
Bab 145
Son diam. Dia tak tahu harus bilang apa. Kata-kata Aleena ada benarnya juga. Malam tadi sewaktu di kafe, Son dengan spontan bisa menepis tangan Aleena dan memarahinya saat Aleena memegang pergelangan tangannya dan merogoh saku celana ponggolnya. Tapi kenapa sekarang hanya diam saja dan tak membalas? Padahal kali ini sikap Aleena lebih keterlaluan karena memukul lengan Son berkali-kali. Itu sudah menyakiti. Sedangkan malam tadi hanya mengusik.
Apakah karena ada Shania di sampingnya sehingga Son tidak berani menunjukkan sikap kasarnya pada Aleena? Kalau Shania melihat Son kasar pada cewek pasti dia akan mengurangi jumlah nilai mendekati sempurna yang dia berikan pada Son sebelumnya sewaktu mereka pertama kali bertemu di kelas.
Karena Son tak menjawab, Aleena pun capek sendiri dan berhenti bertanya. Dia membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke depan atau ke jalanan yang sedang ditempuh supir.
Melihat pertengkaran antara Son dan Aleena sudah selesai, Shania pun ikut membalikkan badannya kembali. Kalau tadi dia seperti Aleena menghadap Son, maka sekarang dia seperti Aleena juga menghadap ke depan.
Sementara supir yang melihat kericuhan yang barusan terjadi di jok belakang mobil hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tapi setelah itu dia pun menarik nafas panjang dan mengembuskannya. Kejadian tadi cukup menggangu konsentrasinya menyetir.
Aleena menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil. Dia menyeponjorkan kedua kakinya menyerupai sikap tiduran.
Sedangkan Shania duduk tegak dan punggungnya hanya sedikit saja mengenai sandaran kursi mobil.
Son bisa merasakan kedua gadis belia yang duduk di sampingnya atau di kiri kanannya memancarkan ekspresi wajah atau raut/rona wajah yang berbeda.
Kalau rona wajah Aleena agak merah dan lelah bercampur kurang puas, maka rona wajah Shania agak pucat dan marah bercampur kesal.
Son malu karena kata-kata Aleena tadi terdengar oleh Shania. Jadinya Shania tahu kalau Son mengasari Aleena. Son kaget karena diserang kiri kanan oleh Aleena dan Shania. Dia resah karena kata-kata Aleena yang menyudutkannya. Dia galau karena Shania yang mengurangi nilai terhadapnya. Dan dia juga serba salah karena merasa bersalah
Terserahlah apa maunya Aleena ini, pikir Son. Bodo amat jugalah dengan penilaian Shania. Karena nasi sudah jadi bubur. Apa boleh buat. Segala sesuatu yang sudah sempat retak atau bercela, akan sulit diperbaiki.
Walau cela atau retak itu bisa ditutupi atau direkatkan kembali, namun pasti akan meninggalkan jejak atau bekas yang tetap bisa terlihat dan mengurangi nilai indahnya.
Sama seperti jika kita sudah telanjur melukai hati atau perasaan seseorang, walaupun setelah itu kita berusaha mengobatinya, itu akan terlambat juga karena bagaimana pun berhasilnya diobati tetap akan meninggakkan jejak luka.
Luka itu mungkin bisa sembuh seiring dengan berjalannya waktu, tapi tetap akan meninggalkan bekas yang bila kita melihatnya kembali sewaktu-waktu, akan kembali berdarah.
Nasi sudah jadi bubur. Artinya sudah terlambat.
Jadi alangkah baiknya jika segala sesuatu itu kita rawat dengan baik jangan sampai retak atau luka. Karena bila sudah sempat retak atau luka, tak ada gunanya lagi walau kita berhasil memperbaikinya karena nilainya sudah telanjur berkurang dan sudah ada bekas luka atau retak.
* * *