Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son dan Shania di Depan Gerbang Sekolah



Bab 46


Son dan Shania sudah sampai di luar kelas. Mereka berjalan menyusuri sepanjang koridor menuju tangga ke lantai 1.


"Kamu tinggal di mana, Wilson?" tanya Shania sambil menoleh ke samping kiri.


Son menyebutkan sebuah nama yaitu nama kompleks tempat di mana dia tinggal.


"Oh...," Shania pun manggut-manggut. "Jadi kamu pulang naik apa?" tanya Shania.


"Papaku jemput," jawab Son. "Kamu?" tanya Son balik.


"Aku tinggal di ...," Shania menyebutkan nama sebuah tempat. "Tapi itu rumah om-ku. Supir om-ku yang antar jemput aku ke sekolah tiap hari."


"Kamu tinggal di rumah om-mu?" tanya Son penasaran.


"Iya, rumahku bukan di Medan. Papa mamaku tinggal di kota kecil. SD-ku di kota kecil. Waktu SMP kelas I aku baru pindah ke Medan dan menumpang di rumah om-ku," cerita Shania.


Mereka sudah sampai di ujung tangga. Keduanya berjalan berdampingan menuruni tangga.


"Kapan-kapan kamu mau main ke rumahku?" tanya Shania.


"Boleh juga," Son tersenyum.


Hati Shania berdesir. Ini pertama kalinya dia melihat senyum Son. Kelihatan sangat manis karena ada lesung pipi dan gigi gingsulnya.


Shania tak menyangka, cowok berwajah dingin seperti Son bisa tampak hangat juga saat dia tersenyum. Hati Shania terasa hangat. Ada aliran hangat yang menjalari tubuhnya.


"Kapan-kapan aku juga mau main ke rumahmu," kata Shania sambil membalas senyum Son.


Langkah mereka sudah sampai di bawah tangga. Keduanya berbelok ke kanan dan berjalan menuju pintu gerbang. Rencananya, Son dan Shania akan menunggu jemputan di depan sekolah yang berhadapan dengan jalan raya.


Setelah keluar dari gerbang sekolah, keduanya berdiri di samping gerbang dengan posisi punggung hampir mendempeti pintu gerbang dan wajah menghadap ke jalan raya.


Shania merasa senang dan nyaman berdiri di dekat Son. Mereka berdiri bersama dalam jarak sangat dekat, sekitar setengah meter.


Bahasa tubuh yang seperti itu sudah jelas menggambarkan Shania menyukai Son. Dia nyaman bersama Son. Karena bila seorang wanita tidak menyukai seorang pria, sudah jelas dia tak akan mau berada di dekat-dekat pria itu karena itu membuatnya tak nyaman. Gerak-gerik tubuh Shania yang kerap mendekati Son sudah cukup mengisyaratkan kalau Shania memang menyukai Son.


Son yang merasa Shania berdiri begitu dekat dengannya walaupun merasa risih dan berdesir, namun entah mengapa dia tak sanggup melangkahkan kakinya ke samping sedikit pun untuk menjauh. Son tak berdaya. Dia menyukai rasa yang seperti itu. Rasa yang diberikan Shania terasa amat menggoda naluri kelelakiannya.


Bayangkan, siapa yang tidak berdebar sengaja didekati oleh cewek secantik dan selembut Shania. Berdiri di dekatnya saja sudah bisa mencium wangi rambutnya dan aroma kewanitaannya yang membangkitkan gairah. Son sampai harus menata perasaan di hatinya supaya tetap tenang. Sebagai laki-laki jantan, dia harus bisa mengendalikan diri walaupun digoda dengan cara seperti itu. Kalau dengan mudah dia takluk dan hilang kendali, itu akan menjatuhkan harga dirinya di depan Shania.


Harga diri seorang pria itu sama seperti harga diri seorang wanita. Pria yang mudah tergoda atau takluk pada wanita cantik akan tampak seperti pria murahan karena bisa dibeli dengan kecantikan. Sedangkan wanita yang mudah menyerah atau takluk pada pria bermateri lebih akan tampak seperti wanita murahan karena bisa dibeli dengan uang.


Hati Son makin berdesir saat Shania yang berdiri di sampingnya menoleh dan memandang wajah Son dari dekat.


Shania seperti sedang mengamati setiap inch wajah Son mulai dari rambut, kening, alis, mata, hidung, bibir, dagu, telinga, dan pelipis.


Son tidak menoleh. Dia tidak berani menoleh sedikit pun karena tak berani membayangkan bila dia harus bertatapan mata dalam jarak sangat dekat dengan Shania. Dia takut tak bisa mengendalikan diri. Kalau sekarang masih bisa walaupun terasa sangat sulit dan menyiksa.


Aduh... kumohon... jangan lagi menatapku begitu, pinta Son dalam hati. Son benar-benar risih walaupun hati dan dadanya bergemuruh dan bergejolak senang. Debar-debar bahagia menjalari seluruh denyut nadi di tubuhnya.


Shania tak segera mengalihkan pandangannya dari wajah Son yang sedang dinikmatinya dengan rasa kagum yang membuncah. Dia merasa tubuhnya bergetar dan tak kuasa menahan rasa di hatinya yang demikian bergejolak.


Shania ingin mengucapkan sesuatu tapi tak bisa karena matanya masih terpaku pada wajah Son yang dirasanya seperti sebuah lukisan yang indah. Hidungnya mancung sekali, alisnya tebal, dagunya tegas, rahangnya lebar, telinganya panjang, sorot matanya dingin dan sejuk. Tatapannya dalam dan bisa menembus sampai ke hati orang.


Son terpaksa batuk-batuk 2 kali untuk mengalihkan tatapan mata Shania dari wajahnya karena dia merasa sangat risih.


Shania pun tersadar. Dengan wajah jengah Shania menoleh kembali ke depan melihat ke jalan raya walau sebenarnya pikirannya tidak bisa ke mana-mana. Dia tidak bisa mencerna kendaraan yang sedang berlalu lalang di depannya karena pikirannya 100 persen tertuju pada Son.


"Masih lama lagikah?" tanya Son tiba-tiba tanpa menatap Shania.


"Apa, Son?" Shania balik bertanya.


"Mobilmu datang jemput," jawab Son. "Masih lama lagi?" tanya Son.


Shania melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. "Sebentar lagi, Son," jawabnya.


* * *