
Bab 153
"Wah, rumah Om ini sangat luas dan megah!" seru Aleena dengan wajah takjub saat langkahnya sampai di ruang tamu yang tertata rapi. Terasa sangat adem, indah, sejuk, dan nyaman.
"Ah, masa?" balas Tom dengan hati geli namun terasa plong dan senang. "Biasa saja, Aleena. Villa-villa di sini rata-rata seperti ini juga," kata Tom sambil tersenyum.
"Nggak, Om. Kurasa, ini villa paling mewah yang pernah kulihat dari semua villa yang ada di kompleks pervillan," balas Aleena.
"Ohya? Kamu sering berkunjung ke villa-villa teman-temanmu juga?" tanya Tom penasaran.
"Bukan villa temanku, Om. Tapi villa temannya Tante Feby," beri tahu Aleena.
"Oh, begitu ya? Hmm...," Tom Simon mendehem. "Di mana tantemu? Kenapa dia tidak datang bersamamu?" tanya Tom.bagai teringat teman SMA-nya itu yang malam tadi mengadakan pesta ultah untuknya di kafe "Sunflower Shine."
"Tante lagi berkunjung ke rumah temannya, Om. Katanya, malam nanti baru datang menjemputku," jawab Aleena.
"Oh, tadi kamu datang diantar tantemu ya?" tanya Tom lagi.
"Iya, Om. Tante bilang malam nanti dia mau jumpa Om juga," kata Aleena.
"Hah? Tantemu mau jumpa Om lagi? Kan malam tadi sudah jumpa di kafe," tak percaya Tom.
"Lha, kan karena tanteku rindu sama Om lagi walaupun barusan berjumpa," canda Aleena.
"Hahaha, ada-ada saja kamu, Aleena," tawa Tom. "Masa dalam semalam sudah rindu lagi," Tom tak mampu menahan rasa geli di hatinya mendengar gurauan Aleena.
"Iya dong, Om. Tante Feby rindu lagi pada Om Tom walaupun barusan berjumpa malam tadi. Sama seperti aku yang rindu lagi pada anak Om walaupun barusan berjumpa malam tadi," kata Aleena.
Tom tertawa lagi. Matanya berbinar dan tatapannya berseri. Wajahnya yang semula kelihatan capek dan penat berubah menjadi segar dan semangat.
Aleena telah mampu mengubah rona wajah dan suasana hati Tom. Perasaannya menjadi senang dan hatinya gembira.
Son yang sedari tadi terus memperhatikan papanya berbincang-bincang dengan Aleena hanya diam saja. Namun matanya tak lepas-lepas memandang wajah papanya yang kelihatan begitu senang dan bahagia. Son jarang sekali melihat rona wajah papanya yang seperti itu. Biasanya di rumah Tom berwajah kaku dan tegas. Tidak lembut dan bebas seperti sekarang.
Son memandang pada Aleena sesekali juga untuk melihat bagaimana cara Aleena menyenangkan hati papanya hingga papanya bisa berubah menjadi ramah dan bersahabat.
Tidak ada yang spesial dari Aleena. Hanya wajahnya yang kelihatan berseri-seri dan matanya yang kelihatan berbinar-binar saat dia berbicara dengan Tom.
Tapi memang gerak-gerik Aleena yang luwes dan lincah terasa begitu bebas dan lepas hingga membuat hati orang lain pun terasa bebas dan lepas.
"Baiklah, Aleena. Terima kasih atas semua pujianmu yang menyenangkan hati Om," senyum Tom. "Om mau ke atas dulu mandi dan bersalin pakaian rumah. Kamu duduk saja di sini ya," tunjuk Tom pada sofa yang ada di ruang tamu. "Nanti kalau Om sudah siap dari lantai atas, Om akan temani kamu ngobrol lagi. Ohya, kamu makan malam di sini saja. Sekalian dnegan tantemu," kata Tom.
"Siaaap... Om! Dengan senang hati!" seru Aleena dengan tampang lucu dan semangat sambil menaikkan sebelah tangannya menempel di samping kening seperti sedang menghormat pada seorang pimpinan.
Tom pun tersenyum kecil dan tak berkata apa-apa lagi lalu naik ke lantai atas menuju kamar tidurnya.
* * *