
Bab 55
"Tom! Akhirnya aku bisa melihatmu lagi!" seru Feby senang dengan wajah berseri-seri.
"Aku juga senang bisa melihatmu lagi, Feby," balas Tom sambil tersenyum kecil. "Duduklah," kata Tom yang melihat Feby berdiri sambil memandanginya.
"Oh... iya," jawab Feby yang seolah baru tersadar. Dia pun masuk ke depan kursi dan duduk di sana.
"Siapa yang di sampingmu, Feb? Kenapa dia tidak duduk?" tanya Tom melirik gadis belia yang sebaya Son yang berdiri di samping Feby.
"Oh... iya," Feby tersadar untuk yang kedua kali. "Ini keponakanku, Aleena," katanya. "Aleena, ayo duduk sini!" kata Feby.
Gadis belia yang bernama Aleena itu pun mengambil tempat duduk di samping Feby sehingga kini dia duduk berhadapan dengan Son sedangkan Feby duduk berhadapan dengan Tom.
Mau tak mau, Aleena memandang Son yang duduk di depannya. Hati Aleena berdesir. Remaja cowok yang duduk di depannya ini sangat tampan dan macho, batin Aleena. Dia juga kelihatan cool karena sama sekali tak membalas tatapan Aleena yang terus memandanginya.
"Ohya, ini putramu yang tadi chat ke aku ya?" tanya Feby saat menyadari adanya orang di samping Tom. Dari tadi Feby nggak sadar karena nggak diperhatikannya sama sekali orang lain yang ada di kafe itu selain Tom seorang.
"Iya, ini putraku, Wilson," kata Tom sambil memperkenalkan Son.
Feby menatap Son. Wah, bocah ini kelihatan sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari papanya, bisik hati Feby. Dia merasa takjub. "Halo, Wilson," sapanya. Kamukah tadi yang chat Tante?" tanyanya sambil tersenyum dan memandang Son.
"Iya," angguk Son.
"Ganteng sekali kamu," puji Feby dengan mata berbinar, seolah sedang membandingkan wajah Son dengan Tom.
Son tersenyum kecil. "Terima kasih, Tante. Aku biasa-biasa saja," balas Son merendah.
"Sekarang kamu kelas berapa? Ohya, ini Aleena," katanya saat teringat gadis belia yang duduk di sampingnya. "Kenalan dulu dengan Aleena, Wilson," Feby menatap Son. "Aleena ini keponakan Tante. Dia kelas II SMP."
Son menoleh sekilas pada Aleena karena hendak diperkenalkan dengan gadis itu. Dari tadi dia tidak menatap Aleena. Sekarang, saat Aleena duduk di depannya dan menatapnya dengan sorot mata berbinar, Son baru balik menatapnya.
Aleena tersentak saat Son membalas tatapannya. Tatapan Son sangat dingin tapi begitu dalam dan menusuk. Sesaat Aleena merasa ada getaran dan aliran dingin yang menjalari tubuhnya.
"I-i-ya, aku Aleena. Salam kenal," kata Aleena sambil mengulurkan tangannya pada Son. Dia merasa panas dingin saat Son tidak segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya sebagai salam perkenalan.
Feby pun seketika heran melihat sikap Son yang tidak bereaksi terhadap uluran tangan Aleena. Kenapa memangnya? Apa Son tidak bersedia berkenalan dengan Aleena hingga tak sudi mengulurkan tangannya? Feby tak habis pikir sampai dia melihat Son lalu berpindah ke Tom seolah meminta penjelasan.
Tom yang menyadari sikap Son itu segera menyikut lengan Son. "Son, ulurkan tanganmu juga. Aleena ingin berkenalan denganmu," kata Tom.
Aleena mencoba menatap balik mata Son yang begitu lekat memandangnya. Aleena tak tahu, apakah Son terbiasa memandang orang begitu, atau hanya kepadanya saja Son begitu?
Bukan tanpa alasan Aleena berpikir demikian, karena selama ini banyak cowok di sekolah yang mengejar-ngejar Aleena walaupun usianya masih 14 tahun dan masih kelas II SMP. Aleena tentu saja menyadari kelebihan dirinya yang memiliki wajah cantik dan tubuh imut. Kulitnya juga putih mulus.
Cantik dan imut. Itu kesan pertama Son saat menatap Aleena. Tapi itu hanya pikiran yang melewati benak Son, tidak melewati hatinya.
Son menarik kembali tangannya yang menjabat tangan Aleena. Dia menyimpan tangannya di bawah meja.
Aleena pun tersadar akan dugaannya yang ke-geer-an terhadap Son. Tampaknya Son tidak begitu tertarik atau antusias terhadapnya. Buktinya, Son hanya menatap wajahnya sekilas dengan tatapan yang lekat dan dalam, setelah itu mengalihkan tatapannya kembali ke hal lain. Son terkesan lebih asyik dengan lamunannya sendiri daripada memandang Tom, Feby, maupun Aleena.
Feby tersenyum setelah melihat Son dan Aleena berjabatan tangan. "Wah, lihat, Tom. Putramu dan keponakanku ini cocok sekali. Sama-sama tampan dan cantik," katanya dengan sorot mata guyon.
Tom melirik Son dan Aleena silih berganti. Lalu dia manggut-manggut. "Keponakanmu cantik sekali. Putraku biasa saja," kata Tom.
"Wah, kenapa begitu merendah, Tom?" kerling Feby. Dia melirik Son lagi. "Anak ganteng, kamu belum jawab pertanyaan Tante yang tadi. Kamu kelas berapa?" ulangnya.
"III SMP," jawab Son singkat.
"Oh... anak pintar. Umurmu?" tanya Feby lagi.
"Lima belas tahun," jawab Son.
"Wah, hanya selisih setahun dengan Aleena," celetuk Feby sambil tersenyum penuh arti.
"Selama di Medan ini, Tante tinggal di rumah Aleena," beri tahu Feby. "Kapan-kapan kamu boleh ajak papamu main ke rumah Aleena sekalian berjumpa Aleena," pesan Feby.
Son mengernyitkan alis. Untuk apa dia main ke rumah Aleena? Dia bukan teman sekolahnya Mereka kenal pun baru hari ini.
"Iya, Tom?" Feby mengalihkan tatapannya ke Tom.
"Apanya?" tanya Tom.
Hmmm... rupanya Tom kurang menyimak apa yang dikatakannya. Setelah 20 tahun lebih tak berjumpa, Tom masih belum menaruh perhatian spesial padanya. Tidak nampak sama sekali ada kerinduan di mata Tom berjumpa kembali dengan teman SMA yang sudah 20 tahun lebih tak bertemu. Berarti selama ini, dia bukan apa-apa bagi Tom. Hanya bekas teman sekolah saja yang kebetulan hari ini mengajak ketemuan
* * *