
Bab 30
"Sampai jam berapa kita di sini, Bu Kathy?" tanya Jessica setelah sekian lama mereka hanya diam membisu sambil memandang ombak laut.
Kathy tak segera menjawab. Dia menoleh ke samping, menatap wajah Son yang berada di dekatnya. "Son, masih ingin main-main di pantai?" tanyanya pada putra tunggalnya itu.
Son balas menatap wajah mamanya. "Aku tak ingin main-main lagi. Aku mau pulang saja. Supaya mama bisa istirahat di rumah. Di sini capek," jawab Son.
Kathy tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang ya, Son?" tanya Kathy lagi.
Son mengangguk.
"Ayolah bereskan semua barang kita. Kita akan pulang sekarang," kata Kathy pada Jessica.
"Iya. Sekarang ya, Bu?" Jessica memastikan.
Kathy mengangguk.
Jessica segera membereskan barang-barang yang tadi mereka bawa serta ke pantai, seperti: tas, kain lap, cangkir, termos kecil, dan lain-lain.
Elen membantu Jessica mengemas kembali barang-barang mereka. Sedangkan Son membantu mamanya bangkit dari tikar lalu keluar dari pondok.
Mereka berempat berjalan meninggalkan pondok dengan barang-barang bawaan di tangan. Jessica dan Elen membawa tas-tas sedangkan Kathy menggandeng tangan Son menapaki pasir putih menuju tempat parkir mobil.
Kathy membuka pintu mobil dengan kunci otomatis ketika mereka sampai di sana. Setelah menyusun tas-tas dan barang-barang bawaan ke bagasi belakang, keempatnya masuk ke mobil.
Kathy duduk di belakang kemudi. Son duduk di samping Kathy. Sedangkan Elen dan Jessica duduk di jok belakang.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang ketinggalan, Kathy pun menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya keluar dari kawasan pantai.
Mobil itu seperti tadi harus melalui jalan berliku yang cukup jauh dulu di mana terdapat pepohonan di samping kiri kanannya sebelum sampai di jalan raya. Ibaratnya mereka keluar dari daerah perhutanan menuju daerah perkotaan.
Kathy menyetir dengan hati-hati dan perlahan karena kondisi tubuhnya yang masih lemah.
Elen, Jessica, dan Son duduk hening namun tak lupa sesekali melirik Kathy untuk memastikan dianya baik-baik saja dalam membawa mobil. Semoga saja bisa sampai di rumah dalam keadaan selamat, harap hati masing-masing.
Syukurlah, setelah menempuh perjalanan 2 jam akhirnya mereka sampai di rumah dalam keadaan selamat. Tentu saja Elen, Jessica, dan Son bernafas lega. Begitu juga Kathy yang berhasil membawa mereka pulang ke rumah tanpa kurang apapun.
"Senang akhirnya kita bisa kembali ke rumah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," kata Elen pada Jessica saat mereka berjalan memasuki pintu utama dengan tas-tas dan barang-barang bawaan di tangan.
Jessica tersenyum. Membalas Elen yang juga tersenyum. Keduanya sama-sama tersenyum lega. Sementara Kathy dan Son berjalan bergandengan tangan mendahului Elen dan Jessica. Keduanya menuju tangga ke lantai 2.
Hari sudah sore. Namun Tom belum juga pulang kerja karena belum pukul 5 sore. Dia masih di kantor mengurus perusahaan. Tom sama sekali tak tahu kalau Kathy barusan melewati masa-masa sulit. Dia masih mengira-ngira apakah istri dan anaknya sudah sampai di rumah atau belum.
Saat jam pulang kerja, Tom bergegas pulang dengan mengendarai mobilnya. Dia tampak terburu-buru karena perasaannya tak enak sepanjang hari. Karena khawatir terjadi apa-apa pada Kathy dan Son, Tom sampai tak berani menelepon untuk menanyakan kabar mereka. Dia takut firasatnya benar. Firasat seperti akan kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintainya.
Tom mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya bisa lebih cepat sampai di rumah. Dia berharap istri dan anaknya sudah ada di rumah dalam keadaan baik-baik saja setelah pagi tadi bilang mau ke pantai.
Begitu mobil Tom sampai di pekarangan rumah, Tom segera menghentikannya dan keluar dari mobil. Dia meraih tas kerjanya yang ada di samping tempat duduk lalu menutup pintu mobil dan berjalan cepat menuju pintu utama.
Sepertinya Kathy sudah kembali ke rumah karena Tom melihat mobilnya diparkir di garasi. Tapi entah kenapa Tom masih merasa cemas. Entah apa yang telah atau akan terjadi? batin Tom dengan perasaan was-was.
"Tom, kamu sudah kembali," sambut Elen yang kebetulan berada di ruang tamu saat Tom memasuki rumah.
"Iya, Elen. Syukurlah kalian sudah sampai di rumah. Di mana Kathy dan Son?" tanya Tom cepat.
"Mereka ada di lantai atas. Barangkali di kamar," jawab Elen.
"Oh, aku mau ke atas sekarang," kata Tom sambil bersiap-siap menaiki tangga. Maksudnya ingin segera menjumpai istri dan anaknya.
Tapi Elen menghentikan langkahnya. "Tom, tunggu dulu!" serunya.
Tom pun terhenyak dan batal menaiki tangga. Dia membalikkan tubuhnya menatap Elen. "Iya, Elen. Ada apa?" tanyanya. Perasaan was-was kembali berkecamuk di dadanya setelah Elen berseru menahan langkahnya.
"Hari ini Kathy kurang enak badan. Kata Jessica, tadi di pantai Kathy sempat demam dan meriang," beri tahu Elen.
Tom pun terpana mendengar kata-kata Elen. "Kathy kenapa? Maksudmu?" tanya Tom seolah tak mengerti atau kurang jelas. Dia memicingkan mata dan menatap Elen dengan sorot mata bertanya.
"Iya, tadi Kathy sakit sewaktu di pantai. Jessica bilang Kathy menggigil dan berkeringat dingin sampai terpaksa dibantu lap keringatnya," kata Elen hati-hati.
"Hah? Jadi? Jadi gimana kondisinya sekarang? Tapi kalian bisa pulang ke rumah juga kan? Kathy yang menyetirkah? Berarti dia baik-baik saja sekarang. Iya?" harap Tom cemas.
"Iya, untunglah setelah makan obat dan tidur Kathy berangsur pulih dan bisa menyetir dalam perjalanan pulang. Kalau tidak, kami terpaksa nginap di sana," kata Elen.
"Ah, ada-ada saja kamu, Elen," Tom tertawa hambar. Dia merasa hatinya belum lega sebelum menjumpai istri dan anaknya. "Aku ke atas dulu, Elen," katanya lalu cepat-cepat berbalik lagi menaiki tangga.
Elen yang melihat gelagat Tom yang terburu-buru ingin menjumpai istri dan anaknya cuma bisa memandang punggung Tom yang menjauh sambil menghela nafas berat.
Seandainya saja Tom tahu kalau obat yang diminum Kathy tadi sewaktu di pantai bukan obat demam melainkan obat alerginya Elen. Seandainya saja Tom tahu Jessica salah memberikan obat untuk Kathy karena saat itu dia dalam keadaan panik seorang diri mengurusi Kathy yang dalam keadaan serius. Seandainya saja Tom tahu Elen tidak membawa serta obat demam bukan karena dia lupa melainkan karena dia sengaja. Padahal Elen tahu jelas Kathy sedang tak enak badan pagi itu sebelum mereka berangkat ke pantai tapi sengaja tak membawa obat demam dan malah menaruh obat alerginya ke dalam tas yang disusunnya. Ada apa sebenarnya?
* * *