Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Shania Menepiskan Tangan Aleena dan Tangan Son



Bab 122


Shania segera bangkit dari duduknya dan bermaksud meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya dicegat oleh Aleena.


"Lho, kamu mau ke mana?" tanya Aleena dengan mata heran.


Shania mendelik pada Aleena. "Minggir!" katanya dengan suara keras.


"Katakan dulu, kamu mau ke mana?" tanya Aleena. "Kalau tidak nanti Wilson-mu khawatir."


"Bukan urusanmu!" Shania menjawab ketus.


"Memang bukan urusanku sih, cuma aku nggak tega saja lihat Son-ku yang kusayang nanti khawatir gara-gara lihat kamu pergi entah ke mana," kata Aleena dengan mimik wajah pura-pura peduli dan ingin tahu.


"Oh, aku mau ke toilet. Mau ikut?" tanya Shania sambil menatap tajam wajah Aleena.


"Oh... mau ke toilet toh? Kupikir mau pulang sendiri," kata Aleena. "Ya sudah, pergi sana ke toilet. Tapi jangan lama-lama ya baliknya. Nanti Wilson-mu khawatir menunggumu," pesan Aleena.


Hati Shania terasa panas mendengar kata-kata Aleena. Dia merasa, Aleena sengaja  menyindirnya. Shania batal beranjak dari situ. Dia merasa ingin segera menonjok wajah Aleena untuk melampiaskan kegeramannya.


Tapi sebelum tangan Shania terangkat untuk menonjok wajah Aleena, Son yang melihat gelagat tersebut langsung bangkit dari duduknya. Dia segera menahan tangan Shania dan menggenggamnya erat.


"Shan...!" Son menyebut nama Shania dan menatapnya dengan mata yang memohon supaya Shania tidak terpancing untuk melampiaskan amarahnya. Karena jika Shania terpancing, maka keributan akan terjadi. Bisa saja, Aleena akan membalas tonjokan Shania mengingat tabiat Aleena yang tidak bisa diam.


Melihat Son memegang pergelangan tangan Shania, Aleena pun ikut-ikutan menggerakkan tangannya untuk menggengam tangan Shania tapi secara refleks Shania langsung menepiskan tangan Aleena.


"Aduuuh...!" jerit Aleena. Dia merasa tepisan tangan Shania pada tangannya sangat keras dan menyakitkan. Karena itu dia langsung mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghilangkan rasa pegal dan sakit.


"Kau yang mulai!" kata Shania. "Siapa sih yang memberimu izin untuk memegang tanganku?" tanya Shania dengan tatapan tajam dan menantang. "Hah? Siapa? Suka-suka kamu saja. Iya kan?"


"Lha, Wilson saja memegang tanganmu boleh. Sedangkan aku tidak boleh," jawab Aleena. Matanya memandang tangan Son yang masih memegang pergelangan tangan Shania. Setelah itu dia mengangkat kepalanya untuk menatap Shania dan Son silih berganti seolah-olah protes.


"Reseh amat sih!" kata Shania. "Aku mau pergi dari sini."


Setelah berkata begitu, Shania menepiskan tangan Son yang sedang menggenggam pergelangan tangannya. Lalu dia melangkah meninggalkan tempat itu.


"Shan... kamu mau ke mana?" tanya Son cepat. Dia khawatir melihat reaksi marah yang diberikan Shania. Kalau Shania sampai menepis tangannya, itu berarti Shania marah pada dirinya juga. Bukan hanya pada Aleena.


Shania tak menjawab. Dia terus melangkah menjauhi Son dan ketiga temannya yang lainnya.


Son mengejarnya. Aleena secara spontan pun hendak mengejar langkah Son, tapi tindakannya itu segera dicegah oleh Winy dan Cyntia yang bangkit dari duduk mereka dan langsung menarik tangannya. Mereka berdua mengunci gerakan Aleena supaya dia tidak bisa mengejar Son maupun Shania.


"Hei, kenapa dengan kalian ini?!" sentak Aleena. "Kenapa kalian tarik-tarik tanganku?" tanya Aleena sambil menatap wajah Winy dan Cyntia silih berganti.


"Kamu nggak bisa diam ya?!" kesal Winy. "Dari tadi kok buat ribut terus?"


"Buat ribut apaan?" tanya Aleena tak mengerti.


"Dasar nakal!" maki Cyntia. "Lama-lama aku bisa ikut-ikutan emosi seperti Shania melihat tingkah lakumu," kata Cyntia sambil membuang nafas kesal.


Joseph yang melihat adegan seru yang barusan terjadi antara Shania, Son, Aleena, Winy, dan Cyntia pun menarik nafas panjang dan mengurut dadanya.


* * *