
Bab 22
Pesan moral dari cerita dongeng yang diceritakan ibu guru adalah bahwa kebaikan itu pada akhirnya akan menang walaupun harus mengalami cobaan. Namun tentunya ini tidak dikatakan ibu guru pada anak-anak karena mereka bisa memikirkan dan mengambil sendiri intisari atau hikmah dari cerita itu.
Anak-anak pasti akan memilih untuk menjadi putri baik hati yang disihir karena pada akhirnya putri cantik jelita itu bisa hidup bahagia bersama pangeran tampan. Sedangkan tukang sihir yang telah menyihir putri menjadi seekor kelinci akhirnya dipenjara. Berarti perbuatan baik dan buruk itu akan menerima ganjarannya walaupun terlebih dahulu melewati proses.
"Baiklah, Anak-anak, sekarang kita akan menyanyi. Siapa yang pintar bernyanyi ayo tunjuk tangan," kata ibu guru.
Dalam sekejap belasan murid mengangkat tangannya ke atas.
Ibu guru tersenyum. Dia menunjuk anak yang duduk di bangku tengah untuk maju ke depan menyanyi.
Anak itu pun maju ke depan dan saat dia ditanya hendak menyanyikan lagu apa katanya lagu Cicak-cicak di Dinding.
Ibu guru mempersilakan dia menyanyi dan dia pun bernyanyi dengan suaranya yang lucu dan comel.
Sehabis dia menyanyikan lagu itu, ibu guru menyuruh anak-anak bertepuk tangan.
Selanjutnya anak yang duduk di bangku belakang ditunjuk maju ke depan menyanyi dan dia menyanyikan lagu Balonku.
Demikiankah seterusnya sampai semua murid yang tunjuk tangan tadi mendapat giliran.
Ibu guru melirik Son. Anak itu tidak mengangkat tangannya tadi berarti dia belum dipanggil ke depan.
"Wilson," ibu guru memanggil namanya.
Son mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada ibu guru yang memanggil namanya.
"Wilson Simon," ulang ibu guru lagi. Kali ini menyebut nama lengkapnya.
Son tetap hanya memandang ibu guru yang berdiri di depan kelas yang sudah memanggil namanya 2 kali. Dia tak bereaksi maju ke depan menyanyi seperti teman-temannya tadi.
"Ayo, Wilson maju ke depan menyanyi," kata ibu guru.
Son tentu saja tidak segera menuruti apa yang disuruh ibu guru karena dia memang tak pintar menyanyi. Elen maupun Jessica tidak pernah mengajarinya menyanyi. Mungkin mereka merasa akan sangat sulit melakukan hal itu karena Son sangat pendiam.
"Ayolah, Wilson. Maju ke depan ya, Nak. Teman-teman ingin melihatmu menyanyi," pinta ibu guru.
"Dia tidak pintar menyanyi, Bu," kata Jessica. "Kami tidak pernah mengajarinya."
"Oh, mengapa tidak?" tanya ibu guru heran.
"Karena dia tak suka menyanyi," jawab Jessica.
"Ah, siapa bilang?" ibu guru tak percaya. Dia berjalan beberapa langkah menghampiri bangku Son. Setelah berada di sampingnya, ibu guru memegang pergelangan tangan Son dan menuntun Son bangkit dari kursi.
"Ayo, Nak, kamu maju ke depan menyanyi. Ibu akan mengajarimu," kata ibu guru pada Son sambil mengangguk dan tersenyum.
Son menoleh ke kanan melihat Jessica yang berdiri di samping kanannya sementara ibu guru yang bicara dengannya berdiri di samping kirinya.
Seperti tahu Son sedang meminta pendapatnya, Jessica pun mengangguk. "Iya, Son, majulah ke depan menyanyi seperti kata ibu guru. Kamu pasti bisa. Ibu guru akan mengajarimu."
Mendengar kata-kata Jessica itu, Son pun mengalihkan pandangannya kembali kepada ibu guru dan berjalan mengikutinya ke depan kelas.
Son sungguh tak tahu harus menyanyikan lagu apa. Tapi ibu guru memperlihatkan padanya bagaimana dia menyanyi dengan wajah yang riang gembira.
Son diajari ibu guru lirik lagu Pelangi dan cara menyanyikannya. Tapi Son tetap tidak mau bersuara hingga akhirnya ibu guru lelah sendiri.
Sungguh tidak gampang menghadapi anak ini, pikir ibu guru. Ke depannya dia harus berusaha keras untuk menghadapinya karena dengan memahami saja belum cukup.
"Baiklah, Anak-anak, sekarang waktunya istirahat. Kita keluar dari ruangan ini dan ke taman sekolah. Ada yang suka main ayunan nggak?" tanya ibu guru.
Spontan anak-anak pun menjawab dengan riuh rendah. Suara mereka terdengar comel.
Ibu guru tersenyum. Dia segera menyuruh anak-anak keluar dari ruang kelas dan menuju ke taman sekolah di mana terdapat ayunan-ayunan dan seluncuran-seluncuran yang dicat warna-warni.
Son keluar paling akhir dari ruang kelas sebelum ibu guru. Dia dituntun Jessica yang berjalan di sampingnya. Demikian juga anak-anak yang lain yang masih didampingi orangtua atau pengasuh mereka di hari pertama sekolah. Dan ini diperbolehkan selama 3 hari. Ke depannya orangtua tidak boleh lagi masuk ke ruang kelas melainkan hanya menunggu di bangku taman.
"Di rumah Son ada mainan ayunan dan seluncuran nggak?" tanya ibu guru pada Jessica yang berjalan bersisian dengannya.
"Iya, ada, Bu. Di taman ada ayunan tapi bukan ayunan khusus anak-anak," jawab Jessica.
"Ayunan yang biasa?" tanya ibu guru.
Jessica mengangguk. "Iya."
Anak-anak sudah sampai di taman. Mereka segera memilih permainannya sendiri.
Kathy yang sedang duduk di bangku taman sambil melihati layar hp segera menyadari kehadiran anak-anak. Dia menyimpan hp-nya ke dalam tas dan bangkit dari bangku untuk menyongsong kehadiran Son.
"Sayang," Kathy memanggilnya.
Son menatap Kathy sesaat.
"Bagaimana tadi di dalam kelas?" tanya Kathy pada Jessica.
"Tadi anak-anak maju ke depan kelas untuk menyanyi. Tapi Son tidak mau menyanyi saat disuruh," jawab Jessica.
"Oh, maksudnya mereka disuruh menyanyi satu per satu?" tanya Kathy lagi.
"Iya, Bu Kathy. Mereka maju satu per satu ke depan kelas menyanyikan lagu anak-anak. Tapi tidak semuanya. Hanya yang tunjuk tangan saja yang dipanggil," beri tahu Jessica.
"Oh, jadi Son tidak?"
"Son dipanggil ibu guru ke depan kelas untuk menyanyi tapi dia tidak mau."
"Aku baru ingat. Kita tidak pernah mengajarinya menyanyi selama ini."
"Iya, Bu Kathy. Tapi ibu guru memperlihatkan bagaimana cara menyanyi dengan riang gembira dan mengajari lirik lagunya juga."
"Kalau begitu kita harus mengajarinya menyanyi saat di rumah nanti," kata Kathy.
Jessica mengangguk.
"Ayo, Son, kita main-main ke sana," Jessica menunjuk ayunan dan seluncuran yang ada di taman.
Anak-anak sudah memenuhi ayunan dan seluncuran. Mereka bermain dengan riang gembira. Terdengar suara celotehan mereka yang comel dan menggemaskan.
Son berjalan mendekati sebuah seluncuran ditemani Jessica. Dia agak ragu saat Jessica menyuruhnya menaiki tangga seluncuran itu. Sepertinya bukan karena dia tidak mau melainkan karena dia merasa seluncuran itu terlalu ramai. Teman-teman sekelasnya sudah berbondong-bondong menaiki ayunan dan seluncuran dan bermain dengan riang gembira sedangkan Son masih dengan pikirannya.
"Kenapa, Son? Kamu tidak suka naik seluncurankah? Atau kita pindah ke ayunan saja?" tanya Jessica.
"Son, sini, Son," ibu guru yang melihat kehadiran Son di situ segera memanggil Son untuk mendekat. Setelah Son berjalan mendekatinya, ibu guru menuntun tangannya untuk menaiki tangga.
Sama seperti anak-anak lain yang dituntun dan dijaga oleh ibu guru dan orangtua atau pengasuh mereka saat menaiki seluncuran dan ayunan. Mereka dijaga karena ramainya anak-anak di taman bisa membuat mereka saling dorong
* * *