Substitute Mom

Substitute Mom
Elen-Rumah Hati Tom



Bab 6


Untunglah 3 menit kemudian Elen muncul di ambang pintu dengan botol susu kosong di tangannya. Botol susu berkapasitas 120 ml itu sudah direbusnya dengan air mendidih di dapur dan sekarang dia membawanya ke hadapan Kathy.


Kathy pun dengan cepat menerima botol kosong yang sudah aman dari kuman dan bakteri dari tangan Elen.


"Ohya, kamu belum mencuci tanganmu, Kath," ingat Tom pada Kathy saat melihat istrinya itu terburu-buru hendak membuatkan susu untuk Son kecil yang sedang menangis di gendongannya.


"Ohya, aku hampir lupa," kata Kathy. Dengan agak tergesa dia berjalan memasuki kamar mandi bayi dan mencuci tangannya dengan sabun di westafel. Setelah itu dia mengeringkannya dengan tisu toilet dan berjalan kembali ke meja


tempat dia akan membuatkan susu untuk Son.


Kathy membuatkan susu untuk Son kecil sesuai petunjuk yang diajarkan suster di rumah sakit. Berapa sendok susu bubuk yang harus dimasukkan ke dalam botol dan dilarutkan terlebih dahulu secara merata dengan air panas dalam termos sebanyak 20 ml. Setelah itu baru ditambahkan air minum suhu biasa hingga 120 ml atau 200 ml. Di botol susu itu jelas tertulis takaran dalam ml 120 ml hingga 200 ml.


Kathy sudah selesai membuatkan susu untuk Son kecil. Dia membawanya mendekati Tom dan menyerahkan pada suaminya itu sehingga Tom bisa memberi minum Son yang sedang menangis karena lapar.


Betullah dugaan mereka kalau Son kecil sedang lapar karena dia berhenti menangis dan langsung meminum susu itu saat Tom memberinya.


Kathy dan Elen berdiri di samping kanan dan kiri Tom melihat laki-laki itu memberi susu pada Son. Karena bayi itu sudah lapar, dia pun minum dengan lahap hingga sebentar kemudian susu yang ada di dalam botol berukuran 120 ml itu pun habis.


Setelah botol itu kosong, Tom menyerahkannya pada Elen untuk dibawa kembali ke dapur dan dicuci. Sementara Son kecil tertidur kembali di gendongan Tom.


Elen pun keluar dari kamar bayi dan berjalan menuju tangga dengan membawa botol susu di tangannya.


"Biarkan dia tidur lagi saja," kata Kathy


sambil memberi isyarat pada Tom supaya meletakkan kembali bayinya ke atas ranjang.


Tom pun melakukan seperti yang dipinta Kahty. Son kecil diletakkannya kembali ke atas ranjang. Bayi itu tertidur pulas sehabis meminum susu. Bayi yang baru lahir memang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan tidur.


"Dia sudah tidur lagi," kata Tom sambil meletakkan 2 bantal kecil di samping kiri kanan Son untuk berjaga-jaga. Padahal bayi yang baru lahir beberapa hari sudah tentu belum bisa membalikkan badan sendiri ke kiri atau ke kanan. "Kita kembali ke kamar sekarang?" tanya Tom pada Kathy. "Kamu butuh istirahat, Kath."


"Tapi Son tidak ada yang menjaga. Tunggu Elen atau tunggu baby sitter-nya datang dulu?" Kathy balik bertanya.


"Baiklah," jawab Tom. "Aku ke bawah dulu melihat baby sitter-nya sudah datang atau belum. Kalau belum, kusuruh Elen untuk menjaga Son supaya kamu bisa istirahat di kamar. Kamu tidak boleh terlalu lelah, Kath. Sedari rumah sakit kamu belum juga istirahat."


Selepas Kathy berkata begitu, Tom pun berbalik dan meninggalkan kamar bayi. Dia berjalan menuju tangga dan turun ke lantai 1 untuk menemui Elen.


Sebenarnya, Tom sendiri juga sangat lelah karena selama 5 hari ini menjaga Kathy di rumah sakit. Dia juga ikut menggendong Son dan kadangkala memberinya minum di saat Kathy meminta bayinya dibawa ke ruangannya.


Langkah Tom sampai di bawah. Dia segera menuju ruang dapur untuk mencari Elen. Kepala pelayan di rumah Tom itu memang ada di sana saat Tom menjumpainya.


"Tom?" Elen segera menyadari kehadiran Tom di ruang dapur.


Tom melihat Elen sedang merapikan letak beberapa peralatan masak di dapur seperti panci tempat merebus botol susu, sumpit yang digunakan untuk mengambil botol susu dari panci setelah direbus, dan botol susu itu sendiri.


Melihat cara Elen merapikan benda-benda itu, Tom segera tahu kalau Elen sangat menjaga benda-benda tersebut karena itu berkenaan dengan bayi Tom. Elen pasti memperlakukan segala hal yang berkaitan dengan Tom dengan sungguh-sungguh. Dari dulu Elen selalu mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan Tom. Tom bisa merasakan perhatian Elen padanya sedari mereka remaja saat Elen bersama ibunya diterima bekerja di rumah Tom.


"Ada apa, Tom?" tanya Elen saat melihat Tom berjalan ke arahnya.


Sebenarnya, Tom tidak perlu menjawab. Elen sudah tahu pria yang diam-diam dicintainya itu merasa lelah. Elen melihat seraut wajah yang sangat lelah sedang berusaha bertahan dan bersabar. Kathy yang menjadi istri Tom bahkan tidak begtiu memahami isi pikiran dan hati Tom dibanding Elen.


Tom mencintai Kathy, itu pasti. Dan Kathy juga mencintai Tom, itu juga pasti. Tom bisa memahami Kathy dan sering berusaha mengalah pada semua keinginan istrinya. Tom tidak pernah mau bertengkar atau membuat istri yang dicintainya itu sedih atau kecewa. Dia selalu berusaha menyenangkan dan membahagiakan istrinya walaupun hatinya sendiri nelangsa.


Begitulah saat kita mencintai seseorang. Kita selalu berusaha menyenangkan dan membahagiakannya dengan segala cara walaupun diri sendiri kecewa atau terluka. Bahkan saat hati kita sudah sangat lelah karena selalu berusaha bertahan dan mengalah, namun masih juga tidak tega marah.


Sebagai pelariannya, kita akan mencari orang lain yang bisa memahami diri kita yang bersedia menjadi tempat untuk melepas lelah. Dan bagi Tom, orang itu adalah Elen yang selalu bersikap baik padanya semenjak pertama kali mereka berkenalan.


"Sangat lelah ya, Tom?" tanya Elen.


Seperti dugaannya, Tom mengangguk. "Iya," jawabnya. Tom memang tidak segan-segan bicara yang sejujurnya pada Elen tentang isi hatinya dan jalan pikirannya. Bagi Tom, Elen bukan hanya seorang kepala pelayan di rumahnya. Tapi Elen juga adalah rumah di hatinya tempat di mana dia bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.


"Duduklah di sini, Tom. Biar kubuatkan untukmu segelas teh manis hangat," kata Elen.


Tom berjalan mendekati meja makan dan duduk di sana sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Sudah 5 hari dia tak bertemu Elen. Dan entah kenapa selama 5 hari itu walaupun dia sangat bahagia akan kehadiran sang buah hati dan menemani istri dan bayinya di rumah sakit, tapi dia tetap merasa ada yang kurang. Iya, Tom merasa ada rumah yang dia harus pulang sebagai tempat istirahat, curhat, atau melepas lelah. Dan rumah di hatinya itu adalah Elen, kepala pelayan di rumahnya yang lebih tua 2 tahun darinya.


* * *