
Bab 146
Mobil yang dikendarai supir om-nya Shania pun terus melaju hingga sampai di kompleks pervilaan yang dihuni oleh Tom Simon.
Mobil memasuki pintu gerbang utama yang dijaga 2 orang satpam di pos satpam. Karena satpam sudah mengenali mobil tersebut yang mana di dalamnya duduk Wilson Simon, anaknya Tom Simon, maka mobil pun diizinkan masuk ke kompleks pervillaan.
Mobil terus melaju hingga sampai di depan villa milik Tom Simon yang sangat luas dan megah yang harganya mencapai 10 M.
Supir memberhentikan mobil pas di depan pintu gerbang. Karena 2 penumpang yang ada di mobil hanya mau turun dan masuk ke villa, maka mobil pun tidak diparkirkan lagi ke dalam atau ke halaman/taman villa.
Juga karena pengantarnya yaitu supir dan Shania tidak hendak singgah lagi ke villa, maka mereka pun hanya melihat Son dan Aleena turun dari mobil setelah Aleena membuka pintu mobil sebelah kiri.
Aleena turun duluan. Disusul Son. Mereka berdua berjalan mendekati pintu gerbang villa yang segera dibuka oleh tukang kebun.
Sebelum menggeser duduknya ke kiri dan keluar dari mobil tadi, Son menoleh dulu pada Shania yang duduk di samping kanannya. "Aku duluan ya, Shan. Trims ya, Shan," begitu kata Son.
"Iya, sama-sama," jawab Shania dengan bibir kecut. Dia mencoba tersenyum namun tak bisa. Entah kenapa hatinya merasa murung dan kurang puas.
Son mengucapkan terima kasih juga pada abang supir yang sudah mengantarnya sampai ke rumah. Seperti yang dilakukan oleh Joseph, Winy, dan Cyntia tadi sewaktu mereka sampai di depan rumah masing-masing dan hendak turun dari mobil.
Setelah Son dan Aleena turun dari mobil dan masuk ke villa, mobil pun dijalankan supir kembali. Mobil itu melaju ke depan tak berapa jauh hingga sampai di tikungan yang mana trotoar atau pembatas sisi kiri dan kanan jalannya terbuka sehingga mobil bisa berbelok di sana.
Mobil itu terus melaju dengan membawa Shania yang duduk di jok belakang. Rencananya, mobil akan kembali ke rumah om-nya Shania sebagai markas parkir.
"Langsung pulang ke rumah ya, Non? Tidak ke mana-mana lagi?" tanya abang supir.
"Iya, Bang, langsung pulang ke rumah saja," jawab Shania. Suaranya terdengar lesu alias kurang bersemangat.
"Kenapa, Non? Kok murung?" tanya abang supir sambil melirik lewat kaca spion tengah.
"Nggak kenapa-kenapa, Bang," jawab Shania sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mencoba tersenyum. Kali ini dia berhasil tersenyum sedikit. Mungkin karena orang yang bertanya adalah orang yang baik yang mengantar dia dan teman-temannya tadi sehingga Shania pun bisa tersenyum tulus walaupun sedikit dikarenakan hatinya yang murung.
Siapa lagi kalau bukan Son yang membuat hati Shania murung dan sedih. Dia sungguh kesal melihat sikap Aleena tadi sewaktu di mal dan di dalam mobil. Juga marah melihat Son yang pergi mencari Aleena sewaktu mereka hendak pulang dari mal.
Kenapa Son tidak mau mendengar kata-katanya supaya Aleena ditinggal seorang diri saja di mal? Kenapa Son harus mencarinya? Kenapa tidak biarkan saja dia tersesat di mal itu atau biarkan saja dia kesasar jalan pulang supaya kapok dan tidak berulah lagi?
* * *