Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Elen Menanyai Nama Teman-teman Son



Bab 71


"Kita bikin PR kelompoknya di mana, Wilson?" tanya Joseph membuyarkan pikiran Shania dan Son yang sedang saling memandang.


Karena Shania menatap Son terus dengan tatapan mata berbinar yang penuh rasa suka, maka Son pun membalas tatapannya.


Mereka saling bertatapan cukup lama sampai tidak menyadari kalau Joseph, Winy, dan Cyntia sedang mengawasi keduanya.


Joseph tak berpikir jauh melihat Shania dan Son saling bertatapan. Dia menganggap itu sebagai hal yang biasa saja layaknya dua orang yang sedang berbicara memang harus saling bertatapan.


Tapi Winy dan Cyntia yang lebih peka, bisa menyadari ada arti lain yang tersirat di tatapan mata keduanya.


Winy dan Cyntia tentu saja memperhatikan ekspresi wajah dan sorot mata Shania yang lain daripada yang pernah mereka lihat sebelumnya. Sebelumnya, Shania tidak pernah menatap orang seperti itu. Paling yah... hanya tatapan biasa saja.


Adapun Son, mereka melihat Son juga menyukai Shania dari sorot matanya yang membalas tatapan Shania. Mereka bisa merasakan kalau Son bersikap lebih ramah pada Shania daripada pada teman lain.


Kalau ditanya siapakah yang Son suka? Mereka pasti akan menjawab kalau Son menyukai Shania. Bagaimana mereka bisa tahu kalau Son menyukai Shania? Itu kelihatan dari cara Son memperhatikan Shania. Sukanya itu seperti Son sangat menyayangi Shania sampai tidak tega menyakitinya.


Joseph yang masih menunggu jawaban Son tampak bingung melihat Son dan Shania masih bertatapan tanpa bicara dan Son tidak menjawab pertanyaannya.


Apaan sih yang sedang mereka diskusikan lewat tatapan mata? pikir Joseph. Apakah dengan diam saja tanpa berkata apa-apa mereka bisa saling menyampaikan informasi?


Joseph nggak tahu kalau perasaan sudah bicara maka tidak perlu kata-kata untuk menyampaikan maksud hati. Cukup pandangan mata sudah bisa menyampaikan segalanya. Ini namanya "bahasa diam" yang hanya orang tertentu saja bisa memahaminya.


Orang itu adalah orang yang memiliki perasaan yang sangat peka atau sangat sensitif yang terbiasa mengawasi segala sesuatu tanpa bicara. Yang memiliki insting atau naluri yang sangat kuat berdasarkan latihan dan pengalaman selama bertahun-tahun.


Maka pada orang tersebut tidak perlu bicara banyak untuk menjelaskan. Cukup diam dan saling menatap saja sudah tahu.


Son dan Shania juga begitu. Mereka bisa saling mengerti tanpa perlu banyak bicara karena keduanya sudah saling memahami sifat dan karakter masing-masing.


"Ya, di sini," jawab Son yang ternyata mendengar pertanyaan Joseph. Walaupun dia seperti sedang fokus pada Shania namun tidak juga mengabaikan sekeliling.


"Ohya, kalau begitu kita taruh tas kita di sini saja," kata Joseph entah pada siapa.


Winy dan Cyntia mendengar kata-kata Joseph dan mereka menaruh tas masing-masing di lantai dekat ujung sofa.


"Shan? Kamu nggak menaruh tasmu?" tanya Joseph membuyarkan pandangan Shania pada Son.


"I-iya," jawab Shania yang acara pandang memandangnya dengan Son terganggu sekaligus terputus gara-gara Joseph. Shania berjalan mendekati ujung sofa dan meletakkan tasnya ke situ.


Sementara Son ke kamarnya mengambil buku pelajaran dan buku catatan, Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia mengeluarkan buku cetak Bahasa Indonesia dan buku catatan atau buku tulis dari dalam tas masing-masing.


"Kita duduk di sini saja?" tanya Winy pada teman-temannya yang masih berdiri setelah mengambil buku dari dalam tas.


Shania, Joseph, Winy, dan Cyntia saling memandang karena tidak ada yang mempersilakan mereka duduk jadi mereka pun ragu.


Tiba-tiba Elen yang tadi berjalan ke ruang dapur seturunnya dari tangga, kembali ke ruang tamu dan menyapa mereka.


"Kalian boleh duduk di sofa," kata Elen. "Aku tadi ke dapur sebentar berpesan pada tukang masak untuk membuatkan minuman untuk kalian," senyumnya.


"Oh...," Shania dan teman-temannya pun membalas senyuman Elen lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Son ke mana? Bukankah tadi sudah turun?" tanya Elen saat tak melihat Son di dekat mereka.


"Wilson ke atas sebentar ambil buku,


Bu," jawab Joseph cepat.


"Oh," Elen pun tersenyum lagi.


Dia memandang satu per satu teman Son dan manggut-manggut karena merasa mereka biasa-biasa saja seperti anak-anak remaja pada umumnya. Tidak ada yang istimewa. Tapi saat dia memandang Shania yang duduk paling kanan dari sofa, matanya membesar. Elen bisa melihat gadis remaja yang sedang mekar-mekarnya itu sangat cantik dan menawan.


"Oh, kalau boleh tahu, siapa nama kalian?" tanya Elen ramah.


Sebenarnya, Elen lebih tertarik mengetahui nama gadis remaja yang dilihatnya sangat cantik itu, tapi kalau dia hanya bertanya nama gadis itu dan mengabaikan yang lain maka akan terasa tak enak bagi yang lain. Itu hanya menunjukkan dia lebih diperhatikan atau lebih menarik. Padahal yang lain juga harus diperhatikan.


"Aku Joseph, Bu," kata Joseph memperkenalkan diri. Dia yang pertama mempromosikan diri sendiri.


"Aku Winy," kata Winy setelah melihat Joseph bicara.


"Aku Cyntia," lanjut Cyntia yang barusan menoleh pada Winy dan Joseph yang duduk di samping kanannya. Sementara Shania masih diam.


Elen manggut-manggut. "Ohya, kalau begitu yang ini namanya siapa?" tanya Elen sambil menunjuk dan menatap Shania.


"Dia Shania, Bu," jawab Joseph cepat. "Kami semua teman-teman sekelas Wilson tapi Shania ini yang paling akrab dengan Wilson. Shania duduk di belakang Wilson dan aku duduk di samping Shania."


* * *