
Bab 78
Halo?" jawab Son lagi. Kali ini dia menyetel atau menekan tombol louds di ponselnya supaya suara orang yang menelepon dari seberang sana bisa terdengar lebih jelas.
"Son? Wilson?" kali ini terdengar jawaban dari seberang sana. Suara seorang cewek yang sebaya Son.
Son mengerutkan kening. Dia merasa mengenal suara gadis belia di seberang sana. Yang tempo hari membuatnya marah dan kesal waktu mereka bertemu pertama kali di pesta perayaan ulang tahun papanya yang diadakan di kafe.
Sepertinya itu suara....
Gadis belia di seberang sana pun langsung menyerobot sebelum Son mengiyakan. Barangkali dia merasa sudah mengenali suara Son. "Son. Ini aku, Aleena. Ini kamu kan, Son?"
"Aleena?" Son pun menyebut namanya. Dia merasa heran dari mana Aleena bisa tahu nomor ponselnya.
"Iya, betul. Ini aku Aleena, Son!"seru gadis belia di seberang sana dengan suara lincah dan penuh semangat.
Karena Son menekan tombol louds di layar ponselnya, maka suara Aleena pun bisa terdengar jelas oleh keempat teman Son yang ada di ruang tamu. Keempatnya diam tak bersuara seperti sedang atau hendak mendengarkan percakapan Son selanjutnya dengan gadis belia bernama Aleena.
"Ada apa?" tanya Son. "Dari mana kamu dapat nomor ponselku?"
"Dari tanteku, Son," jawab Aleena cepat. "Aku meminta tanteku untuk menanyakan pada papamu nomor ponselmu. Dan papamu memberitahu kalau nomormu adalah ini: ****-****-***51. Wow, sangat gampang dihapal nomor ponselmu, Son. Itu juga nomor WA-mu kan?" jawab Aleena panjang lebar.
"Jadi, kenapa kamu telepon ke sini?" tanya Son.
"Iya untuk mencarimulah, Son," jawab Aleena.
"Iya, ada penting apa? Kenapa tidak WA saja?" tanya Son lagi. Dia merasa surprais. Tak menyangka Aleena tiba-tiba telepon ke ponselnya.
"Latihan drama. Sedang latihan drama," jawab Son. Kali ini Son teringat untuk melirik keempat temannya yang sedang berdiri menunggunya dan menguping pembicaraannya dengan Aleena.
Dari mimik wajah mereka, sepertinya mereka sangat penasaran dengan gadis yang menelepon itu. Apalagi Shania yang spontan membesarkan matanya dan menajamkan telinganya untuk mengetahui apa yang sedang dan akan dibicarakan oleh Son dengan gadis belia bernama Aleena. Bahkan Shania juga memperhatikan mimik wajah Son dengan teliti seolah-olah ingin mengetahui
bagaimana perasaan Son saat berbicara dengan Aleena. Siapakah Aleena? Apakah pacarnya Son atau teman SD-nya? Atau teman SMP-nya? Atau teman masa kecilnya? Kenapa Son dan dia terkesan sangat dekat dan akrab?
"Latihan drama? Latihan drama apaan?" tanya Aleena heran. "Kamu sedang latihan drama? Untuk apa?"
"Tugas sekolah," jawab Son singkat.
"Oh... tugas sekolah. Jadi kamu latihannya gimana? Drama apaan, Son? Aku boleh lihat kamu latihan drama nggak? Kamu video-kan atau rekamkan dong. Biar aku lihat. Aku jadi penasaran," cerocos Aleena.
"Nggak bisa," jawab Son.
"Kenapa nggak bisa?" tanya Aleena.
"Ada teman-temanku di sini," jawab Son rikuh.
Dia mulai merasa reseh dengan pertanyaan Aleena yang bertubi-tubi dan tiada habis-habisnya yang membuatnya tidak bisa memutus pembicaraan di saat teman-temannya sedang menunggunya.
Apalagi Son melihat sekilas tadi wajah Shania sedang memperhatikannya. Hati Son berdesir. Tatapan Shania dirasakannya lain dari biasanya. Seperti ada mimik kurang nyaman di wajahnya mendengar suara Aleena yang sedang berbicara dengannya.
* * *