Substitute Mom

Substitute Mom
Season 2-Son Melepaskan Pegangannya di Tangan Aleena



Bab 94


Son dan Aleena masih berdiri di bawah pohon dengan tangan Son yang terus memegang pergelangan tangan Aleena.


"Mau ke mana kamu?" tanya Son sambil matanya tak lepas dari wajah Aleena. Dia memandang Aleena dengan tatapan tajam yang dirasa Aleena sangat dingin dan menusuk.


Oh, aku bukan musuhmu. Kenapa kamu menatapku seperti itu? bathin Aleena.


"Aaa.. a-pa?" tanya Aleena balik dengan wajah  bingung. Hatinya bergemuruh dan  tengkuknya berkeringat dingin. Keringat dingin itu meluncur begitu saja karena pengaruh emosi di hatinya yang menjadi tak stabil gara-gara Son yang belum juga melepaskan pegangan di tangannya ditambah tatapan Son yang terasa begitu dingin menghunjam dan menggetarkan hatinya


Aleena yang biasanya usil dan nakal tiba-tiba merasa tak berkutik di depan Son yang berdiri dengan badan tegak dan wajah tegas. Aduuuh... mau sampai kapan dia memegang tanganku? pekik hati Aleena  berusaha menahan gejolak di hatinya.


Memang, Aleena merasa senang Son memegang pergelangan tangannya. Mulai dari tepi ayunan tadi sampai ke bawah pohon kini. Dia juga senang bisa berdiri dalam jarak dekat berduaan saja dengan Son di bawah pohon. Bahkan dia merasa jatuh cinta pada pandangan Son yang dingin menghunjam ke wajahnya. Hatinya terpesona. Karakter Son yang kuat dan tegas amat disukainya. Itu cocok bagi laki-laki jantan seperti Son. Walau Aleena tahu Son memiliki hati yang lembut dan tak mungkin menyakitinya, namun mau tak mau Aleena merasa hatinya bergejolak juga ditatap Son demikian rupa.


Keadaan yang sedang berlangsung antara dirinya dan Son saat ini terasa begitu romantis. Sebenarnya Aleena ingin momen seperti ini bisa berlangsung lebih lama lagi. Aleena tak ingin segera mengakhirinya kalau saja dia mampu menahan gejolak di hatinya dan keringat dingin di tengkuknya.


"Apa maumu? Mau ke mana kamu?" ulang Son seperti sedang memegang tangan seorang tahanan yang siap-siap dimasukkannya ke dalam penjara.


"Aaa... a-pa maksudmu?" balas Aleena gugup. "Aaa... a-ku nggak mau apa-apa."


"Benar?" selidik Son dengan mata curiga.


"Ya benarlah!" jawab Aleena cepat. "Memangnya aku bisa mau apa darimu?" dia menemukan kembali kata-katanya yang lancar.


"Hmm... sekarang kamu mau ke mana?" tanya Son lagi seolah berjaga-jaga kalau Aleena akan tiba-tiba berlari ke arah ayunan lagi menjumpai teman-temannya setelah dia melepaskan pegangannya.


"Memangnya aku bisa ke mana, Son?" tanya Aleena balik. "Kamu memegang tanganku begitu erat. Aku tidak bisa ke mana-mana," Aleena berucap sambil matanya melirik ke arah pergelangan tangannya yang masih digenggam Son. Dia mengangkat kepalanya lalu menatap Son kembali sambil mengeleng-gelengkan kepala.


Son seperti baru tersadar kalau dia masih memegang pergelangan tangan Aleena. Tadi secara insting dia menahan tangan Aleena supaya tidak ke mana-mana sebelum dia mengetahui dengan jelas apa maksud Aleena mencarinya sampai ke rumah.


Tampaknya Aleena memang tidak bermaksud buruk. Dia hanya ingin menjumpai Son sebagai teman dan karena seperti katanya tadi dia rindu.


Kalau memang benar begitu maka Son tidak perlu khawatir yang berlebihan. Berpikir demikian, Son pun melepaskan pegangannya di pergelangan tangan Aleena.


* * *