan lezat apa, Feb?" celetuk seorang di antara mereka.
"Tentunya yang kalian suka," jawab Feby sambil tersenyum diplomatis. "Ohiya, minimannya aku seragamkan saja semuanya teh manis hangat. Tapi kalau ada yang mau jus jeruk, jus markisa, jus alpukat, atau jus yang lain boleh pesan sendiri," ingat Feby.
"Siplah, Feb. Kamu memang baik sekali. Dari dulu selalu tahu keinginan kita. Iya nggak, Teman-teman?" celetuk seorang teman.
"Betul! Dari dulu Feby selalu baik dan perhatian sama kita. Bahkan tak jarang kita ditraktir makanan enak juga seperti sekarang ini," puji seorang di antara mereka sambil tertawa melirik Feby.
Feby pun cuma bisa manggut-manggut mengucapkan terima kasih atas pujian mereka. Tak lupa juga dia tersenyum dan tertawa lepas membalas senyum dan tawa mereka. Ruangan kafe pun menjadi riuh oleh suara canda dan tawa mereka.
"Hmmm... kayaknya menunya masih sama dengan 20 tahun lalu saat kita sering mangkal di sini," kata seorang teman.
"Betul! Kelihatan masih sama ya? Aku masih ingat dulu hidangan makanannya seperti ini juga. Ditata seperti ini. Cuma rasanya yang belum tahu. Apakah masih sama?" kata teman yang lain.
"Yah... berarti harus kita cicipi sekarang dong?" canda yang lain lagi.
"Ayolah, kita makan sama-sama. Perutku sudah lapar," balas seorang teman.
"Iya... Silakan dimakan, Teman-teman," kata Feby sambil melempar senyum manis. "Jika teman-teman ingin yang lain boleh pesan sendiri juga," ingat Feby.
"Sip-lah, Feb!" jawab mereka serempak lalu masing-masing meraih sendok di atas piring dan mangkuk untuk mengambil lauk dan sayur yang tersaji di atas meja. Semuanya masih panas dan mengepulkan asap.
Feby senang melihat teman-temannya makan dengan lahap. Dia duduk semeja dengan Tom dan mempersilakan Tom dan Son untuk makan. Minuman teh manis hangat sudah disiapkan di atas meja masing-masing.
"Ayo dimakan, Tom, Son," kata Feby. "Aleena, kamu juga," angguk Feby sambil menoleh ke samping kanan di mana Aleena, keponakannya sedang duduk sambil mencuri-curi pandang pada Son.
Sedari tadi Aleena lebih fokus mencuri pandang pada Son yang duduk di depannya daripada mendengarkan percakapan antara Feby dengan teman-temannya. Aleena tidak tertarik pada percakapan orang dewasa walaupun mereka kelihatan sangat riuh dan akrab. Gadis belia cantik dan imut itu lebih tertarik melihat Son berulang kali walaupun itu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Son jelas tahu Aleena sedari tadi terus mencuri pandang padanya namun dia berpura-pura tak tahu dan memandang ke arah lain. Padahal hatinya merasa gerah dipandangi berulang kali oleh gadis belia yang duduk di depannya.
Mau menghardiknya rasanya nggak sopan. Mau mendiamkannya juga rasanya gerah. Akhirnya Son yang merasa nggak nyaman membalas lirikan Aleena dengan sebuah tatapan tajam yang dingin dan menusuk hingga Aleena pun kaget dan buru-buru memalingkan wajahnya dengan rona muka merah pucat.
Aleena malu karena kepergok Son sedang memandanginya.
* * *